Pada
hakikatnya dua mahluk ini telah menikmati penciptakaan mereka dengan menempati
syurga Allah. Tapi karena keingkaran Nabi adam atas godaan syaitan menjadikan
kedua mahkluk ini terusir dari syurga. Nabi adam terusir karena telah melanggar
larangan Allah untuk tidak memakan buah khuldi. Syaitan pun terusir karena
bujuk rayunya telah menjerumuskan Nabi Adam. Di samping itu juga, syaitan
melakukan bujuk rayu kepada Nabi Adam karena iri dengan Nabi Adam. Syaitan dan
malaikat diperintah untuk sujud kepada Nabi Adam, tapi syaitan enggan karena
menganggap dirinya lebih mulia dari Nabi Adam yang hanya diciptakan dari tanah
sedangkan syaitan dari api. Sebagaimana yang tergambar dalam firman Allah dalam
surah al-‘Araf ayat 12:
قَالَ
مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ
خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
.
“...Allah
berfirman, “apa yang menghalalimu untuk bersujud (kepada adam) pada saat saya
memmerintahkanmu”. (syaitan) berkata, “ saya lebih baik darinya (adam), engkau
menciptakanku dari api dan engkau menciptakannya dari tanah”.
Keangkuhan
syaitan dengan asal-muasal penciptaannya membuatnya terlaknat dan keluar dari
syurga. Syaitan pun menganggap tidak menjadi masalah ia terlaknat dan keluar
dari syurga asalkan ia diberikan kuasa untuk menggoda anak cucu adam (manusia).
Sebuah transaksi yang diterima oleh Allah sebagai ujian untuk manusia sampai
akhir zaman.
Syaitan
dan manusia (adam dan hawa) pun menempati bumi dan mereka bersaing untuk
menjerumuskan atau menjadikan mansuai baik. Anak cucu adam berkembang sebagai
manusia yang mengatur dunia. Karena itu menjadi
tugas pokok manusia setelah keluar dari syurga, menjadi khalifah di muka
bumi. Sedangkan syaitan dengan anak keturunannya sampai jin pun berkembang
dalam alam ghaib mereka dan berusaha terus untuk menjerumuskan manusia ke
jurang kekafiran dan pengingkaran kepada Allah agar dapat menyertai dan
menemani mereka menjadi bahan bakar api neraka kelas.
Sebagai
manifestasi dari syitan yang terlaknat, jin menjelma sebagai perpanjangantangan
dari syaitan untuk menggoda manusia. Walaupun mereka juga mempunyai beban yang
sama dengan manusia untuk beribadah kepada Allah, artinya mereka ada yang kafir
dan ada yang muslim. Tapi kebanyakan jin mengajak pada kefujuran dan menjauhkan
hamba dari Allah subhanahuwata’la. Mereka pun dicap sebagai penggoda dan
perusak tatanan kehidupan manusia di dunia, terlepas mereka baik atau buruk.
Sebagaimana yang ditunjukkan oleh sebagian manusia yang berwala’ kepada “jin
baik” dan “jin buruk”, ilmu putih dan ilmu hitam. Dalam pandangan ulama’ tetap
tidak dibenarkan, karena posisi manusia sebagai khalifah, bukan budak dari jin
baik atau buruk.
Tapi,
sudah menjadi sumpah nenek moyang mereka untuk menggoda manusia. Jin berusaha
menjadikan diri mereka dibutuhkan oleh manusia, terutama pada masalah-masalah
ghaib dan rahasia Allah subhanahuwata’ala. Dengan berita bohong yang dikarang
jin atau berita benar yang mereka curi dari langit.
Alam
ghaib yang mereka tempati menjadi ruang hampa yang tidak dapat dijangkau oleh
manusia bentuk dan hakikatnya. Bahkan di relung-relung jasad dan aliran darah
manusia, jin dapat bertahan hidup beribu-ribu tahun lamanya dan bermasyarakat
dalam tubuh manusia yang fujur. Wajar apabila manusia yang bersahabat dengan
jin, kemudian tidak rela ditinggalkan oleh sang empu dan menjadikan tubuh kaku
manusia sebagai mainan untuk menakut-nakuti manusia.
Karena
sumpah yang sudah diucapkan oleh nenek moyang mereka, menjadikan jin tidak
terlepas dari manusia dan benda yang ada di sekitar manusia. Dalam diri
manusia, hampir tidak seorang pun yang terlepas dari gangguan jin. Karena ia
mencari celah-celah kefujuran manusia untuk masuk dan mendiami tubuh manusia,
dan hidup dalam aliran darah. Orang dapat merasakan dirinya saat ini melenceng
dari agama, maka itu pengaruh kuat dari jin yang ada dalam dirinya. Dan saat ia
melakukan kebajikan, maka pengaruh malaikat dan kebaikan dalam dirinya akan
terasa juga.
Dalam
amal perbuatan sehari-hari, setiap orang dapat merasakan tarik menarik dan
tarik ulur kebaikan dan keburukan yang ada dalam dirinya. Jika kebaikannya
mampu mengalahkan keburukan yang ada dalam dirinya, maka ia akan selamat. Tapi
jika kebaikannya tidak mampu menutupi keburukannya, maka alamat ia akan menjadi
orang munafik atau fasiq dan bahkan bisa menjurus kepada kekafiran.
Kadang
usaha melakukan kebaikan sering diselimuti gangguan-gangguan syaitan. Seperti
waktu shalat tiba, rasa malas, ngantuk, pekerjaan tidak dapat ditinggalkan,
urusan penting, buang hajat dan lain sebagainya membuat seseorang lalai dan
tidak shalat. Lebih parah lagi ada yang beralasan waktu shalat masih panjang,
ia pun dilalaikan oleh syaitan dan shalat pun terlewatkan.
Untuk
merubah potensi-potensi kefujuran yang ada dalam diri kita, harus dengan
menghilangkan sedikit demi sedikit qarin (teman/jin) yang ada dalam
tubuh kita. Cara yang paling sederhana adalah membuatnya tidak betah menempati
tubuh dengan berbuat kebaikan dan istiqomah di dalam menjalankannya serta yang
paling mudah adalah membaca al-Qur’an sebanyak-banyaknya dalam keadaan suci.
Terutama surah al-Baqarah, karena jin ifrit akan lari terbirit-birit saat dibacaan
surah al-Baqarah atau ayat-ayat ruqyah lainnya. Tapi tidak hanya sebatas
ayat-ayat tertentu, semua isi al-qur’an dibaca menjadi zikir harian. Dengan
kebaikan yang dilakukan, sedikit-demi sedikit pengaruh jin dalam diri akan
menghilang dengan sendirinya. Dan semuanya dapat kita takar dengan diri kita
sendiri, apakah kebaikan kita bertambah atau malah keburukan semakin bertambah.
Potensi-potensi
adanya qarin dalam diri manusia jangan sampai diperkuat dengan meletakkan qarin
(jin) dengan sengaja dalam dalam, baik dalam bentuk ilmu kebal, sihir, ilmu
menghilang, ilmu terbang dan lain sebagainya. Maka kalau itu yang terjadi, akan
sangat susah untuk mengeluarkannya, karena darah, daging, dan tulang sudah
menjadi satu kesatuan.
Tags
RENUNGAN QAILULAH
