Keutamaan yang kedua dari puasa adalah ia dapat
memasukkan orang yang berpuasa ke syurga. Seorang hamba sudah diberian taufiq
dan hidayah untuk dia taat kepada Allah dan ia mengetahui bahwa puasa dapat
menjauhkan orang yang melaksnakannya dari api neraka. Jadi, dia mendapatan
cinta dari syurga. Dari Abi umamah radiyallahu anhu berkata, saya
mengatakan, “ ya Rasulullah, tunjukkan aku satu amalan yang memasukkan aku ke
dalam syurga”. Rasulullah bersabda, “ hendaklah kamu berpuasa, tidak ada yang
sebandingg dengannya.
Keutamaan yang ketiga bagi orang yang berpuasa Allah
akan memberikan ganjaran pahala yang tidak terkira bagi orang yang berpuasa. Ini
disebutkan dalam hadis panjang pada keutamaan puasa berikutnya.
Keutamaan yang keempat adalah orang yang berpuasa
mendapatkan dua kesenangan yaitu kesenangan saat berbuka puasa dan saat ia
berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala.
Keutamaan yang kelima adalah bau mulut orang yang
berpuasa lebih harum dan lebih baik di sisi Allah subhanahu wata’la dari
bau minyak wangi misk. Keutamaan yang ketiga, keempat dan kelima, tertuang
dalam hadis ;
عن أبي هريرة رضي الله
عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (قال الله عزوجل: كل عمل بن آدم له إلا
الصيام؛ فإنه لي وأنا أجزي به، والصيام جنّة، وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث،
ولا يصخب، فإن سابّه أحد أو قاتله فليقل: إني امرؤ صائم، والذي نفس محمد بيده لخلوف
فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك، للصائم فرحتان يفرحهما: إذا أفطر فرح، وإذا
لقي ربه فرح بصومه) رواه البخاري
dari
Abi Hurairah radiyallahu anhu berkata, “ Rasulullah Sallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Allah subhanahu wata’la berfirman, “ semua amal anak adam
baginya kecuali puasa, sesungguhnya puasa bagiku dan aku yang akan memberikan
ganjarannya.” Puasa adalah perisai,
apabila salah seorang berpuasa maka janganlah ia berkata-kata yang kotor dan menghardik…Apabila
seorang mengumpat dan memeranginya, maka hendaklah ia mengatakan,” sesunggunya
aku sedang berpuasa. Dan demi jiwa Muhammad di tangannya, sungguh bau mulut
orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak wangi misk. Bagi
orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, Apabila ia berbuka puasa ia
gembira, dan apabila ia bertemu dengan rabbanya ia gembira dengan puasa yang ia
lakukan.
Dalam sebuah riwayat dari Imam Bukhari disebutkan, “
ia meninggalkan makanan, minuman, dan syhawatnya semata-mata demi aku. Puasa
itu untukku dan aku sendiri yang memberian ganjaran, dan satu kebaikan
dilipatgandakan sepuluh kali yang semisalnya.
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan, “ setiap amal
perbuatan anak Adam akan dilipatgandakan, satu kebaikan dengan sepuluh kali
lipat yang semisalnya, bahkan sampai tujuh ratus kali lipat, Allah subhanahu
wata’ala berfirman “ kecuali puasa maka sesungguhnya ia bagiku dan aku yang
akan memberikan ganjaran. Ia meninggalkan syahwat makanan demi semata-mata demi
aku. Bagi orang yang berpuasa mendapatan dua kesenangan, kesennagan saat ia
berbuka dan kesenangan saat ia bertemu dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulut orang
yang berpuasa di sisi Allah lebih harum
dari minyak wangi misk.
Keutaman yang keenam adalah puasa dan al-Qur’an akan
memberikan syafa’at bagi orang yang melakukannya. Rasulullah saallahu alaihi wa
sallam bersabda,
الصِّيَامُ
وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، يَقُولُ الصِّيَامُ :
أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ
. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ : مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ . قَالَ : فَيُشَفَّعَانِ
“Puasa dan Al-Qur’an memberikan syafaat kepada
pelakunya di hari kiamat. Shaum akan berkata nanti pada hari kiamat: Ya Allah,
aku telah mencegah ia dari makan dan syahwatnya, tolong berikan syafaat untukku
padanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka
izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi
syafa’at.”
Keutaman yang ketujuh adalah puasa dapat menggugurkan
dosa-dosa. Di antara fadilah tersendiri dari puasa adalah Allah sudah menjadikan
sebagai kafarah tidak mencukur rambut kepala dalam ihram karena sakit atau ada
sakit di kepala.atau membunuh kafir mu’ahad, orang banci, atau membunuh hewan
saat ihram atau zihar. Ini sudah dijelaskan semua dalam ayat suci al Quran
surah al- Baqarah ayat 196
وَأَتِمُّوا
الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ۚ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ
الْهَدْيِ ۖ وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ۚ
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ
صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ ۚ فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ
بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۚ فَمَنْ لَمْ
يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ ۗ
تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ۗ ذَٰلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي
الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“dan sempurnakanlah ibadah haji dan
'umrah karena Allah. jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena
sakit), Maka (sembelihlah) korban yang
mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di
tempat penyembelihannya. jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di
kepalanya (lalu ia bercukur), Maka wajiblah atasnya berfid-yah, Yaitu: berpuasa
atau bersedekah atau berkorban. apabila kamu telah (merasa) aman, Maka bagi
siapa yang ingin mengerjakan 'umrah sebelum haji (di dalam bulan haji),
(wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. tetapi jika ia tidak
menemukan (binatang korban atau tidak mampu), Maka wajib berpuasa tiga hari
dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah
sepuluh (hari) yang sempurna. demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi
orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram
(orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). dan bertakwalah kepada Allah dan
ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.
Dalam surah al Nisa’ ayat 92 juga disebutkan;
وَمَا
كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً ۚ وَمَنْ قَتَلَ
مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ
أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا ۚ فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ
وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ ۖ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ
بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ
وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ
مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Dan tidak layak bagi seorang mukmin
membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja),
dan Barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia
memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si
terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. jika ia (si
terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada Perjanjian (damai) antara mereka dengan
kamu, Maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada
keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman.
Barangsiapa yang tidak memperolehnya , Maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa
dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. dan adalah
Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
لَا
يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا
عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ ۖ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ
أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ
ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّارَةُ
أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ
يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Allah
tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk
bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu
sengaja, Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi Makan sepuluh
orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu,
atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang
siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga
hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah
(dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan
kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya). (al-Maidah 89)
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ
قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ
يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ
طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ
عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ
وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ
Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu
sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka
dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang
dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad
yang dibawa sampai ke Ka'bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi
makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan
itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan
apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah
akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. (al-Maidah 95)
Dalam surah al-Mujadalah ayat 3-4 juga disebutkan;
“Orang-orang yang menzhihar isteri
mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, Maka
(wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu
bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha mengetahui
apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), Maka (wajib
atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka
siapa yang tidak Kuasa (wajiblah atasnya) memberi Makan enam puluh orang
miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Itulah
hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih”.
Selain puasa, sadaqah juga bisa menjadi
penghapus/penebus fitnah (penderitaan) seseorang pada harta keluarga dan
tetanganya.
Dari Huzaifah ibn al Yamani radiayallahu anhu
berkata, “Rasulullah bersabda,” Fitnah
(penderitaan) seorang pada keluarga dan harta dan tetangganya dapat ditebus
dengan shalat, puasa, dan sadaqah.
Keutamaan puasa yang terahir adalah dikhususkannya
satu pintu bagi orang yang berpuasa yaitu pintu al-Rayyan. Dalam sebuah hadis
disebutkan
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ
بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ
فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ
فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
"Sesungguhnya di surga ada pintu yang dinamakan
Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa di hari kiamat masuk dari pintu itu. Tidak
dibolehkan seorang pun memasukinya selain meraka. Lalu dikatakan, ‘Dimana
orang-orang yang berpuasa?' Mereka pun bangkit, tidak ada seorang pun yang
masuk kecuali dari mereka. Ketika mereka telah masuk, (pintunya) ditutup dan
tidak seorang pun masuk lagi”.
(disarikan dari Kitab Sifatu Saumi al-Nabi fi
Ramadhan, Salim bin Aid al Hilali dan Ali Hasan Ali Abdul Hamid)
Tags
AWWALU AL-DHUHA
