Literatur tentang sejarah kapan dimulai puasa tidak banyak ditemukan.
Tapi dalam syari’at-syari’at umat terdahulu sudah melakukan ritual puasa dengan
tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala sudah dilakukan.
Sebagaimana berita di dalam al-qur’an dalam surah al-baqarah ayat 183 “wahai
orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu puasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu..” Ini menunjukkan bahwa penganut agama samawi
terdahulu juga telah diwajibkan untuk berpuasa, tapi waktu dan tata cara yang
sedikit berbeda.
Tidak
hanya sekedar agama samawi. Dalam sejarah perkembangan manusia. Untuk mencapai
sebuah kesucian dan kemurniaan hati, mereka melakukan ritual puasa, bahkan
mereka tidak makan minum sama sekali agar benar-benar sempurna.
Sedangkan
dalam syar’at umat terdahulu dengan agama yang sudah diturunkan oleh Allah
seperti puasa Nabi Daud. Di mana tata caranya adalah dengan puasa sehari dan
tidak puasa sehari. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Nabi dalam hadisnya:
إن أحب الصيام إلى الله صيام داود وأحب الصلاة إلى الله صلاة داود عليه السلام، كان ينام نصف الليل ويقوم ثلثه وينام سدسه، وكان يصوم يوماً ويفطر يوماً
Artinya: Sesungguhnya
puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Daud dan shalat yang paling
disukai Allah adalah shalat daud ‘alaihi al salam. Dia tidur pada pertengahan
malam dan bangun pada sepertiga malam dan tidur kembali pada seperenam malam.
Dan dia puasa sehari dan berbuka (tidak puasa) sehari.
Puasa Daud dan tata cara shalat yang dilakukan oleh nabi Daud sampai sekarang dilakukan oleh umat Islam dan masuk sebagai bagian ibadah yang dianjurkan dalam agama.
Selain puasa Nabi Daud, orang-orang terdahulu juga melaksanakan puasa ‘Asyura’. orang-orang yahudi telah mengenal puasa ini dan menjadi syar’at bagi mereka terdahulu. Dalam sebuah hadis nabi disebutkan:
Dari Ibn Abbas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Madinah, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura . Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari di mana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.
Dalam perjalanannya, puasa secara turun temurun masih menjadi kewajiban umat selanjutnya, seperti Agama Nasrani juga menjalankan puasa yang dijalankan oleh orang-orang yahudi seperti puasa Asyura’. sebagaimana dalam hadis nabi disebutkan
ففي الصحيح عن إسمعيل بن أمية أنه سمع أبا غطفان بن طريف المري يقول: سمعت عبد الله بن عباس رضي الله عنهما يقول: ( حين صام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عاشوراء، وأمر بصيامه، قالوا يا رسول الله: إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى، وفي لفظ أبو داود: تصومه اليهود والنصارى، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: فإذا كان العام المقبل إن شاء الله صمنا اليوم التاسع، قال: فلم يأت العام المقبل حتى توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم ) رواه مسلم و أبو داود .
Artinya: Di dalam al shahih dari Isma’il ibn umayyah. bahwasanya beliau mendengar Abu Ghatfan ibn Tharif al Murry berkata: Saya telah mendengar Abdullah ibn Abbas radiyallahu anhuma berkata: ketika Rasulullah sallalhu ‘alaihi wasallam berpuasa hari asyura’ dan memerintahkan untuk berpuasa. para sahabat bertanya, wahai Rasulullah sesungguhnya hari itu hari yang diangunggkan oleh orang yahudi dan Nasrani. Dalam lafaz Abu dawud, “berpuasa padanya orang-orang yahudi dan Nasrani. Nabi kemudian menjawab: apabila pada tahun akan datang, Insyallah kita akan berpuasa pada hari itu al-Tasi’ (tasu’a). Berkata: tidak sampai tahun akan datang sampai Rasulullah Sallahu ‘alahi wa sallam Wafat.
Orang-orang
Nasrani dalam sejarahnya, tidak hanya sekedar puasa pada hari ‘Asyura’. Tapi
dalam perkembangannya setelah nabi Isa diangkat oleh Allah ke langit, para
rahib (pendeta) mensyari’atkan untuk puasa 40 hari mengikuti al-masih (nabi
isa) sebelum beliau dianggat menjadi nabi.
Kemudian
pada masa jahiliyah sebelum datangnya Islam, mereka menjalankan puasa seperti
puasa Asyura’ sebagaimana dalam hadis nabi. Dari Aisyah Radiyallahu Anha
berkata: Puasa Asyura’ adalah hari berpuasanya Quraysh pada masa jahiliyah.
Pada saat Nabi sallahu ‘alahi wasallam berada di Madinah, beliau
berpuasa ‘Asyura, dan beliau memerintahkan untuk berpuasa ‘Aasyura. Pada saat
telah difardukannya Ramadhan, maka itu yang menjadi kewajiban dan meninggalkan
‘Asyura (sebagai kewajiban). Barang siapa ingin puasa (Asyura’) ia berpuasa dan
barang siapa yang tidak ingin berpuasa, tinggalkan. (Riwayat Ahmad dan Abu
dawud dan disahihkan oleh Alabni).
Jadi
dalam perkembangannya puasa yang diwajibkan oleh Allah melalui para Nabi dan
Agama samawi yang bawa oleh para Nabi adalah Puasa Dawud, Puasa Asyura’, dan
Puasa 40 hari yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani. Tapi Asyura’ menjadi
puasa yang terus dijalankan oleh umat terdahulu dari semua agama samawi. Tapi
kemudian setelah datang agama islam, puasa Nabi daud dan puasa Asyura’ tetap
dijalankan sebagai syari’at dalam agama Islam, tapi bukan menjadi sebuah kewajiban,
karena dalam Islam setelah Nabi hijrah ke madinah diwajibkan puasa pada Bulan
Ramadhan.
Sampai
saat ini puasa yang wajib dilaksanakan adalah puasa di Bulan Ramadhan.
Sedangkan puasa lainnya hanya sebagai nafilah (sunnah) yang dianjurkan. Kecuali
beberapa puasa yang posisi wajib karena beberapa sebab seperti puasa Nadzar dan
puasa Qada’ (mengganti). Semoga bermanfaat, wallahu ‘a’lam bi al shawab.
Tags
Fiqih