Hampir
3 bulan lamanya saya tidak pernah mendengar suara adzan dari sebuah
masjid di komplek perumahan Dinoyo, tidak jauh dari tempat kos. Suara
khas adzannya memberikan isyarat kepada saya setiap waktu shalat.
Karena suara-suara adzan banyak terdengar di sekitar kompleks dari
masjid komplek lain atau mushalla, jadi tidak membingungkan saya saat
berangkat untuk shalat, tidak terlalu cepat dan tidak sangat
terlambat.
Ketiadaan
suara adzan tersebut beberapa bulan terakhir membuat saya sering
tidak dapat membedakan, mana suara adzan dari masjid komplek dengan
dari masjid lainnya. Kadang di masjid lain sudah adzan, tapi masjid
kompleks belum adzan. Kadang masjid lain masih membaca shalawat, tapi
di masjid kompleks sudah melaksanakan shalat. Keadaan seperti itu
membuat saya sering terlamabat shalat berjama’ah alias masbuk dan
tidak jarang juga shalat jama’ah sudah selesai. Untuk membuat
jama’ah baru, tidak ada orang. Jadi harus menjadi makmun pada orang
yang masbuk. Lebih parah lagi, semua jama’ah sudah selesai shalat
dan tidak ada orang lagi yang shalat, sehingga shalat pun munfarid.
Maklum jama’ah shalat di masjid kompleks tidak banyak, hanya
beberapa orang dan bahkan satu shaf pun tidak sampai.
Yang
menjadi masalah adalah, tidak adanya takmir masjid yang adzan setiap
waktu shalat seperti sebelumnya, membaut waktu adzan di masjid tidak
teratur. Siapa yang datang terlebih dahulu, dialah yang adzan. Apakah
orang di sekitar kompleks masjid atau anak-anak yang kos di sekitar
kompleks.
Memamg
masjid yang kami tempati untuk shalat bukan masjid komplek perumahan,
tapi masjid sebuah komplek yayasan WH, jadi tempatnya tidak berada di
pinggir jalan, yang orang dapat masuk sembarangan. Rumah sekitar
masjid hanya dihuni oleh keluarga yayasan atau mereka yang terlibat
di dalamnya. Tidak ada pengurus takmir masjid apalagi struktur
pengurus remaja masjid. Kalau boleh dikatakan, masjid ini sebenarnya
hanya diepruntukkan bagi siswa dan orang-orang yang berada di sekitar
kompleks yayasan. Tapi seperti di atas, tidak adanya takmir yang
biasa adzan, membuat jadwal adzan tidak teratur. Lebih parah lagi
adalah tidak ada orang yang adzan sama sekali. saya sering menemukan
masjid dalam keadaan kosong melompong tidak ada orang. Padahal di
masjid lain sudah adzan dan bahkan iqomah. Bukan tidak ada orang,
rumah-rumah di sekitar komplek masjid ada orang yang berkeliaran, dan
bahkan jama’ah dan imam yang biasa menjadi jama’ah shalat
terlihat di rumahnya.
Mereka
sepertinya menganggap panggilan adzan untuk shalat adalah pekerjaan
yang tidak terlalu baik atau rendah, sehingga mungkin salah satu di
antara mereka tidak ada yang adzzan saat waktu shalat. Atau mungkin
mereka menganggap panggilan adzan cukup dengan panggilan adzan di
masjid lain. Tapi kenapa mereka tidak naik ke masjid untuk shalat.
Beberapa kali memperhatikan kejadian yang sama, saya mengambil sebuah
kesimpulan bahwa mereka tidak akan keluar ke masjid, kecuali sudah
ada orang yang mengumandangkan adzan. Saya memaklumi, karena mereka
adalah orang-orang pembesar di yayasan WH, dan sebagian dari mereka
dipanggil dengan panggilan “kyai”. Tapi, bukan berarti menjadi
tukang adzan akan menjatuhkan martabat dan derajat. padahal itu
adalah perbuatan mulia, karena akan memanggil orang-orang untuk
melaksanakan shalat berjama’ah. bandingkan jika adzan tidak
dikumandangkan, orang-orang tidak ada penanda untuk shalat, dan
mereka pun akan shalat sendiri-sendiri.
Namun
saya sering bertanya-tanya dalam diri, kemana orang yang biasa
mengmandangkan adzan?. Apakah pergi ke suatu tempat dalam waktu yang
lama atau sedang tertimpa musibah?, karena hampir satu bulan lebih
tidak terlihat berjama’ah atau terlihat di sekitar komplek masjid.
Pada suatu jum’at, saat shalat jum’at terdengar samar-samar dari
salah seorang petugas shalat mengumumkan bahwa salah seorang keluarga
dari yayasan WH sedang tertimpa musibah menjalani operasi di daerah
probolinggo. Sudah hampi dua mingguan sakit dan akhirnya memutuskan
untuk operasi. Petugas meminta jama’ah shalat jum’at yang hadir
untuk membacakan al-fatihah, agar operasi yang dijalani berjalan
dengan lancar dan diberikan kesembuhan. Sesaat saya pun
berpikir,mungkin orang yang operasi itu adalah takmir yang biasa
adzan. Lama saya merenungkan, dan meyakini dengan pasti bahwa orang
yang diumumkan tadi adalah takmir masjid ini.
Setelah
itu, saya tidak lagi mempermasalhkan keadaan yang ada. Setiap waktu
shalat pun saya tidak lagi menunggu suara adzan dari masjid di
kompleks, karena biasanya orang yang adzan beda-beda. Jadi, saat
adzan dikumandangkan di masjid lain, saya langsung saja ke masjid.
Kadang-kadang tidak ada orang yang ditemukan, sehingga terpaksa
membuka pintu masjid terlebih dahulu. Adzan pun hanya sebatas
terdengar di dalam masjid, sebagai pertanda dan memnuhi syarat untuk
melaksankan shalat. Walaupun dengan adzan di masjid lain sudah
memenuhi syarat, hanya tinggal iqomah saja saat akan melaksanakan
shalat. Tapi kadang-kadang juga sering menunggu lama jama’ah dan
imam yang akan memimpin shalat. Sebenarnya siapa saja yang menjadi
imam bisa saja, tapi sebagai sebuah bentuk akhlak yang baik, imam
sebaiknya dengan pakaian yang mencerminkan imam, menggunakan peci dan
sarung, serta pakaian yang rapi. Saya pun bisa saja maju sebagai
imam, tapi karena lebih sering tidak pakai topi, jadi sebagai
penghormatan, mempersilahkan yang lebih rapi. Walapun kadang-kadang
imam yang dipersilahkan, bacaannya tidak karuan. Logat jawanya sangat
kental, membaca huruf-huruf tidak baik, apalagi panjang pendek
bacaan. Tapi mau gimana lagi, ikuti saja gerakan imam, asalkan
salahnya tidak terlalu parah.
Di
awal bulan Nopember, sekitar minggu pertama, saat shalat magrib. Saya
meliaht jama’ah shalat tidak sebanyak biasanya. Hampir tiga shaf
laki-laki dan 4 shaf perempuan di belakang. “ini jama’ah dari
mana?”, pikir saya sambil melihat-lihat kiri kanan. Karena imam
sudah takbir, saya langsung menyegerkan takbir dan mengikuti shalat
magrib dengan tenang. Selesai shalat dan membaca wirid, di shaf
pertama, saya melihat orang yang tampak mirip dengan orang yang biasa
adzan di masjid ini. Ia menggunakan pakaian serba putih serta peci
putih dan surban yang disempangkan di pundak. “mungkin saudaranya”
pikir saya lagi sambil terus membaca wirid. Setelah selesai membaca
subahanallah 33 kali, alhamdulillah 33 kali, allahu akbar 33 kali dan
ditambah la ila illa Allah satu kali, saya keluar dari masjid. Di
sebelah utara pojok masjid, terlihat keramaian orang dan di sebelah
selatan beberapa mobil berjejer terparkir dan beberapa sepeda motor.
Di depan pintu sebuah rumah, saya melihat sebuah spanduk kecil
bertuliskan, “ selamat datang, semoga menjadi haji yang mambrur”.
O…ternyata ada tasyakuran kedatangan jama’ah haji, pantesan
masjid ramai. Sambil terus berjalan, saya tidak terpkirkan apa-apa
lagi.
Pada
kesempatan shalat subuh, secara tidak sengaja, saya naik bersamaan ke
dalam masjid dengan orang yang biasa adzan. Tapi kali ini dia hanya
menggunakan topi putih dan membawa sorban, tidak seperti biasanya
hanya menggunakan topi hitam dan sajadah besar yang selalu ia bawa
saat shalat. Saya terus memperhatikan, shalat pun berdampingan dan
pada saat bersalaman, saya yakin kalau dia adalah orang yang biasa
adzan. Ternyata dia tidak pernah terlihat selama ini karena naik
haji. Alhamdulillah, saya pun berhadap dia mendapatkan haji yang
mabrur.
Dua,
tiga, empat hari berlalu setelah kedatangannya, hanya beberapa kali
saya mendengar kumadang adzannya yang khas, sebagai pertanda waktu
shalat di masjid komplek. Mulai hari itu, saya pun kembali menjadikan
ukuran adzan di masjid tersebut dengan mendengar suaranya. Tapu,
lagi-lagi saya sering tidak mendengarnya, lebih banyak orang lain
yang mengumndangkan adzan dan iqomah. Rasa penasaran saya pun
menggelitik, setiap waktu shalat saya terus memperhatikannya. Hampir
setiap waktu shlat ia ikut berjama’ah. Tapi kali ini tidak sering
berada di masjid lebih dahulu, malah sering naik ke masjid saat
iqomah dikumandangkan. Biasanya dulu, selalu berada di shaf pertama
di belakang imam, sekarang lebih sering berada di shalf belakang.
Lama
saya memperhatikan, hampir satu bulan sejak saya melihatnya. Keadaan
seperti sebelumnya masih saja berlangsung. Adzan akan dikumandngkan
pada saat siapa yang lebih dahulu ke masjid. “kok…sama saja
seperti kemarin”, cloteh saya dalam hati, tapi tidak mempertanyakan
dan bertanya, hanya diam saja, membiarkan keadaan berjalan apa
adanya.
Dari
hari ke hari berlalu, keadaan sama saja seperti sebelumnya. Setelah
lama memperhatikan takmir yang pernah menjadi orang terdepan dalam
setiap waktu shalat. Saya selalu mendapatkan takmir ini masuk masjid
saat iqomah, itu berarti ia tidak pernah sama sekali adzan selama
ini, dan mungkin untuk selanjutnya. Shalat pun tidak pernah berada di
shaf pertama, kecuali jika jama’ahnya hanya satu shaf saja. Artinya
tidak pernah berada di belakang imam seperti dulu sebelum ia haji.
Saya pun mengambil kesimpulan sendiri, mungkin ia merasa gengsi
menjadi tukang adzan lagi, sedangkan ia sudah berstatus haji. Dan
merasa posisinya sama dengan orang-orang yang selama ini menjadi di
depan di sekitar lingkungan yayasan. Atau semestinya seperti
haji-haji yang lain, di mana mereka di lingkungannya menjadi orang
terdepan, paling tidak menjadi imam di masjid. Kedudukan, derajat,
dan martabatnya naik di lingkungan masyarakatnya. Menjadi orang yang
dituakan, sebagai pemimpin dan bukan menjadi pengikut atau bawahan.
Mungkin itu juga dalam perasaan takmir ini, “masa sudah haji masih
menjadi tukang adzan, paling tidak jadi imam”. Ah… tapi itu
prasangka saja, mudah-mudahan tentunya bukan sebenarnya dan hanya
beberapa saat saja. Karena masih suasana haji, seiring dengan
perjalanan waktu akan kembali seperti sediakala atau lebih baik.
Wallahu
‘A’alm bi al-Shawab
Tags
RENUNGAN QAILULAH