Pages

Subscribe:

Kamis, 13 Desember 2012

SETELAH HAJI, NAIK DERAJAT

Hampir 3 bulan lamanya saya tidak pernah mendengar suara adzan dari sebuah masjid di komplek perumahan Dinoyo, tidak jauh dari tempat kos. Suara khas adzannya memberikan isyarat kepada saya setiap waktu shalat. Karena suara-suara adzan banyak terdengar di sekitar kompleks dari masjid komplek lain atau mushalla, jadi tidak membingungkan saya saat berangkat untuk shalat, tidak terlalu cepat dan tidak sangat terlambat.
Ketiadaan suara adzan tersebut beberapa bulan terakhir membuat saya sering tidak dapat membedakan, mana suara adzan dari masjid komplek dengan dari masjid lainnya. Kadang di masjid lain sudah adzan, tapi masjid kompleks belum adzan. Kadang masjid lain masih membaca shalawat, tapi di masjid kompleks sudah melaksanakan shalat. Keadaan seperti itu membuat saya sering terlamabat shalat berjama’ah alias masbuk dan tidak jarang juga shalat jama’ah sudah selesai. Untuk membuat jama’ah baru, tidak ada orang. Jadi harus menjadi makmun pada orang yang masbuk. Lebih parah lagi, semua jama’ah sudah selesai shalat dan tidak ada orang lagi yang shalat, sehingga shalat pun munfarid. Maklum jama’ah shalat di masjid kompleks tidak banyak, hanya beberapa orang dan bahkan satu shaf pun tidak sampai.
Yang menjadi masalah adalah, tidak adanya takmir masjid yang adzan setiap waktu shalat seperti sebelumnya, membaut waktu adzan di masjid tidak teratur. Siapa yang datang terlebih dahulu, dialah yang adzan. Apakah orang di sekitar kompleks masjid atau anak-anak yang kos di sekitar kompleks. 
 
Memamg masjid yang kami tempati untuk shalat bukan masjid komplek perumahan, tapi masjid sebuah komplek yayasan WH, jadi tempatnya tidak berada di pinggir jalan, yang orang dapat masuk sembarangan. Rumah sekitar masjid hanya dihuni oleh keluarga yayasan atau mereka yang terlibat di dalamnya. Tidak ada pengurus takmir masjid apalagi struktur pengurus remaja masjid. Kalau boleh dikatakan, masjid ini sebenarnya hanya diepruntukkan bagi siswa dan orang-orang yang berada di sekitar kompleks yayasan. Tapi seperti di atas, tidak adanya takmir yang biasa adzan, membuat jadwal adzan tidak teratur. Lebih parah lagi adalah tidak ada orang yang adzan sama sekali. saya sering menemukan masjid dalam keadaan kosong melompong tidak ada orang. Padahal di masjid lain sudah adzan dan bahkan iqomah. Bukan tidak ada orang, rumah-rumah di sekitar komplek masjid ada orang yang berkeliaran, dan bahkan jama’ah dan imam yang biasa menjadi jama’ah shalat terlihat di rumahnya.
Mereka sepertinya menganggap panggilan adzan untuk shalat adalah pekerjaan yang tidak terlalu baik atau rendah, sehingga mungkin salah satu di antara mereka tidak ada yang adzzan saat waktu shalat. Atau mungkin mereka menganggap panggilan adzan cukup dengan panggilan adzan di masjid lain. Tapi kenapa mereka tidak naik ke masjid untuk shalat. Beberapa kali memperhatikan kejadian yang sama, saya mengambil sebuah kesimpulan bahwa mereka tidak akan keluar ke masjid, kecuali sudah ada orang yang mengumandangkan adzan. Saya memaklumi, karena mereka adalah orang-orang pembesar di yayasan WH, dan sebagian dari mereka dipanggil dengan panggilan “kyai”. Tapi, bukan berarti menjadi tukang adzan akan menjatuhkan martabat dan derajat. padahal itu adalah perbuatan mulia, karena akan memanggil orang-orang untuk melaksanakan shalat berjama’ah. bandingkan jika adzan tidak dikumandangkan, orang-orang tidak ada penanda untuk shalat, dan mereka pun akan shalat sendiri-sendiri.
Namun saya sering bertanya-tanya dalam diri, kemana orang yang biasa mengmandangkan adzan?. Apakah pergi ke suatu tempat dalam waktu yang lama atau sedang tertimpa musibah?, karena hampir satu bulan lebih tidak terlihat berjama’ah atau terlihat di sekitar komplek masjid. Pada suatu jum’at, saat shalat jum’at terdengar samar-samar dari salah seorang petugas shalat mengumumkan bahwa salah seorang keluarga dari yayasan WH sedang tertimpa musibah menjalani operasi di daerah probolinggo. Sudah hampi dua mingguan sakit dan akhirnya memutuskan untuk operasi. Petugas meminta jama’ah shalat jum’at yang hadir untuk membacakan al-fatihah, agar operasi yang dijalani berjalan dengan lancar dan diberikan kesembuhan. Sesaat saya pun berpikir,mungkin orang yang operasi itu adalah takmir yang biasa adzan. Lama saya merenungkan, dan meyakini dengan pasti bahwa orang yang diumumkan tadi adalah takmir masjid ini.
Setelah itu, saya tidak lagi mempermasalhkan keadaan yang ada. Setiap waktu shalat pun saya tidak lagi menunggu suara adzan dari masjid di kompleks, karena biasanya orang yang adzan beda-beda. Jadi, saat adzan dikumandangkan di masjid lain, saya langsung saja ke masjid. Kadang-kadang tidak ada orang yang ditemukan, sehingga terpaksa membuka pintu masjid terlebih dahulu. Adzan pun hanya sebatas terdengar di dalam masjid, sebagai pertanda dan memnuhi syarat untuk melaksankan shalat. Walaupun dengan adzan di masjid lain sudah memenuhi syarat, hanya tinggal iqomah saja saat akan melaksanakan shalat. Tapi kadang-kadang juga sering menunggu lama jama’ah dan imam yang akan memimpin shalat. Sebenarnya siapa saja yang menjadi imam bisa saja, tapi sebagai sebuah bentuk akhlak yang baik, imam sebaiknya dengan pakaian yang mencerminkan imam, menggunakan peci dan sarung, serta pakaian yang rapi. Saya pun bisa saja maju sebagai imam, tapi karena lebih sering tidak pakai topi, jadi sebagai penghormatan, mempersilahkan yang lebih rapi. Walapun kadang-kadang imam yang dipersilahkan, bacaannya tidak karuan. Logat jawanya sangat kental, membaca huruf-huruf tidak baik, apalagi panjang pendek bacaan. Tapi mau gimana lagi, ikuti saja gerakan imam, asalkan salahnya tidak terlalu parah.
Di awal bulan Nopember, sekitar minggu pertama, saat shalat magrib. Saya meliaht jama’ah shalat tidak sebanyak biasanya. Hampir tiga shaf laki-laki dan 4 shaf perempuan di belakang. “ini jama’ah dari mana?”, pikir saya sambil melihat-lihat kiri kanan. Karena imam sudah takbir, saya langsung menyegerkan takbir dan mengikuti shalat magrib dengan tenang. Selesai shalat dan membaca wirid, di shaf pertama, saya melihat orang yang tampak mirip dengan orang yang biasa adzan di masjid ini. Ia menggunakan pakaian serba putih serta peci putih dan surban yang disempangkan di pundak. “mungkin saudaranya” pikir saya lagi sambil terus membaca wirid. Setelah selesai membaca subahanallah 33 kali, alhamdulillah 33 kali, allahu akbar 33 kali dan ditambah la ila illa Allah satu kali, saya keluar dari masjid. Di sebelah utara pojok masjid, terlihat keramaian orang dan di sebelah selatan beberapa mobil berjejer terparkir dan beberapa sepeda motor. Di depan pintu sebuah rumah, saya melihat sebuah spanduk kecil bertuliskan, “ selamat datang, semoga menjadi haji yang mambrur”. O…ternyata ada tasyakuran kedatangan jama’ah haji, pantesan masjid ramai. Sambil terus berjalan, saya tidak terpkirkan apa-apa lagi.
Pada kesempatan shalat subuh, secara tidak sengaja, saya naik bersamaan ke dalam masjid dengan orang yang biasa adzan. Tapi kali ini dia hanya menggunakan topi putih dan membawa sorban, tidak seperti biasanya hanya menggunakan topi hitam dan sajadah besar yang selalu ia bawa saat shalat. Saya terus memperhatikan, shalat pun berdampingan dan pada saat bersalaman, saya yakin kalau dia adalah orang yang biasa adzan. Ternyata dia tidak pernah terlihat selama ini karena naik haji. Alhamdulillah, saya pun berhadap dia mendapatkan haji yang mabrur.
Dua, tiga, empat hari berlalu setelah kedatangannya, hanya beberapa kali saya mendengar kumadang adzannya yang khas, sebagai pertanda waktu shalat di masjid komplek. Mulai hari itu, saya pun kembali menjadikan ukuran adzan di masjid tersebut dengan mendengar suaranya. Tapu, lagi-lagi saya sering tidak mendengarnya, lebih banyak orang lain yang mengumndangkan adzan dan iqomah. Rasa penasaran saya pun menggelitik, setiap waktu shalat saya terus memperhatikannya. Hampir setiap waktu shlat ia ikut berjama’ah. Tapi kali ini tidak sering berada di masjid lebih dahulu, malah sering naik ke masjid saat iqomah dikumandangkan. Biasanya dulu, selalu berada di shaf pertama di belakang imam, sekarang lebih sering berada di shalf belakang.
Lama saya memperhatikan, hampir satu bulan sejak saya melihatnya. Keadaan seperti sebelumnya masih saja berlangsung. Adzan akan dikumandngkan pada saat siapa yang lebih dahulu ke masjid. “kok…sama saja seperti kemarin”, cloteh saya dalam hati, tapi tidak mempertanyakan dan bertanya, hanya diam saja, membiarkan keadaan berjalan apa adanya.
Dari hari ke hari berlalu, keadaan sama saja seperti sebelumnya. Setelah lama memperhatikan takmir yang pernah menjadi orang terdepan dalam setiap waktu shalat. Saya selalu mendapatkan takmir ini masuk masjid saat iqomah, itu berarti ia tidak pernah sama sekali adzan selama ini, dan mungkin untuk selanjutnya. Shalat pun tidak pernah berada di shaf pertama, kecuali jika jama’ahnya hanya satu shaf saja. Artinya tidak pernah berada di belakang imam seperti dulu sebelum ia haji. Saya pun mengambil kesimpulan sendiri, mungkin ia merasa gengsi menjadi tukang adzan lagi, sedangkan ia sudah berstatus haji. Dan merasa posisinya sama dengan orang-orang yang selama ini menjadi di depan di sekitar lingkungan yayasan. Atau semestinya seperti haji-haji yang lain, di mana mereka di lingkungannya menjadi orang terdepan, paling tidak menjadi imam di masjid. Kedudukan, derajat, dan martabatnya naik di lingkungan masyarakatnya. Menjadi orang yang dituakan, sebagai pemimpin dan bukan menjadi pengikut atau bawahan. Mungkin itu juga dalam perasaan takmir ini, “masa sudah haji masih menjadi tukang adzan, paling tidak jadi imam”. Ah… tapi itu prasangka saja, mudah-mudahan tentunya bukan sebenarnya dan hanya beberapa saat saja. Karena masih suasana haji, seiring dengan perjalanan waktu akan kembali seperti sediakala atau lebih baik. Wallahu ‘A’alm bi al-Shawab


0 komentar: