اَلسَّلامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ
اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ
اَكْبَرْ
اَللهُ اَكْبَرْكَبِيْرًا، وَالْحَمْدُلله
ِكَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَاَصِيْلاَ
لآاِلَهَ اِلاَّ الله وَحْدَهُ، صَدَقَ
وَعْدَهْ، وَنَصَرَعَبْدَهْ، وَاَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلاَحْزَابَ وَحْدَهْ
لآاِلَهَ اِلاَّ الله وَلاَ نَعْبُدُ اِلاَّ
اِيَّاهْ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْن
لآاِلَهَ اِلاَّ الله ُوَالله ُاَكْبَرْ.
اَلله ُاَكْبَرْ وَلله ِالْحَمْد
نَحْمَدُالله حَقَّ حَمْدَهْ، وَنَشْكُرُهُ
حَقَّ شُكْرَهْ
اَشْهَدُاَنْ لآ اِلَهَ اِلاَّالله ُوَحْدَهُ
لاَشَرِيْكَ لَهْ
وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهْ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهْ
فَيَاعِبَادَالله، اُصِيْكُمْ وَاِيَّايَ
نَفْسِيْ بِتَقْوَالله وَطَاعَتِهْ
بِتَقْوَالله وَطَاعَتِهْ
Pendahuluan
Allahu Akbar, Allahu
Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.
Saudara-saudara kaum
Muslimin yang dimuliakan Allah.
dakwatuna.com - Di hari yang fitri ini, tak ada yang lebih indah untuk kita
lafadzkan selain untaian puja dan puji syukur kehadirat Allah Swt. Tuhan Maha
Bijaksana yang menganugerahi kita nikmat iman, Islam, dan ihsan. Dengan ketiga
nikmat itulah, kita memiliki kekuatan untuk menunaikan ibadah puasa sebulan
penuh. Ibadah yang berfungsi sebagai sarana pendidikan untuk mengasah
spritualitas kita menjadi pribadi bertakwa. Pribadi yang menyadari hakikat
dirinya sebagai hamba Tuhan, sekaligus menginsyafi tujuan penciptaannya di muka
bumi sebagai khalifah.
إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيْفَةً فِي اْلأَرْضِ
فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلاَ تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ
سَبِيْلِ اللهِ.
“Sungguh, Kami
menjadikanmu khalifah di muka bumi. Maka berilah keputusan (perkara) di antara
manusia dengan adil. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan
menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS Shaad [38]: 26)
Indikasi
Keberhasilan Puasa
Kesadaran ini merupakan tanda keberhasilan kita menjalankan
rangkaian ibadah di bulan Ramadhan. Puasa, tarawih, tadarus, zakat, dan sedekah
hakikatnya adalah media metamorfosa yang disediakan Allah untuk kita. Jika
semuanya dijalankan dengan baik dan penuh penghayatan, maka pada hari ini kita
akan menjadi sosok baru yang berbeda dari sebelumnya. Kita akan menjadi muslim
sejati yang bersih dari noda dosa sebagaimana dilukiskan Rasulullah melalui
sabdanya:
فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيْمَانًا
وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.
“Orang yang berpuasa
dan mendirikan shalat malam dengan dasar iman dan mengharapkan pahala dari
Allah, niscaya akan terbebas dari dosa-dosanya seperti ketika dilahirkan oleh
ibunya.” (HR Ibnu Majah dan
Ibnu Khuzaimah)
Namun sebaliknya, jika ibadah puasa dilaksanakan sekadar untuk
menggugurkan kewajiban, maka kita takkan mendapatkan keistimewaan Ramadhan.
Ibadah Ramadhan hanya akan menjadi rutinitas tahunan yang tak membawa perubahan
apa-apa. Ibadah puasa takkan memperbarui diri dan kepribadian kita menjadi
lebih baik. Janganlah sampai kita termasuk orang-orang yang rugi seperti
disabdakan Rasulullah Saw. dalam hadistnya:
رُبَّ صَائِمٌ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ
إِلاَّ الْجُوْعْ وَالْعَطَشْ.
”Berapa banyak orang
yang puasa tidak mendapat dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR Nasai
dan Ibnu Majah)
Kesuksesan menjalankan ibadah puasa bukan terletak pada
kekuatan menjauhi faktor yang membatalkannya sejak fajar menyingsing hingga
matahari terbenam. Tapi harus tercermin dari sikap dan perilaku kita sebelas
bulan berikutnya. Sejak hari ini sampai Ramadhan yang akan datang. Oleh sebab
itu, mari jadikan hari kemenangan ini sebagai momentum perubahan. Patrikan niat
untuk mengisi hari-hari di masa depan, dengan aktivitas multiguna yang bernilai
ibadah. Kuatkan tekad untuk menjadi pembaharu, lalu hadirkan perubahan positif
bagi keluarga, lingkungan dan masyarakat. Amien ya rabbal ‘alamien.
Shalawat dan Salam
Selanjutnya mari kita haturkan shalawat beriring salam kepada
Nabi Muhammad Saw. Nabi terakhir yang istikamah menyadarkan manusia bahwa
kedudukan mereka setara di depan Tuhan. Nabi, pemimpin, sekaligus kepala negara
yang disayangi kawan dan disegani lawan. Teladan ideal dalam berdemokrasi
dengan menyelesaikan semua masalah duniawi melalui musyawarah. Dialah kekasih
Tuhan yang sukses mengubah bangsa Arab yang jahiliah menjadi madaniah, yang
barbar menjadi penyabar, dan yang sektarian menjadi egalitarian.
Prestasi Rasulullah ini telah menginspirasi jutaan tokoh lain
di dunia dalam melakukan perubahan dan menggerakkan pembaruan. Jadi, adalah
sebuah keharusan bagi kita sebagai umatnya, untuk menjadikan beliau sebagai
rujukan utama dalam seluruh aspek kehidupan. Sifat, sikap, tindakan, dan ucapan
kita sebisa mungkin selaras dengan yang dicontohkan Rasulullah Saw. Karena
hanya dengan begitu kita akan diakui sebagai umatnya, sehingga berhak
mendapatkan syafaatnya pada hari Kiamat.
Realitas Pemimpin
Masa Kini
Allahu Akbar, Allahu
Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.
Saudara-saudara kaum
Muslimin yang dimuliakan Allah.
Sambil terus mengumandangkan kalimah-kalimah thayyibah
rasa syukur kita kepada Tuhan, khatib al-faqir ingin mengajak kita semua untuk
merenung sejenak. Merefleksikan situasi bangsa dan kondisi negara setelah 67
tahun merdeka. Refleksi ini menjadi penting mengingat Idul Fitri tahun ini,
kita rayakan selang dua hari setelah hari proklamasi kemerdekaan RI. Terlebih
lagi kita merayakannya di pelataran Masjid Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Salah seorang putra terbaik bangsa yang mengabdikan jiwa dan raganya untuk
kepentingan negara. Pemimpin sejati yang tak pernah lelah berjuang, meskipun
paru-parunya tinggal sebelah. Pribadi luhur yang benar-benar memahami amanah
kepemimpinan sebagaimana diinginkan Allah melalui firman-Nya ;
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ
خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوْا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللهَ
وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا.
“Dan hendaklah takut
kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka
anak-anak yang lemah, yang mereka khawatirkan (kesejahteraan)nya. Oleh sebab
itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang
benar.” (QS An-Nisa’ [4]:
9)
Figur seperti beliaulah yang dibutuhkan bangsa ini untuk
mengawal reformasi agar tidak salah arah. Aura ketulusan yang berpadu dengan
semangat juang dalam dirinya, terbukti ampuh menularkan energi positif kepada
seluruh pejuang kemerdekaan. Hasilnya, ia mampu menyatukan segenap komponen
bangsa, baik sipil maupun militer, untuk menggapai satu cita-cita mulia.
Mewujudkan Indonesia merdeka agar rakyatnya sejahtera.
Akhlak dan Perilaku
Politik Pemimpin
Ketulusan, semangat juang, serta militansi panglima besar
Soedirman bersama tokoh pendiri bangsa lainnya inilah yang sulit ditemui dalam
diri para pemimpin bangsa sekarang. Jadi wajar jika bangsa kita di usia
kemerdekaannya yang sudah mencapai 67 tahun ini, masih belum mampu mewujudkan
kesejahteraan rakyat. Sampai saat ini, masih banyak rakyat yang hidup bagaikan
masih di zaman penjajahan. Terlilit kemiskinan, terbelit kebodohan, dan
terjebak keterbelakangan. Kalah jauh dengan negara-negara tetangga yang baru
belakangan mengecap nikmat kemerdekaan.
Ironi ini tidak perlu terjadi kalau para pemimpin negeri ini
meniti jalan yang lurus. Memandang kepemimpinan sebagai media ibadah sekaligus
amanah suci yang harus ditunaikan dengan sepenuh hati.
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ
رَعِيَّتِهِ. اَْلاِ مَامُ رَاعٍ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.
“Kalian adalah
pemimpin, dan akan diminta bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang
penguasa adalah pemimpin, dan akan diminta bertanggung jawab atas rakyat yang
dipimpinnya.” (HR Muslim)
Nilai-nilai luhur inilah yang mulai tercerabut dari dalam jiwa
para pemimpin negeri, sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara tidak pernah
harmonis dan serasi. Kekacauan politik, ketidakadilan hukum, dan ketimpangan
ekonomi, adalah akibat dari perilaku politik para pemimpin pada umumnya.
Pemimpin yang lahir dari iklim politik yang tidak sehat atau tidak kondusif.
Dampak Kepemimpinan
Transaksional
Adalah fakta yang tak bisa dipungkiri bahwa banyak pemimpin
yang memperoleh jabatan strategis dari hasil transaksi politik, bukan dari visi
yang dimiliki, talenta yang mumpuni, atau jasa nyata yang dirasakan rakyat
biasa. Akibatnya, kepemimpinan berjalan statis tanpa kreasi inovatif bagi
perubahan dan pembaruan masyarakat. Kepemimpinan lebih terlihat sebagai
asesoris kekuasaan yang harus ada dalam suatu negara, dibanding wadah
menyalurkan ide positif dan gagasan konstruktif.
Banyak pemimpin yang mandul karena memang miskin visi,
sehingga tidak bisa berbuat banyak untuk meningkatkan taraf hidup rakyat.
Pemimpin seperti ini, cenderung sibuk membangun citra positif agar terus
mendapat kepercayaan masyarakat, ketimbang meningkatkan etos kerja membangun
bangsa. Menyimpang jauh dari teladan Rasulullah Saw. kala memimpin umat Islam
generasi pertama.
Yang lebih miris lagi, tidak sedikit pemimpin yang terbelenggu
dengan transaksi politiknya sendiri. Utang budi politik semacam inilah yang
menjadi pangkal merebaknya fenomena korupsi. Perhatian pemimpin tak lagi fokus
pada rakyat, tapi para kroni politiknya. Yang diperjuangkan bukan lagi
kepentingan masyarakat, tapi kepentingan diri dan kelompoknya. Pada titik
inilah, akhlak, etika dan moralitas politik hanya menjadi slogan yang sering
diucapkan, tanpa dipraktikkan. Padahal Allah Swt. berfirman dalam surah Shaff
ayat 2-3:
يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لِمَ
تَقُوْلُوْنَ مَالاَ تَفْعَلُوْنَ. كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللهِ أَنْ تَقُوْلُوْا مَالاَ تَفْعَلُوْنَ.
“Wahai orang-orang
beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar
kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS Shaff [61]: 2-3)
Revitalisasi Lembaga
Kepemimpinan
Allahu Akbar,
Allahhu Akabar, Allahu Akabar walillahilhamd
Saudara-saudara kaum
Muslimin yang dimuliakan Allah.
Agar kondisi bangsa kita tidak semakin terpuruk akibat tingkah
laku pemimpin yang tidak memiliki integritas, mari kita tandai peringatan
proklamasi kemerdekaan dan hari raya Idul Fitri ini sebagai momentum perubahan.
Perubahan pada pola pikir yang tercermin dalam pola hidup. Memang langkah ini
tidaklah mudah dilakukan. Perlu perjuangan kita semua secara istikamah dan
penuh kesungguhan. Terlebih karena kondisi kepemimpinan di negeri ini banyak
dilahirkan dari partai politik yang belum sepenuhnya berfungsi sebagai mesin
kepemimpinan. Partai politik kita sebagian besar dikendalikan oleh orang-orang
yang lebih mengedepankan uang dan modal daripada akhlak, integritas dan moral.
Akibatnya banyak calon pemimpin ditentukan oleh kekuatan modal bukan kualitas
moral. Pemimpin yang dimunculkan bukan karena kualitas visi dan misinya, tapi
karena kekuatan modal yang dimiliki. Kiranya kita masih ingat mundurnya alm.
Nurcholish Madjid yang terpaksa mundur dari bursa pencalonan Presiden 2004
silam karena kekurangan dana dan modal yang biasa dikiaskan dengan istilah
’kekurangan gizi’ padahal sejatinya dia memiliki visi dan kompetensi yang cukup
memadai.
Partai Politik dan
Ironi Demokrasi
Sungguh ironi apabila demokrasi yang kita kembangkan selama
ini telah melahirkan pemimpin-pemimpin yang justru melawan kodrat demokrasi
yang menempatkan kedaulatan di tangan rakyat. Rakyat hanya menjadi tumbal
demokrasi untuk melanggengkan kekuasaan pemimpin yang tak amanah dan korup.
Sungguh hal ini merupakan penyimpangan demokrasi yang harus kita luruskan
bersama, agar rakyat tidak hanya menjadi sapi perah calon pemimpin yang ingin
berkuasa atau mempertahankan kekuasaannya.
Proses lahirnya kepemimpinan di negeri ini tidak bisa
dilepaskan dari keberadaan lembaga-lembaga yang menyeleksi maupun mendukung
calon pemimpin. Salah satu lembaga penting dalam melahirkan pemimpin adalah
partai politik. Selain sebagai pilar demokrasi, partai politik juga memiliki
tanggung jawab untuk mendidik dan mendistribusikan calon pemimpin baik pada
tingkat lokal maupun nasional. Baik di lembaga legislatif, eksekutif, maupun
yudikatif serta berbagai institusi negara lainnya. Karena itu, partai politik
mempunyai tanggung jawab besar untuk melahirkan kepemimpinan yang berkualitas
dan memiliki integritas. Partai politik harus bertanggung jawab atas lahirnya pemimpin-pemimpin
yang korup dan menyimpang.
Hilangnya Ideologi
Partai Politik
Tugas ini memang tidak mudah dilaksanakan, mengingat saat ini
banyak partai politik yang justru terjebak dalam lingkaran setan. Kehilangan
ideologi dan orientasi. Bahkan menjadi tempat berlindung yang aman dan nyaman
bagi para koruptor.
Fenomena ini tidak boleh terus berlangsung agar kepemimpinan
di Republik ini tidak semakin jauh melenceng dari cita-cita demokrasi dan konstitusi
kita. Terlebih agar kita tidak terus menjadi korban akibat ulah pemimpin yang
tidak amanah. Karena itu, partai politik harus membuang semua penyakit yang
berpotensi merusak sistem kepartaian, seperti kekuasaan oleh sekelompok orang
(oligarki) atau kekuasaan sentralistik figur (patronase), maupun berdasarkan
trah keluarga (nepotis). Para petinggi partai harus sadar, penyakit oligarki
hanya akan membuat partai menjelma layaknya perusahaan yang hanya dikuasai oleh
segelintir orang. Sedangkan proses kaderisasinya hanya akan melahirkan
orang-orang yang taat pada elit partai. Hal yang sama akan terjadi pada partai
yang tidak bisa melepaskan diri dari politik patronase. Figur patron yang
menempati hierarki tertinggi dalam piramida partai, akan memiliki kekuasaan
mutlak laksana seorang raja. Ruh partai bukan lagi berada di balik ideologi,
tapi beralih ke tangan seorang tokoh atau figur karena trah keluarga.
Gejala ini pernah dialami oleh umat Islam generasi awal yang
lazim disebut assabiqunal awwalun. Ketika Rasulullah Saw. wafat, banyak
kaum Muslimin yang merasa kehilangan pegangan. Mereka tidak percaya, bahkan
tidak menerima kematian sang Nabi, sampai Abu Bakar menyadarkan mereka:
أَيُّهَا النَّاسْ، إِنَّ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ
مُحَمَّدًا فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ. وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللهَ فَإِنَّ
اللهَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ.
“Saudara-sadara,
barangsiapa mau menyembah Muhammad, Muhammad sudah meninggal, tetapi siapa yang
menyembah Allah, Allah Mahakekal dan tak pernah mati.”
Rekruitmen dan
Kaderisasi Pemimpin
Hikmah dari perkataan Abu Bakar dalam konteks kepemimpinan
adalah pertama, perlunya melihat kepemimpinan sebagai sebuah proses yang
tidak abadi. Siapapun dia, sekuat apapun dia, bahkan seotoriter apapun
dia, seorang pemimpin pasti akan sampai pada kejatuhannya. Karena itu, pemimpin
harus betul-betul berusaha maksimal untuk memberikan yang terbaik bagi
masyarakatnya.
Kedua, kepemimpinan janganlah didasarkan pada faktor keturunan, karena
kepemimpinan bukanlah warisan. Kepemimpinan harus didasarkan pada kualitas dan
integritas sang pemimpin siapapun dan dari suku apapun dia.
Ketiga, pemimpin tidak hanya punya tanggung jawab secara sosial, tapi juga secara
spiritual, yaitu kepada Allah Swt. Karena itu, pemimpin dituntut tidak hanya
memiliki kecerdasan intelektual, tapi juga spiritual yang dapat menuntunnya
pada amanah kepemimpinannya.
Empat Karakter
Pemimpin Ideal
Allahu Akbar, Allahu
Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.
Saudara-saudara kaum
Muslimin yang dimuliakan Allah.
Karakter pemimpin ideal sebenarnya sudah tercermin secara
sempurna pada diri Rasulullah Saw. Sejarah sudah memberikan paparan yang jelas
tentang segala hal yang berkaitan dengan seni kepemimpinan beliau. Jadi, yang
perlu kita lakukan saat ini adalah memahami esensi dari setiap karakter tersebut,
sehingga bisa diaplikasikan dalam seni kepemimpinan Indonesia modern. Secara
ringkas, empat karakter Rasulullah Saw. adalah sebagai berikut
1. Sidiq (Jujur)
Karakter utama yang menjadi ciri khas pemimpin ideal adalah
kejujuran. Jangan pernah remehkan sifat ini, karena fakta sejarah membuktikan
bahwa kejujuran memiliki energi dahsyat untuk melegitimasi kepemimpinan. Nabi
Muhammad Saw. dan Abu Bakar secara berurutan sudah membuktikan dahsyatnya
energi kejujuran bagi kepemimpinan agama dan politik mereka. Rasulullah
mendapatkan gelar Al-Amien (yang dapat dipercaya) jauh sebelum
mendapatkan beragam gelar positif lainnya. Karena rekam jejak kejujuran
beliaulah, dakwah Islam cepat tersebar. Semua perkataan beliau langsung
dipercaya dan diyakini kebenarannya oleh semua orang yang mendengar. Termasuk
hal-hal yang tidak bisa dinalar akal sehat sekalipun, seperti persitiwa Isra’
dan Mi’raj. Abu Bakar juga demikian. Ia dijuluki ash-Shiddiq (orang
jujur dan bisa dipercaya). Kejujuran inilah yang membuat semua kabilah Arab
bersatu dan membaiatnya secara aklamatif sebagai khalifah ketika Rasulullah
wafat.
Fakta ini seharusnya bisa membuka mata semua pemimpin, bahwa
kejujuran merupakan modal utama untuk menjadi pemimpin. Pribadi yang jujur
relatif lebih mudah diterima oleh masyarakat, meskipun mungkin dia tidak
memiliki kecakapan yang hebat dalam mengorganisir kekuasaan. Sebab, masyarakat
pasti lebih tenang dan lebih senang dipimpin oleh orang jujur. Mereka tidak
akan khawatir aset-aset bangsa hasil jerih payah rakyat akan diselewengkan
untuk kepentingan pribadi. Mereka juga tidak akan was-was akan diperlakukan
seperti binatang ternak, yang diperas keringatnya dan diperah saripatinya untuk
membiayai kebutuhan hedonisme ala pemimpin pendusta.
Pemimpin yang jujur pasti berpikir seribu kali untuk melakukan
tindakan tidak terpuji, atau memutuskan kebijakan yang tidak berpihak kepada
rakyat. Oleh sebab itu, Allah Swt. dengan tegas memerintahkan kita untuk
bersama atau mengikuti orang-orang yang jujur.
يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا
للهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ.
“Wahai orang-orang
yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang
yang jujur.” (QS At-Taubah [9]:
119)
2. Amanah
(Tepercaya dan Bertanggung Jawab)
Jika kejujuran berfungsi melejitkan potensi internal untuk
melegitimasi pemimpin, maka amanah merupakan karakter eksternal yang berfungsi
meningkatkan etos kerja. Karakter inilah yang bisa memacu dan memicu pemimpin
untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Karena berkaitan dengan kerja-kerja
praktis, maka karakter amanah memiliki kaitan yang erat dengan tanggung jawab.
Jadi, pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang bertanggung jawab.
Sejauh ini, kita cenderung memaknai amanah sebatas menunaikan
tugas dan kewajiban. Padahal, penyempitan makna amanah seperti inilah yang
menjadi pangkal rendahnya kinerja para pemimpin. Oleh sebab itu, pada
kesempatan yang amat langka ini, khatib al-faqir ingin mengingatkan kembali
bahwa amanah memiliki arti yang agung. Amanah berarti berusaha memberikan
kemampuan terbaik dan berorientasi kesempurnaan dalam setiap tugas yang
dijalankan. Pemimpin amanah adalah pemimpin yang selalu berusaha perfeksionis
dalam melakukan pekerjaan. Tidak pernah puas dengan hasil yang didapatkan, dan
selalu berpikir keras untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi.
Menurut para ahli hikmah, pemimpin yang amanah selalu
menjunjung tinggi etika sehingga tidak suka mempermalukan orang. Membangun
kepercayaan diri melalui kualitas dan kapasitas diri. Berani mengakui kesalahan
diri dan tidak pernah segan mengingatkan orang lain atas kesalahannya.
Bertanggung jawab sendiri untuk memperjuangkan tujuan serta cermat dalam
bekerja. Teguh memegang prinsip dengan segala risiko dan konsekuensi yang harus
dihadapi.
Di samping itu, pemimpin amanah adalah yang sudah selesai
dengan dirinya sendiri. Tidak membuat rakyat kerepotan mengurusi masalahnya.
Selalu meninggalkan kenangan positif bagi orang di sekitarnya dan masyarakat
luas. Tidak mengalihkan tanggung jawab kesalahannya kepada pihak lain, dan juga
tidak mewariskan tumpukan masalah yang menyulitkan generasi setelahnya.
3. Tabligh
(komunikatif)
Karakter ini harus dimiliki karena dalam menjalankan tugas,
pemimpin selalu berhadapan dengan manusia yang punya perasaan dan pikiran.
Bukan berhadapan dengan benda mati yang mudah direkayasa. Oleh sebab itu,
pemimpin dituntut terampil berkomuniksi agar pesannya bisa dipahami dan
dilaksanakan dengan baik. Ia harus bersikap terbuka sehingga rakyat tidak segan
atau takut menyampaikan keinginannya. Seperti inilah yang dicontohkan
Rasulullah Saw. dalam menjalin komunikasi dengan para sahabatnya.
Keterampilan berkomunikasi ini mustahil diperoleh secara
instan tanpa proses yang panjang. Pengalaman akan menumbuhkan empati yang
membuat pemimpin bisa merasakan keluh-kesah rakyatnya, bukan hanya menjadi
pendengar setia. Itulah sebabnya mengapa para pemimpin yang berhasil, selalu
sosok yang bersahaja. Sosok yang rela berlumpur dan berkeringat bersama rakyat,
bukan sosok yang pura-pura memperhatikan penderitaan rakyat dari balik tirai
kemewahan. Rasulullah Saw. selalu berhasil mencerna masalah yang dikeluhkan
sahabat, karena beliau memang pernah mengalami masalah yang dikeluhkan
tersebut. Kepribadian sederhana yang berpadu dengan tutur kata santun, membuat
siapa pun merasa nyaman berdialog dengan Rasulullah Saw. Termasuk orang yang
baru kenal sekalipun.
4. Fathanah
(Visioner)
Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan di atas rata-rata.
Visioner dan memiliki program yang jelas dalam memajukan masyarakat. Memiliki
analisa yang tajam, strategi yang jitu, serta cermat mengidentifikasi skala
prioritas dalam menyelesaikan masalah.
Pemimpin yang tidak visioner pasti tidak memiliki pendirian
yang teguh, sehingga mudah dipengaruhi orang lain. Gampang terombang-ambing di
antara serbuan argumen yang beragam. Karena itu keputusan yang diambil rentan
kesalahan dan berpotensi merugikan rakyat.
Rasulullah Saw. adalah pemimpin yang sangat visioner.
Ketajamannya dalam menganalisa masalah benar-benar tak tertandingi oleh siapa
pun. Kisah tentang Perjanjian Hudaibiyah adalah contoh nyata yang pasti membuat
semua orang terpana. Betapa tidak, dengan kecerdasannya, Rasulullah Saw. mampu
membalikkan perjanjian yang pasal-pasalnya terkesan merugikan, menjadi sangat menguntungkan
bagi kaum Muslimin. Sebagai bukti, pihak Qurasiy yang sempat girang setelah
menandatangi perjanjian tersebut, akhirnya tidak kuat lalu khianat dan
melanggarnya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ
الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ
السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
Doa dan Harapan
Sebelum mengakhiri khutbah ini, khatib al-faqir ingin
mengingatkan bahwa saat ini kita berada di tengah kepungan entertaimen dan
gejolak politik. Bukan saja karena kita akan menghadapi pemilukada DKI putaran
kedua pada September mendatang, tapi juga karena hingar-hingar suksesi
kepemimpinan 2014 sudah ramai dibicarakan sekarang.
Sebagai insan yang beriman dan berpendidikan, mari kita sikapi
semua rayuan politik tersebut dengan arif agar tidak salah memilih pemimpin.
Sebab, kesalahan memilih pemimpin berpengaruh besar terhadap nasib kita untuk
satu periode politik ke depan. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk
menapaki jalan yang benar dan memilih pemimpin yang amanah.
Kita juga berdoa semoga Allah Swt segera menyadarkan para
pemimpin di negeri ini untuk menjalankan amanatnya secara jujur,
transparan, dan penuh keikhlasan sehingga negeri ini betul-betul menjadi baldatun
thayyibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang jauh dari bencana karena
pemimpinnya semakin dekat pada penciptanya, yaitu Allah Swt. Amien ya robbal
‘alamin.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي
الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ
تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيْر.
Wahai Tuhan Yang
mempunyai kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau
kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau
muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau
kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas
segala sesuatu.
اَللّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُلْحِدِيْنَ، وَأَعْلِ
كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
Ya Allah,
muliakanlah agama Islam dan tinggikanlah derajat kaum muslimin. Hapuskan segala
bentuk kekufuran dan enyahkan segala bentuk kejahatan. Tegakkan panji-panji
kebesaran-Mu hingga akhir nanti, dengan Rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha
Pengasih.
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا
وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
Ya Allah kami,
berikanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan
tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.
اَللّهُمَّ انْصُرْ سُلْطَانَنَا سُلْطَانَ
الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرْ عُلَمَاءَهُ وُزَرَاءَهُ وَوُكَلاَءَهُ وَعَسَاكِرَهُ
إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَاكْتُبْ السَّلاَمَةَ وَالْعَافِيَةَ عَلَيْنَا
وَالْغُزَّاةِ وَالْمُسَافِرِيْنَ وَالْمُقِيْمِيْنَ، فِيْ بَرِّكَ وَبَحْرِكَ
مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ.
Ya Allah, tolonglah penguasa kami, pemimpin kaum yang beriman,
tolonglah para ulama kami, tolonglah para menteri, pejabat, serta tentaranya
hingga hari Akhir. Tetapkan keselamatan dan kesehatan bagi kami, yang sedang berjihad, para musafir, serta
yang tidak bepergian, baik yang ada di darat atau di laut-Mu—umat Muhammaddan
seluruh umat manusia
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً
وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Ya Tuhan kami,
berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami
dari siksa neraka.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا
يَصِفُونَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
Mahasuci Tuhanmu
Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan
dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan Penguasa alam
semesta.
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
وَبَرَكَاتُهُ
Sumber:
http://www.dakwatuna.com/
Tags
KHUTBAH AL-YAUM