Ramadhan
telah memberikan keberkahan berlimpah bagi kaum muslimin yang menjalaninya, di
mana segala amal perbuatan baik akan dilipatgandakan oleh Allah, begitu juga
dengan sebaliknya. apalagi saat memasuki sepuluh pertengahan Ramadhan, di mana
magfirah Allah akan tercurahkan kepada hambanya yang telah lulus pada ujian
pertama di sepuluh pertama.
Pada
sepuluh pertengahan Ramadhan ini Allah akan mengampuni dosa-dosa hambanya, maka
sepatutnya bagi kita sebagai hamba yang mengharapkan syurganya untuk meminta
ampun di bulan yang mulia ini. tidak ada dosa sebesar apapun di hadapan oleh
kecuali akan dihapus jika seorang hampa mau meminta untuk diampuni dengan
berdo’a meminta ampun, paling kurang dengan kalimat Astagfirullah.
Kalau
Nabi dalam hari-hari di luar Ramadhan selalu beristigfar kepada Allah tidak
kurang dari 100 kali istigfar, maka kita sebagai pengikttnya paling
tidak di Bulan Ramadhan ini bisa melakukannya. dalam keadaan apapun, baik berjalan,
tidur, bekerja, memasak, bermain, tidak akan menghalangi seseorang untuk hanya
mengucapkan istigfar kepada Allah. Tidak mesti harus saat shalat saja, tapi
setiap keadaan, sehingga hari-hari kita dapat terjaga dan dalam perlindungan
Allah. Kita tahu bahwa dengan banyak berisitigfar dan berzikir akan memberikan
ketenangan dalam hati dan jiwa dan selalu membuatnya hidup dalam keadaan
apapun. Hari-hari Ramadhan tidak diisi dengan umpatan dan kata-kata kotor,
kalaupun seseorang berkelahi atau bersitegang dengan seseorang maka salah
satunya harus dapat salaing mengingatkan dengan mengatakan, “inni shoim’
(saya berpuasa).
Ramahdan
sebagai bulan penghapusan dosa, Allah telah menutup pintu neraka dan mengekang
syaitan untuk mengganggu manusia. Ini berarti ini celah waktu bagi kaum
muslimin melakukan ibadah sebanyak-banyaknya dan meminta ampun dihapuskan
segala dosa yang telah lalu. Dalam sebuah hadis disebutkan;
عن جابر بن سمرة رضي الله عنه قال، قال رسول الله - صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - : "أتاني جبريل، فقال: يا محمد، من أدرك أحد والديه
فمات فدخل النار فأبعده الله، قل: آمين، فقلت: آمين، قال: يا محمد، من أدرك شهر رمضان
فمات ولم يغفر له فأدخل النار فأبعده الله، قل آمين، فقلت: آمين، قال: ومن ذُكرت عنده
فلم يُصل عليك فمات فدخل النار فأبعده
Artinya: Dari Jabir ibn Samurah radiyallahu ‘anhu berkata,
Rasulullah Sallalhu ‘Alhi Wasallam bersabda, “ Jibril telah mendatangi saya dan
berkata, “wahai Muhammad, barang siapa yang menemukan salah satu kedua orang
tuanya kemudian mati, maka dia masuk neraka, maka Allah menjauhkannya”.
katakan,”amin”. kemudian saya mengatakan, “amin”. Jibril berkata lagi, “wahai
Muhammad, barangsiapa yang mendapati Bulan Ramadhan kemudian mati dan tidak
meminta ampun kepada Allah, maka ia akan dimasukkan ke neraka, dan Allah menjauhkannya”.
katakan “amin”. maka aku mengatakan, “amin”. Jibril kemudian berkata lagi,
“barangsipa yang disebut (namamu) di sisinya kemudia tidak berselawat kepadamu
kemudia mati, maka dia masuk neraka, dan Allah menjauhkannya. katakan “amin”,
maka aku katakan “amin”.
Ramadhan
sebagai bulan penghapusan dosa sebagaimana dalam hadis, akan diampuni dosanya
yang telah lalu dan yang akan datang.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ فُضَيْلٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: Diceritakan oleh Muhammad ibn Salam, berkata, Muhammad
ibn Fudail memberitakan, diceritakan oleh Yahya ibn Sa’id dari Abi Salamah dari
Abi Hurairah berkata, Rasulullah Sallaluhu ‘Alihi Wasallam bersabda, “
barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena keimanan dan megharapkan (keridahaan
Allah), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.
Begitu
spesial Ramadhan diberikan kepada kaum muslimin oleh Allah, di mana mereka
cukup dengan betul-betul ingin menjalankan dan mengahrapkan keridahaan Allah
dengan menjalankan puasa akan diampuni dosanya yang akan datang. tapi tentu
setelah Puasa Ramadhan, orang tidak serta merta bebas melakukan kemaksiatan,
karena buah dari Puasa Ramadhan adalah ketakwaan. Sedangkan takwa adalah
menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Kalau setelah Ramadhan
kembali lagi kepada kemaksiatannyanya maka Ramadhan yang ia jalani tidak
memberikan tempaan dan tidak menjalaninya karena semata-mata Allah telah
mewajibkannya.
Ada dua
syarat bagi seseorang yang mengingnkan pengampunan dengan berpuasa di Bulan
Ramadhan ini, yaitu imanan dan ihtisaban. Tanpa keduanya, maka
puasa yang dijalankan oleh seseorang hanya ikut-ikutan saja, kalaupun ia
berpuasa hanya menahan lapar dan haus saja, pahala tidak ada sama sekali. Karena
tidak bisa membuat seorang hamba dapat melakukan amalan-amalan di bulan puasa
untuk bertaqarrub kepada Allah subhanahu wata’ala.
Lalu
apakah yang dimaksud dengan imanan wa ihtisaban. Beberapa ulama’ memberikan
penjelasan seperti al-Khattabi mengatakan bahwa imanan wa ihtisaban
adalah niat yang kuat dan meyakini betul apa yang dijalankan dalam puasa,
meyakini dengan benar puasa yang dijalankan adalah perintah Allah dan
mengharapkan ganjaran dan pahala, tidak merasa terpaksa melakukannya dan
memberatkannya, tapi bagaimana ia menghabiskan hari-hari ramadhan dengan
mencari pahala di sisi Allah. Imam al-Bagawy mengatakan bahwa ihtisaban
adalah mengharapkan semata-mata karena Allah dan ganjaran yang diberikan Allah
kepada hamba.
Jadi
untuk mendapatkan pengampunan dan pahala dari Allah subahanahu wata’la,
maka syarat mutlak bagi seseorang adalah meyakini dengan betul puasa yang ia
jalani adalah perintah Allah subhanahu wata’la dan ia berusaha dengan
sekuat tenaga menghidupkann hari-hari Ramadhan dengan ibadah dan malam ramadhan
dengan qiyam al-lail. Tidak menjadikannya menjadi pemalas dan menjauhkan
diri kepada Allah dengan ibadah, baik mahdah maupun gairu mahdah.
Oleh
karena itu, sepatutnya kita bisa mengisi Ramadhan ini dengan hal-hal yang
terbaik, karena kita tidak tahu apakah Ramadhan yang akan datang dapat bertemu
lagi atau tidak?. Sangat merugi bagi kaum muslimin yang tidak dapat
memanfaatkan Ramadhan kali ini dengan ibadah, karena para ulama’ menggambarkan Ramadhan
sebagai tamu yag lewat begitu saja, tapi membawa keberkahan yang melimpah. Jika
tidak dimanfaatkan dengan sebaik mungkin darinya, maka akan banyak
pahala-pahala terlewatkan. Wallahu ‘Alam bi al-Shawab.
Tags
Fiqih