Ramadhan
sebagai bulan puasa bagi ummat Islam adalah sebuah kenikmatan
terbesar, karena di dalamnya terdapat berkah dan keutaman yang tidak
didapatkan di bulan-bulan lainnya. Ramadhan telah dipilih oleh Allah
sebagai bulan puasa di mana Allah sendiri yang langsung memberikan
ganjaran bagi mereka yang berpuasa di Bulan Ramadhan. Apalagi dapat
menghidupkan malam Bulan Ramadhan dengan ibadah sebagaimana yang
dipraktekkan oleh Nabi, para sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in,
dan para ulama’ terdahulu.
Dengan
berbagai keutaman dan keberkahan yang ada di dalamnya, sangat
disayangkan apabila seseorang tidak dapat memanfaatkan Bulan Ramadhan
dengan sebaik mungkin. padahal mereka yang berpuasa di Bulan Ramadhan
dengan mengharapkan ridha Allah dan betul-betul beribadah karena
Allah bahkan mengharapkan semua bulan adalah ramadhan. Apalagi di
dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu
lailatul qadar.
Untuk lebih jelasnya berikut beberapa keutaman atau fadilah dari
Bulan Ramadhan.
BULAN
TURUNYA AL-QUR’AN
Setiap
hari ke 27 dari ramadhan, kita sering merayakan nuzulul
Qur’an (turunnya
al-qur’an). berbagai macam kegiatan dalam bentuk taqarrub
kepada Allah dilakukan umat Islam, ingin merasakan kebahagian dan
keberkahan dari al-Qur’an sendiri. Dan ingin menginternalisasi
bagaimana Rasulullah menerima al-Qur’an saat pertama kali. Dengan
suka cita dan kebahagiaan, kaum muslimin mengagung-agungkan al-Qur’an
pada bulan ini.
Bulan
Ramadhan tidak hanya bulan diturunkannya al-Qur’an saja, tapi pada
bulan ini juga diturnkan kitab-kitab samawi lainnya seperti Taurat,
Zabur, dan Injil. Allah telah memilih Bulan Ramadhan ini sebagai
bulan yang baik untuk menurunkan kitab suci. Sebagaimana dalam sebuah
riwayat:
عن
واثلة بن الأسقع عن رسول الله -
صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -
: "أنزلت
صحف إبراهيم أول ليلة من رمضان، وأنزلت
التوراة لست مضت من رمضان، وأنزل الإنجيل
لثلاث عشرة مضت من رمضان، وأنزل الزبور
لثمان عشر خلت من رمضان، وأنزل القرآن
لأربع وعشرين خلت من رمضان"
Artinya: Dari
Wasilah ibn al-Asqa’ dari Rasulullah Sallahu ‘Alahi wa sallam, “
Suhuf Ibrahim diturunkan pada awal malan Bulan Ramadhan, taurat
ditutunkan enam hari berlalu dari Ramadhan, diturunkan Injil setelah
tiga belas hari berlalu dari Ramadhan, diturnkan Zabur delapan belas
dari Ramadhan, dan ditunkan al-Qur’an pada dua puluh dari Bulan
Ramadhan.
Hadis
di atas diriwayatkan oleh at-Tabrani dalam kitab al-kabir
dari Wasilah, begitu juga dengan Imam Ahmad dalam Musnadnya, Ibnu
‘Asakir, dan Al-bani sendiri mensahihkannya pada kitab shahih
al-jami’. Hadis
tersebut menerangkan bahwa semua kitab Allah yang telah diturunkan ke
muka bumi diturunkan pada bulan suci ramadhan. Ini karena kemuliaan
yang telah Allah berikan pada Bulan Ramadhan.
Sehingga sangat merugi bagi orang yang tidak bisa memanfaatkan Bulan
Ramadhan dengan sebaik mungkin, terutama untuk berpuasa dan melakukan
ibadah-ibadah lainnya.
Tidak
hanya riwayat dari Nabi sendiri yang menerangkan diturunkannya
al-Qur’an pada bulan suci Ramadhan. Di dalam al-Qur’an sendiri
Allah memberikan penegasan tentang turunnya al-Qur’an pada Bulan
Ramadhan dalam Surah al-Baqarah ayat 185
شهر
رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس
وبينات من الهدى والفرقان
Artinya: Bulan
Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran
sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).
إنا
أنزلناه في ليلة القدر
Artinya:
Sesungguhnya Kami
telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
إنا
أنزلناه في ليلة مباركة
Artinya:
Sesungguhnya Kami
menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.
Ibnu
Jarir berkata, “ al-Qur’an diturunkan dari Lauhil Mahfuz ke
langit dunia pada malam lailatul
qadr di bulan suci
Ramadhan, kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad Sallalhu
‘alahi wasallam
sesuai keinginan dan cara Allah menurunkannya kepada Nabi Muhammad”.
Dari Ibnu Abbas juga dikatakan bahwa al-Qur’an diturunkan sekaligus
pada malam ke dua puluh empat dari bulan suci Ramadhan, kemudian
menjadikannya di bait
al-Izzah. Begitu
juga dari Sa’id ibn Jubair bahwa al-Qur’an diturunkan sekaligus
(jumlah al-wahidah)
pada malam lailatul
qadr di bulan suci
Ramadhan dan menjadikannya di langit dunia. Dari ibnu ‘Abbas
sendiri dikatakan bahwa al-Qur’an diturunkan pada malam lailatul
qadr dari langit
atas, turun sekaligus, kemudian dipisah-pisahkan dalam beberapa
tahun.
al-Qur’an
diturunkan bersamaan dengan difardukannya puasa Bulan Ramadhan, dua
hal besar dan sangat agung. Di satu sisi al-Qur’an sebagai petunjuk
hidup manusia dan kalam Allah yang ditujukan kepada manusia agar
mereka menjadikannya sebagai aturan dalam hidup. Dan Allah mewajibkan
puasa pada bulan ini, dan telah memilihnya sebagai bulannya dan Allah
sendiri yang emebrikan ganjaran kepada hambanya.
al-Qur’an
diturunkan sebagaimana penjelasan dalam ayat untuk memberikan
petunjuk bagi manusia, tidak hanya manusia yang hidup pada masa Nabi
masa lalu, tapi bagi seluruh manusia hingga akhir zaman. Tapi
berkenaan dengan beberapa perilaku yang ditunjukkan oleh orang-orang
Arab, di mana mereka mempunyai peradaban yang tinggi tapi masih
berada pada kejahiliyahan,
tidak menerima kebenaran dari Allah subahnahu
wata’la melalui
Nabi Sallahu ‘alahi
wasallam. Turunnya
al-Qur’an pada dasarnya sebagai hujjah
dan sebagai lawan dari apa yang dibanggakan oleh orang Arab terdahulu
akan sastra, maka dengan turunnya al-Qur’an mengalahkan
sastra-sastra yang mereka buat, karena bahasa al-Qur’an melebihi
dari bahasa yang mereka buat dan bangga-banggakan.
Benar
apa yang diberitakan dalam al-Qur’an bahwa dengan diturunkannya
al-Qur’an pada Bulan Ramadhan sebagai petunjuk bagi semua ummat
manusia. Mereka yang mendapatkan petunjuk adalah mereka yang
menjalankan puasa dengan semata-mata karena Allah dan mengharapkan
pahala/ganjaran. Sedangkan mereka yang tidak mendapatkan petunjuk
adalah mereka yang menganggap Bulan Ramadhan sebagai bulan
biasa-biasa saja seperti bulan lainnya dan tidak mempunyai
keistimewaan. Sehingga menganggap puasa yang disyari’atkan sangat
memberatkan mereka dan tidak mau berpuasa. Atau kalaupun mereka
berpuasa, tapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar
dan haus. Inilah kemudian yang membedakan mereka yang betul-betul
beriman dengan orang yang tidak mengimani sepenuhnya, yaitu munafik.
Bulan Ramadhan akan memebrikan perbedaan besar antara orang-orang
beriman dengan derajat taqwa dan orang-orang munafik yang mendapat
laknat dari Allah.
Bersambung….!
Tags
Fiqih