Minggu-minggu
ini, lapangan merjosari sedang berlangsung pertandingan divisi 3 dari
klub Persema Malang. Peserta sebagian besar dari daerah sekitar kota
malang, maklum persema adalah klub besar milik kota malang, lain
dengan Arema yang menjadi klub kabupaten Malang, walapun arema lebih
dikenal dan lebih banyak superternya daripada Persema.
Pembinaan
sepak bola di Malang dapat dikatakan sangat baik, karena mereka tidak
menunggu organisasi sepakbola tanah air (PSSI) yang melakukan
pembinaan dan pertandingan. Tapi klub-klub besar juga mengadakan
kompetisi untuk beberapa divisi dan tingkatan usia. Di samping juga
untuk mencari pemain-pemain berbakat, jika mungkin dapat direkrtut
dan menjadi pemain profesinal di Liga teratas negeri ini. Usia mereka
yang bermain juga sangat muda, karena mereka rata-rata duduk
dibangku sekolah, tapi permainan mereka tidak kalah jauh dengan
pemain profesional.
Sepakbola
memberikan pelajaran berarti bagi mereka yang terlibat secara
langusng maupun tidak langsung. Sikap sportivitas adalah slogan yang
selalu dikibarkan dan diyel-yelkan atau dalam bahasa dunianya fair
play. Walapaun permainan sepak bola terkadang terjadi kontak badan
yang sangat keras, dan membuat para pemainnya hilang kesabaran. Tapi
disitulah letak sprotivitasnya, di mana seseorangg yang bermain
tidak mencari musuh di tengah lapangan, tapi bagaimana ia bisa
memenangkan perandingan dengan kemenangan besar.
Emosi
orang yang bedarada di luar lapangan juga sering terpancing kepada
hal-hal yang membuat geram dan kemarahan kepada mereka yang bermain
atau mereka yang menonton. Saat klub yang disanjunginya kalah, sering
ia arahkan kesalahan dan beberapa perilaku seperti umpatan kepada
pemain itu sendiri. tapi kadang-kadang juga emosi terjadi antara
mereka yang mendukung klub atau suporter. Dalam beberapa kejadian,
sering berakhir dengan bentrokan hebat, seperti kerusuhan sepakbola
mesir yang menyebabkan beberapa pemain terluka dan meninggal dunia
dan dari superter yang terluka dan mati.
Sepak
bola adalah sebuah permainan, kadang memang dan kadang kalah, itu
menjadi sunnatullah dalam permainan. Tidak hanya sekedar sepak bola,
tapi permainan lainya juga sama seperti itu. Dengan sistem kontak
badan memang mmebuat orang sering terpancing emosi, tapi di sinilah
letak dan diperlukannya sprotivitas. Mereka juga mungkin tidak
menginginkan untuk menyakiti pemain lain, tapi terkdaang cara yang
salah membuat pemain lain terakiti. Walapaun ada beberapa oknum yang
bermain sepak bola yang tujuannya ingin mencederakan salah seorang
pemain, tapi itu hanya satu dua orang saja.
Menjadikan
permainan sepakbola sebagai permainan yang mengedepankan sprotivitas
tidak hanya untuk pemain saja, tapi semua orang yang terlibat. Karena
semua unsur ini mempunyai potensi sama besarnya memunculkan aksi yang
brutal. Oleh karena itu, mulai dari pemain, pelatih, official, wasit,
hakim garis, dan penonton dibutuhkan sportivitas juga.
Namun
tidak kalah penting di sini, sebagai orang yang memberikan arahan
dalam taktik bermain di lapangan, pelatih menjadi sentral dalam
pembentukan karakter pemain. Terutama dalam menciptakan permainan
yang kondusif, membutuhkan skill yang baik dan bukan kekuatan otot
untuk berkelahi. Pelatih mempunyai kuasa penuh terhadap pemain,
apakah dapat dimainkan atau tidak. Dan juga memberikan peringatan
kepada pemainnya, karena merekalah yang akan didengar, karena
berkaitan dengan kelanjutan dari karir mereka di sepak bola. Kalau
wasit hanya sebagai penengah di saat pertandingan dan bukan diluar
lapangan, sedangkan pelatih tidak hanya sekedar di dalam lapangan,
tapi di luar juga menjadi kontrol penuh pelatih. Tapi kadang-kadang
juga, pelatih sering menjadi penyebab kerusuhan atau anarkisme,
karena mengganggap timnya dizolimi atau wasit tidak adil dalam
mengawal pertandingan.
Tapi
yang jelas permainan sepak bola, buka tempat membuat kerusuhan atau
anarkisme. Kemenangan bukan berarti dapat mencederai orang lain, atau
bahkan membunuh orang. Tapi kemanagan dalam sepak bola adalah
kemenangan dengan meraih gol-gol saat pertandingan. Karena itu adalah
persaingan strategi yang diterapkan di tengah lapangan, tim yang
dapat mengendalikan permainan, maka dia pasti menang.
Dalam
pertandingan divisi 3 klub persema ini, walapun hanya kelas rendah
dan kebanyakan pemainnya masih muda, dan mungkin mereka tidak digaji
untuk bermain, cukup hanya dengan air minum atau bonus tertentu. Tapi
sudah 3 hari peratandingan, semangat sportivitas sangat baik
diperlihatkan, terutama oleh pelatih masing-masing klub.
Sebagai
contoh pada pertandingan sore tadi, di mana antara dua klub
memperlihatkan permainan yang sangat cepat dan menyerang, sehingga
sering terjadi kontak antara satu pemain dengan pemain lainnya,
karena harus bertahan agar tidak kebobolan. Pada awal pertandingan
salah satu klub sudah unggul 2 gol, tapi dalam waktu yang tidak lama
juga dapat membalas dan menyamakan kedudukan. Setelah itu sedikit
permainan keras diperlihatkan oleh para pemain, tak ayal wasit pun
kebingungan dan kartu kuning berkali-kali keluar dari saku wasit.
Saling
serang antara mereka membuat salah seorang pada saat duel bola atas
terjadi bentrokan hebat. Kejadian begitu cepat, salah seorang
terkapar di tengah lapangan dengan darah mengalir deras dari
hidungnya. Melihat darah yang begirtu banyak membuat semua pemain
terpancing dan marah, beberapa penonton juga masuk ingin memukul
salah seorang pemain yang dianggap melakukan sikutan tangan kepada
korban. Tapi yang mengangumkan adalah pelatih dari pemain yang
terkapar terlihat tenang dan bahkan marah kepada penonton yang ikut
masuk ke dalam lapangan, dan bahkan dari luar lapangan, pemain yang
mengumpat wasit dan menunjuk pemain lawan ia marahi. Sambil berteriak
keras kepada pemainnya yang sedang bersitegang di tengah lapangan,
beberapa orang ia suruh ke pinggir lapangan dan memberikan
peringatan, “ kalau mau kelahi jangan di dalam lapangan, nanti di
luar lapangan”.
Peringatan
dari pelatih meredakan sedikit ketegangan yang terjadi, dari pihak
lawan di luar lapangan tidak bereaksi sedikitpun karena mungkin tahu
kalau pemainnya salah. Tapi ia juga langsung memanggil dan memintanya
menjauh dari kerumunan orang yang bersitegang, agar tidak terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan.
Memang
kejadian yang dialami salah seorang pemain itu, kelihatannya sangat
parah, akrena darah yang terus keluar dari hidungnya. Beberapa kali
dibasuh dan dilap dengan tisu, beberapa menit bermain, darah keluar
lagi, dan membuatnya keluar sementara untuk memulihkan.
Sebenarnya,
darah kelaur dari hidung tidak parah, apalagi tidak ada luka yang
terliaht di sekitar hidung. Kalau terjadi sobekan dan darah keluar
terus, maka itu akans edikit berbahaya, tapi kalau hanya keluar dari
hidung dan tidak ada luka, biasanya lebih disebabkan pada faktor
kelelahan dan panasnya darah di daerah sekitar kepala. Seperti
orang-orang desa yang merasa pusing pada saat terik, biasanya untuk
menghilangkan pusing dengan membasuh air di kepala sambil
ditepuk-tepuk agar darah panas yang diotak keluar dari hidung. Dan
bagi mereka yang pernah melakukannya, sangat berhasiat untuk
menghilangkan pusing, karena darah yang keluar adalah darah penyakit,
bukan darah yang masih baik, bahkan dengan keluarnya darah membuat
otak orang menjadi enteng dan ringan.
Terlepas
dari semua itu, permainan yang mereka tampilkan perlu diberikan cap
jempol, kerena sampai akhir pertandingan tidak ada sikap yang
menampakkan kemarahan, mereka semua bersalaman dengan tenang dan
setiap orang mengucapkan permintaan maaf. Sikap yang menunjukkan
sprotivitas tinggi, dan sangat jarang orang bisa melakukannya.
Mudah-mudahan
persepakbolaan di negeri ini dapat memaknai sprotivitas sebagai media
pemersatu anak negeri dan bukan bangga dengan permusuhan abadi yang
ditunjukkan oleh beberapa orang. waAllahu
‘A’lam
Tags
RENUNGAN QAILULAH
