PONDOK PESANTREN SEBAGAI ORGANISASI PEMBELAJARAN KEPEMIMPINAN


Abstrak: kondisi yang heterogen dalam dunia pondok pesantren memberikan sebuah peluang pembelajaran yang multikural, baik pendidikannya maupun dalam pergaulan masyarakat pesantren. dengan kondisi yang multikultural, proses interaksi dengan orang lain, dan mempelajari watak dari setiap orang memberikan peluang setiap orang untuk berkembang, baik cara berpikir, bertingkahlaku, memutuskan sesuatu, dan lain sebagainya. Dengan sistem pendidikan 24 jam, memberikan ruang bagi kyai untuk mendelegasikan beberapa komponen kepemimpinan dalam pondok pesantren dengan memberikan wewenang kepada pembina dan santri senior untuk memimpin santri selama 24 jam. Mereka tidak hanya sekedar memimpin tapi juga sambil belajar. Dengan itu, dapat menelurkan pemimpin-pemimpin yang tidak hanya sekedar puas dengan memimpin, tapi terus belajar untuk memimpin, terutama berkaitan dengan moral sebagai seorang pemimpin.

Kata Kunci: Pondok Pesantren, Organisasi, Pembelajaran, Kepemimpinan.

Pendidikan pondok pesantren di nusantara ini adalah model pendidikan yang sangat tertua dan telah banyak mencetak orang-orang besar di negeri ini. Pesantren pada masa awal telah memberikan kontribusi dalam perjuangan kemerdakaan bangsa Indonesia. Pondok pesantren sebagai basis pertahanan untuk menentang dan bahkan ikut berjuanag dalam mengusir penjajah. Sehingga pada masa dahulu, kepemimpinan, ketahanan, dan kekuatan fisik dijadikan sebagai kurikulum dalam pesantren, seperti kelahiran pencak silat dari pondok pesantren serta beberapa disiplin ilmu bela diri.
Perkembangan dan perubahan arah dunia saat ini menjadi sebuah masalah pada lembaga pendidikan, termasuk pondok pesantren. mulai dari kebijakan pemerintah sampai perkembangan teknologi informasi menyebabkan dalam iklim mikro lembaga pendidikan terjadi perubahan dan bahkan membwa bencana. Dengan itu lembaga pendidikan islam harus mampu mengadapai perubahan tersebut dan melakukan persaingan. Kondisi perubahan tersebut membuat ada lembaga pendiidkan dapat bertahan, namun ada juga yang tidak mampu untuk bertahan. Agar dapat bertahan dan menjaga mutu lembaga penddikan dan semua unsur dapat menghadapi perubahan tersebut muncullah istilah pembelajaran organisasi.[2] Yang menurut Pedler dkk. organisasi pembelajaran adalah organisasi yan gmemfasilitasi pembelajaran dari seluruh anggotanya dan secara terus menerus untuk dapat mentransformasi diri.[3]
Menyikapi perubahan untuk melakukan pembelajaran organisasi, maka hal yang sangat terpenting adalah pembelajaran kepemimpinan untuk menyikapi semua perubahan dalam lembaga organisasi pendidikan itu sendiri. Tidak hanya sekedar hard skill namun yang paling sangat terpenting adalah soft skillnya.
Pondok pesantren dari dahulu sampai sekarang adalah lembaga pendidikan yang senantiasa mencetak pemimpin-pemimpin yang akan dapat menjadi figur saat mereka keluar dari pondok pesantren, baik menjadi seorang guru agama, khatib, imam, kepala dusun, dan atau bahkan kepala desa. Karena Masa depan kebangkitan umat manusia tergantung sejak saat ini dan tergantung kualitas manusia yang memimpin yang dipersiapkan oleh lembaga-lembaga pendidikan kepemimpinan.[4] Pemimpin yang dilahirkan pondok pesantren adalah pemimpin yang mempunyai kredebilitas dan integritas diri dalam memegang amanah kepemimpinan, artinya dapat menciptakan pemimpin yang religius.
Kondisi pondok pesantren di indonesia yang menaganut sistem asrama dan pemondokan, menjadikan pondok pesantren dihuni oleh berbagai macam asal-usul santri dan karakter santri. Ini menjadikan pondok pesantren dihuni oleh multikultural etnis dan budaya. Dalam masyarakat yang multikultutal, setiap individu diajarkan bagaimana menghargai orang lain, dan memposisikan diri tidak sesuai dengan dirinya sendiri, tapi dengan mempertimbangan kepentingan orang lain juga.
Kondisi yang multikultural dan dengan perkembangan jumlah santri dari pondok pesantren semakin menunjukkan peningkatan, terutama pada pondok pesantren yang semi khalafi dan pondok pesantren khalafi. Jumlah santri pada pondok ini biasanya lebih kurang 700 orang dan bahkan sampai ribuan orang. Sebagai contoh kecil pondok pesantren darussalam Gontor Ponorogo, Pondok Pesantren Tebuireng, Pondok pesantren darunnajah Jakarta, atau Pondok pesantren al-Amin Madura dan pondok-pondok pesantren lainnya.
Jumlah yang begitu besar, tentu keberadaan kyai tidak akan dapat menyentuh seluruh aspek santri. Oleh karena itu biasanya kekuasaan dan otoritas didelegasikan kepada orang yang dipercaya yaitu para Asatadiz, dan aspek-aspek yang tidak dapat disentuh oleh para asatidz didelegasikan kepada santri senior.
Dengan keadaan seperti ini, maka potensi menciptakan dan melahirkan pemimpin-pemimpin yang baik di masa depan. Karena pada dasarnya pemimpin dapat diciptakan, jika potensi pada diri manusia dapat diasah. Dalam gambaran Rasulullah, untuk menjadi seorang pemimpin harus dilakukan semenjak kecil. Sebagaimana dalam gambaran sebuah hadis Nabi, Allah mendidik kepemimpinan pada setiap nabi.
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمَكِّيُّ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ

Artinya: “…….dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu dari Nabi Sallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “ tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali mereka (semuanya) menjadi penggembala kambing”, sahabat bertanya, “ bagaimana dengan anda (Rasulullah)?”. Nabi menjawab, “ ya, saya juga menjdi penggembala di padang orang-orang Makkah dengan upah beberapa Qirath”.[5]
Imam al-Hafiz Ibnu hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan, kenapa semua para Nabi, sebelum mereka diangkat menjadi nabi menjadi seorang penggembala kambing?. Karena itu menjadi sebuah latihan bagi para nabi dalam memimpin pada masa depan dalam memimpin ummat. Yang mana dalam menggembala kambing seseorang harus mempunyai sikap lemah lembut dan kasih sayang kepada binatang dan tidak berlaku kasar kepada mereka.
Dalam konteks saat ini, tentu menjadi seorang penggembala tidak akan banyak ditemukan. Tapi dalam konteks yang baik saat ini, pendidikan adalah media yang menjadi pengganti dari gambaran yang telah dijelaskan dalam hadis nabi.
Wadah pembelajaran kepemimpinan saat ini tentu adalah manusia itu sendiri, yang mana dalam organisai pondok pesantren modern maupun semi modern telah banyak ditemukan wadah-wadah pembelajaran organisasi yang memungkinkan pemimpin dapat belajar sebagai pemimpin dan terus belajar sebagai pemimpin, misalkan saja organisasi santri yang ada dalam pondok pesantren, yang mana mereka telah melakukan proses pembelajaran selama 24 jam setiap hari.
PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN
Pemimpin dan kepemimpinan merupakan dua elemen yang saling berkaitan. Artinya, kepemimpinan (style of the leader) merupakan cerminan dari karakter/perilaku pemimpinnya (leader behavior). Perpaduan atau sintesis antara "leader behavior dengan leader style" merupakan kunci keberhasilan pengelolaan organisasi; atau dalam skala yang lebih luas adalah pengelolaan daerah atau wilayah, dan bahkan negara.
Banyak pakar manajemen yang mengemukakan pendapatnya tentang kepemimpinan. Dalam hal ini dikemukakan, sebagai berikut: "Kepemimpinan adalah kegiatan-kegiatan untuk mempengaruhi orangorang agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok secara sukarela."[6]. Pemimpin adalah seseorang yang dapat mempersatukan orang-orang dan dapat mengarahkannya sedemikian rupa untuk mencapai tujuan tertentu. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh seorang pemimpin, maka ia harus mempunyai kemampuan untuk mengatur lingkungan kepemimpinannya. Kepemimpinan menurut Halpin Winer yang dikutip oleh Dadi Permadi bahwa : "Kepemimpinan yang menekankan dua dimensi perilaku pimpinan apa yang dia istilahkan "initiating structure" (memprakarsai struktur) dan "consideration" (pertimbangan). Memprakarsai struktur adalah perilaku pemimpin dalam menentukan hubungan kerja dengan bawahannya dan juga usahanya dalam membentuk pola-pola organisasi, saluran komunikasi dan prosedur kerja yang jelas. Sedangkan pertimbangan adalah perilaku pemimpin dalam menunjukkan persahabatan dan respek dalam hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya dalam suatu kerja."[7] Jadi, kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas seseorang atau kelompok orang untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Dari defenisi kepemimpinan itu dapat disimpulkan bahwa proses kepemimpinan adalah fungsi pemimpin, pengikut dan variabel situasional lainnya. Perlu diperhatikan bahwa defenisi tersebut tidak menyebutkan suatu jenis organisasi tertentu. Dalam situasi apa pun dimana seseorang berusaha mempengaruhi perilaku orang lain atau kelompok, maka sedang berlangsung kepemimpinan dari waktu ke waktu, apakah aktivitasnya dipusatkan dalam dunia usaha, pendidikan, rumah sakit, organisasi politik atau keluarga, masyarakat, bahkan bangsa dan Negara.
Sedangkan George R Terry, mengemukakan 8 (delapan) ciri mengenai kepemimpinan dari pemimpin yaitu :
1.      Energik, mempunyai kekuatan mental dan fisik;
2.      Stabilitas emosi, tidak boleh mempunyai prasangka jelek terhadap bawahannya, tidak cepat marah dan harus mempunyai kepercayaan diri yang cukup besar;
3.      Mempunyai pengetahuan tentang hubungan antara manusia;
4.      Motivasi pribadi, harus mempunyai keinginan untuk menjadi pemimpin dan dapat memotivasi diri sendiri;
5.      Kemampuan berkomunikasi, atau kecakapan dalam berkomunikasi dan atau bernegosiasi;
6.      Kemamapuan atau kecakapan dalam mengajar, menjelaskan, dan mengembangkan bawahan;
7.      Kemampuan sosial atau keahlian rasa sosial, agar dapat menjamin kepercayaan dan kesetiaan bawahannya, suka menolong, senang jika bawahannya maju, peramah, dan luwes dalam bergaul;
8.      Kemampuan teknik, atau kecakapan menganalisis, merencanakan, mengorganisasikan wewenang, mangambil keputusan dan mampu menyusun konsep.[8]
Kemudian, kepemimpinan yang berhasil di abad globalisasi menurut Dave Ulrich adalah: "Merupakan perkalian antara kredibilitas dan kapabilitas." Kredibilitas adalah ciri-ciri yang ada pada seorang pemimpin seperti kompetensi-kompetensi, sifatsifat, nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang bisa dipercaya baik oleh bawahan maupun oleh lingkungannya. Sedangkan kapabilitas adalah kamampuan pemimpin dalam menata visi, misi, dan strategi serta dalam mengembangkan sumber-sumber daya manusia untuk kepentingan memajukan organisasi dan atau wilayah kepemimpinannya." Kredibilitas pribadi yang ditampilkan pemimpin yang menunjukkan kompetensi seperti mempunyai kekuatan keahlian (expert power) disamping adanya sifat-sifat, nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang positif (moral character) bila dikalikan dengan kemampuan pemimpin dalam menata visi, misi, dan strategi organisasi/wilayah yang jelas akan merupakan suatu kekuatan dalam menjalankan roda organisasi/wilayah dalam rangka mencapai tujuannya.
Dalam Islam sendiri, Yamani mengemukakan bahwa dalam Islam pokok-pokok kepemimpinan didasarkan atas empat dasar falsafi (philosophische grondslagen), antara lain :
Pertama, Allah adalah hakim mutlak seluruh alam semesta dan segala isinya. Allah adalah malik an-nas, pemegang kedaulatan, pemilik kekuasaan, pemberi hukum. Manusia harus dipimpin dengan kepemimpinan Ilahiyah. Sistem hidup yang bersumber pada hal ini disebut sistem Islam, sedangkan sistem hidup yang bukan bersumber pada kepemimpinan Ilahiyah disebut kepemimpinan jahiliyah.
Kedua, Kepemimpinan manusia (qiyadah al-basyariyyah) yang mewujudkan hakimiyah Allah di bumi ini ialah nubuwwah. Nabi tidak hanya menyampaikan al-qanun al-ilahi dalam bentuk Kitabullah, tetapi juga pelaksana qanun itu. 'Seperangkat hukum saja tidak cukup untuk memperbaiki masyarakat. Supaya hukum sanggup menjamin kebahagiaan dan kebaikan manusia, diperlukan adanya kekuatan eksekutif atau pelaksana.
Ketiga, garis imamah melanjutkan garis Nubuwwah dalam memimpin umat. Setelah zaman para nabi berakhir dengan wafatnya Rasulullah Saw., kepemimpinan umat dilanjutkan oleh para imam yang diwariskan oleh Rasulullah dan ahl-albait-nya. Setelah zaman para nabi, datang zaman 'para imam.
Keempat, para faqih adalah khalifah para imam dan kepemimpinan umat dibebankan kepada mereka. Kepemimpinan Islam adalah kepemimpinan yang berdasarkan hukum Allah. Oleh karena itu, pemimpin haruslah orang yang paling tahu tentang hukum Ilahi. Setelah para imam tiada, kepemimpinan harus dipegang oleh para faqih yang memenuhi syarat-syarat syariat. Bila tak seorang pun faqih yang memenuhi syarat, harus dibentuk 'majelis fukaha'." Sesungguhnya, dalam Islam, figur pemimpin ideal yang menjadi contoh dan suri tauladan yang baik, bahkan menjadi rahmat bagi manusia (rahmatan linnas) dan rahmat bagi alam (rahmatan lil'alamin) adalah Muhammad Rasulullah Saw., sebagaimana dalam firman-Nya : "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."[9]
Sebenarnya, setiap manusia adalah pemimpin, minimal pemimpin terhadap seluruh metafisik dirinya. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas segala kepemimpinannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah Saw., yang maknanya sebagai berikut : "Ingatlah! Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya, seorang suami adalah pemimpin keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin bagi kehidupan rumah tangga suami dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya, dan seorang pembantu adalah pemimpin pada harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya. Ingatlah! Bahwa kalian adalah sebagai pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya."[10]
Kemudian, dalam Islam seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki sekurang-kurangnya 4 (empat) sifat dalam menjalankan kepemimpinannya, yakni : Sidiq, Tabligh, Amanah dan Fathanah (STAF). (1) Siddiq (jujur) sehingga ia dapat dipercaya; (2) Tabligh (penyampai) atau kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi, Amanah (bertanggung jawab) dalam menjalankan tugasnya, Fathanah (cerdas) dalam membuat perencanaan, visi, misi, strategi dan mengimplementasikannya.
Sehingga pada dasarnya kepemimpinan menurut Stephen Covey yakni sebagai perintis (pathfinding), penyelaras (aligning), pemberdaya (empowering), dan panutan (modeling).[11]
Hisham Yahya Altalib mengatakan, ada beberapa ciri penting yang menggambarkan kepemimpinan Islam yaitu[12] : Pertama, Setia kepada Allah. Pemimpin dan orang yang dipimpin terikat dengan kesetiaan kepada Allah;Kedua, Tujuan Islam secara menyeluruh. Pemimpin melihat tujuan organisasi bukan saja berdasarkan kepentingan kelompok, tetapi juga dalam ruang lingkup kepentingan Islam yang lebih luas; Ketiga, Berpegang pada syariat dan akhlak Islam. Pemimpin terikat dengan peraturan Islam, dan boleh menjadi pemimpin selama ia berpegang teguh pada perintah syariah. Dalam mengendalikan urusannya ia harus patuh kepada adab-adab Islam, khususnya ketika berurusan dengan golongan oposisi atau orang-orang yang tak sepaham; Keempat, Pengemban amanat. Pemimpin menerima kekuasaan sebagai amanah dari Allah Swt., yang disertai oleh tanggung jawab yang besar.
Al-Quran memerintahkan pemimpin melaksanakan tugasnya untuk Allah dan menunjukkan sikap yang baik kepada pengikut atau bawahannya." Dalam Al-Quran Allah Swt berfirman : "(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan."[13] Hal lain yang perlu diperhatikan adalah adanya prinsip-prinsip dasar dalam kepemimpinan Islam yakni : Musyawarah; Keadilan; dan Kebebasan berfikir. Secara ringkas bahwasanya pemimpin Islam bukanlah kepemimpinan tirani dan tanpa koordinasi. Tetapi ia mendasari dirinya dengan prinsip-prinsip Islam. Bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya secara obyektif dan dengan penuh rasa hormat, membuat keputusan seadil-adilnya, dan berjuang menciptakan kebebasan berfikir, pertukaran gagasan yang sehat dan bebas, saling kritik dan saling menasihati satu sama lain sedemikian rupa, sehingga para pengikut atau bawahan merasa senang mendiskusikan persoalan yang menjadi kepentingan dan tujuan bersama. Pemimpin Islam bertanggung jawab bukan hanya kepada pengikut atau bawahannya semata, tetapi yang jauh lebih penting adalah tanggung jawabnya kepada Allah Swt. selaku pengemban amanah kepemimpinan. Kemudian perlu dipahami bahwa seorang muslim diminta memberikan nasihat bila diperlukan, sebagaimana Hadits Nabi dari :Tamim bin Aws meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Agama adalah nasihat." Kami berkata: "Kepada siapa?" Beliau menjawab: "Kepada Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Pemimpin umat Islam dan kepada masyarakat kamu." [14]

PEMBELAJAR SEBAGAI PEMIMPIN
Pemimpin memprakarsai proses perubahan atau proses pembelajaran.
Menjadi pemimpin sejati berarti menjadi pembelajar seumur hidup. Untuk itu memulai dari diri sendiri adalah kemestian, karena anda tidak akan mampu memimpin orang lain jika anda tidak mampu memimpin diri sendiri.[15]
Manusia dilahirkan sebagai pembelajar (learner) yang dimungkinkan menjadi pemimpin (leader) bahkan tumbuh sampai ke tahap manusia guru (master). Dan belajar dapat sinonimkan dengan berubah, sehingga proses pembelajaran bermakna sama dengan proses perubahan. Belajar berarti berubah, dan berubah berarti belajar. Bila seseorang, sebuah organisasi, dan sebuah negara bangsa (nation state) tidak belajar atau sangat kurang belajar, maka ia mandeg, status quo, tak berubah. Dan karena perubahan adalah sesuatu yang konstan, maka seseorang, sebuah organisasi, dan sebuah negara bangsa yang kurang sekali belajar––terutama dari sejarah––akan terancam “gagal”, bangkrut, punah, hancur.
Landasan berpikir ini didasarkan bahwa sekitar 60 persen organisasi bisnis yang hancur digilas krisis multidimensi di Indonesia pada tahun 1997-1998 adalah organisasi-organisasi yang tidak mampu memperkembangkan dirinya menjadi apa yang populer disebut learning organization. Padahal sebenarnya organisai belajar sebagai suatu organisasi yang belajar secara kolektif dan bersemangat, dan terus menerus mentransformasikan dirinya pada pengumpulan, pengelolaan dan penggunaan pengetahuan yang lebih baik bagi keberhasilan perusahaan. Memberdayakan sumber daya manusianya baik di dalam atau di luar perusahaan untuk belajar sambil bekerja. Memanfaatkan teknologi untuk mengoptimalkan baik pembelajaran maupun produktivitas kerja.[16]
Organisasi-organisasi tersebut tidak mampu membangun dan memperkembangan budaya belajar di dalam dirinya, sehingga mereka amat sangat rentan terhadap perubahan, apalagi perubahan yang bersifat radikal seperti reformasi total. Ibarat wortel mentah yang cukup liat dan lentur, sistem politik-ekonomi-sosial-budaya-pertahanan-keamanan-nasional (poleksosbudhankamnas) Orde Baru telah “merebus” wortel mentah itu hingga menjadi begitu keras dan karenanya mudah dipatahkan, bahkan oleh seorang anak balita (bawah tiga tahun). Jangankan bermimpi menjadi perusahaan yang inovatif, menjadi perusahaan yang adaptif pun mayoritas konglomerasi Orde Baru tak cukup mampu. Sistem pengajaran nasional yang serba seragam dan militeristik, telah memasung kreativitas sekian generasi setelah angkatan 1928, yang kemudian menduduki posisi-posisi penting di perusahaan (dan pemerintahan).
Ada level personal, hancurnya karier para “eksekutif muda” yang menduduki jabatan-jabatan mentereng dalam waktu singkat (proses instant)––baik di pemerintahan, tetapi juga di berbagai konglomerasi–– mengukuhkan hipotesis bahwa kita semua sangat kurang belajar. Padahal belajar kepemimpinan tidak hanya sekedar untuk memimpin orang, tapi juga self leadership di samping itu juga self discipline. Karena ini adalah aktivitas yang paling berat karena berkaitan dengan diri sendiri dan tidak melibatkan orang lain.[17]
Sementara pada level nasional, sulitnya mereformasi lembaga tertinggi (MPR) dan lembaga-lembaga tinggi negara (Presiden, DPR, MA, dan BPK) menunjukkan bahwa sistem politik yang militeristik dan dikendalikan sepenuhnya oleh seorang “Raja” ––disebut sebagai sistem Demokrasi Pancasila––telah “sukses” menciptakan pejabat-pejabat tinggi negara yang “anti belajar” dan “anti sejarah”.
Sungguh celaka sebuah organisasi, apa lagi sebuah negara bangsa yang tidak memiliki pemimpin yang mempersepsi dirinya pertama-tama dan terutama sebagai longlife learner, pembelajar seumur hidup. Sungguh tragis nasib sebuah masyarakat yang hanya memiliki manusia-manusia lupa diri yang ingin menjadi longlife leader, pemimpin seumur hidup, entah sebagai Pemimpin Besar Revolusi atau pun sebagai Bapak Pembangunan Nasional, tetapi sesungguhnya sudah berhenti belajar.  Peter Drucker seorang pakar kepemimpinan yan telah berusia delapan puluh tahun dan telah mengkaji pembahasan tentang kepemimpinan selama lima puluh tahun mengatakan, “ kepemimpinan harus dipelajari dan anda kemampuan untuk mempelajarinya”.[18]
Menjadi pemimpin sejati atau untuk tidak kehilangan kesejatian sebagai pemimpin, mereka yang menduduki posisi-posisi kepemimpinan dalam organisasi perlu melihat dirinya sebagai longlife learner dan bukannya berambisi menjadi longlife leader tanpa proses pembelajaran yang tak berkesudahan, membebaskan diri dari apa yang “telah diketahuinya” (masa lalu dan masa kini) menuju kepada yang “belum diketahuinya” (masa depan). Pemimpin sejati tidak begitu bodoh untuk mempersamakan begitu saja makna “belajar” dengan “sekolah”, sehingga kalau sudah “lulus sekolah” tak lagi “belajar”. “Belajar” bagi pemimpin sejati dipahami sebagai proses yang berlangsung seumur hidup, bukan hanya di gedung sekolahan/universitas, bukan cuma dalam kelas dan ruang-ruang kuliah atau laboratorium yang steril dari persoalan-persoalan hidup yang nyata. “Belajar” bagi pemimpin sejati adalah di semua tempat, kepada semua orang, dan dalam segala situasi dan kondisi, baik yang menyenangkan, maupun yang tidak menyenangkan, baik saat dinilai “sukses” maupun “gagal”.
Pemimpin yang suka berubah, suka belajar. Pemimpin yang suka belajar, tidak anti perubahan, tetapi justru memprakarsai perubahan. Ia menggagas visi, “membuahi” realitas masa kini agar “melahirkan” realitas baru di masa depan, yang secara mendasar lebih baik. Ia membaca, mendengarkan, berpikir, ber-refleksi, bereksperimentasi, bertindak. Ia membangun kultur yang lebih manusiawi, otentik, berperadaban. Ia mengatur strategi, memompakan motivasi juang, melayani “konstituen” yang menyepakati dan menghormati “konstitusi” yang disepakati bersama.
Pembelajar sebagai pemimpin (learner as a leader) pada hakikatnya adalah pembelajar yang sudah terbebaskan dari pengajarnya. Ia belajar tanpa menunggu, tanpa disuruh, tanpa didikte, tanpa dipaksa oleh kaum pengajar atau pun pelatih. Ia belajar karena baginya hidup itu belajar, bukan sekadar belajar untuk hidup, apalagi belajar untuk dapat “hadiah” berupa gelar, jabatan/ kekuasaan, dan harta kekayaan. Ia belajar karena ia pembelajar. Ia tak bisa dan memang tidak berkeinginan untuk menolak perubahan, tetapi justru ingin menciptakan gelombang-gelombang perubahan. Ia belajar dan dengan cara itu ia makin membuat dirinya berproses menjadi manusiawi.
Pembelajar sebagai pemimpin menolak menjadi atau dijadikan longlife leader, sebuah pertanda bahwa ia menolak dikultuskan. Ia justru mempersiapkan sejumlah pengganti potensial, dan sangat sadar bahwa hanya dengan meninggalkan jenjang kepemimpinan, maka ia akan memasuki tahap tertinggi untuk menjadi manusia guru. Ia sadar bahwa kepemimpinan yang membedakan antara organisasinya dan organisasi lain, kepentingan kelompoknya dengan kepentingan kelompok oposisi, harus dicopot jika ia ingin menjadi “guru bangsa” dan bahkan “guru umat manusia”. Pembelajaran seorang pemimpin akan mendorong pertumbuhannya untuk mengubah paradigma organisasi.
Pembelajar sebagai pemimpin adalah mereka yang selalu mengejar pengetahuan diri (self knowledge), dan pengetahuan tentang sesama manusia. Pembelajar sebagai pemimpin tak hanya mempelajari teks, tetapi juga menafsirkan konteks ajaran-ajaran mulia di dunia (baik dalam arti Agama yang universal, maupun agama-agama yang partikular). Pembelajar sebagai pemimpin selalu berupaya menyelaraskan sikap-sikap dan pandangan hidupnya agar lebih berkesesuaian dengan nilai-nilai luhur dan mulia yang diyakininya. Pembelajar sebagai pemimpin menyediakan waktu untuk meningkatkan kompetensi teknis dan manajerialnya. Pembelajar sebagai pemimpin selalu mencari kesempatan untuk merenung, melakukan refleksi, retreat, tahajud, meditasi, dan berbagai kegiatan mengasah kearifan spiritual-nya (spiritual wisdom, tak berhenti pada spiritual intelligence). Pembelajar sebagai pemimpin mengembangkan kesadaran dalam dirinya bahwa tugas pokoknya adalah menciptakan realitas masa depan yang lebih baik dengan cara mengintervensi realitas masa kini sesuai kapasitas dirinya sebagai manusia.

MODEL PEMBELAJARAN KEPEMIMPINAN PESANTREN
Dengan suasana yang multikultural dalam pendidikan pesantren, memungkinkan sesorang dapat berinteraksi dengan lebih kompleks dengan yang lainnya. Terutama dalam merubah pola pikir mereka tentang multikultural sebagai seorang manusia yang beragam dan memberikan wawasan kepada mereka yang belajar memimpin dengan segala kompleksitas keberagaman, baik sifat, tingkah laku, berpikir, dan lain sebagainya. Beberapa hal yang dikembangkan dan perlu dikembangkan dalam proses pembelajaran kepemimpinan oleh pondok pesantren pada umumnya adalah:
A.    Belajar Memimpin Sejak usia Remaja
Semua manusia pada dasarnya adalah mahluk yang akan bertanggungjawab pada diri sendiri. Karena memang priotitas diri sendiri adalah hal penting dalam kepemimpinan, karena orang yang tidak mampu memimpin dirinya sendiri, tidak akan mungkin dapat memimpin orang lain. Warren Blank mengatakan, “Manusia tidak dilahirkan sebagai pemimpin. Kepemimpinan tidak terprogram dalam gen-gen ketururnan dan tidak ada manusia yang dalam jiwanya terbentuk sebagai pemimpin.”[19]
Adalah sebuah fakta sejarah tak terbantahkan bahwa perubahan di negeri ini digerakan oleh kaum muda. Kaum muda menorehkan perubahan besar dalam perjalanan bangsa ini melalui sejumlah momen bersejarah, mulai Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, sampai Proklamasi Kemerdekaan 1945. Bukan cuma melakukan perubahan, kaum muda masa itu pun kelak tampil memimpin bangsa ini. Soekarno-Hatta telah membuktikannya. Mereka adalah proklamator yang kemudian menjabat presiden dan wakil presiden dalam usia yang tergolong muda, 40-an tahun.
Bahkan dalam Islam sendiri Rasulullah adalah orang yang memulai memimpin sejak usia dini, sebelum lahir beliau sudah ditinggalkan oleh ayahnya dan belum genap 7 tahun sudah ditinggalkan oleh ibunya. Pada saat umur 20 tahunan sudah diberikan wahyu untuk disampaikan kepada ummatnya. Atau contoh shabat beliu Umar ibn Khattab yang telah menjadi pemimpin dari kaummnya sejak umur 15 tahun.
Pemimpin harus disipakan sejak dini, karena pemimpin dibentuk dengan latihan, pendidikan, peningkatan keahlian-keahlian dan pengarahan.[20] Orang tidak bisa hanya dalam sekejap mata menjadi pemimpin. Bisa saja jabatan pemimpin dapat disandang oleh seseorang tapi tidak bisa menjadikannya langsung menjadi pemimpin, karena pemimpin tidak secara otomatis dihormati dan diterima sebagai pemimpin dan mempenyai pengaruh yang positif pada anggota-anggota kelompok, pemimpin harus mempelajari beberapa keterampilan dan metode khusus.[21]
Pondok pesantren dengan dunia multikulturalnya telah dapat mengajarkan pada anak bangsa untuk memimpin. Walapun beberapa orang masih memandang sinis terhadap kehidupan dan pendidikan pondok pesantren dan menganggap mengekang hak asasi mereka, padahal pondok pesantren lah benteng pertahanan moral pemimpin masa depan. Dan keberadaan mereka menjadi pelindung dari Azab yang diturunkan oleh Allah.
Proses pembelajaran kepemimpinan di pondok pesantren telah di mulai sejak mereka masuk dalam pondok pesantren. pada tingkat pertama mereka harus dapat mengatur dirinya sendiri, mulai dari bangun tidur sampai bangun lagi, mencuci, mandi, dan mengurus keperluan mereka sendiri. Pada tingkat atas mereka sudah meluai memipin adik-adik kelas, baik sebagai pengurus di madrasah maupun di pondok (ma’had).

B.     Organisasi Santri
Organisasi adalah wadah dalam membentuk dan mempelajari kepemimpinan dan bagaimana menjadi seorang pemimpin. Organisasi merupakan sarana belajar, bagaimana berpikir, bertindak, dan mengembangkan potensi diri, baik hard skill maupun soft skill.
Pada pondok-pondok pesantren khalafi dan menganut sistem asrama, otoritas lebih merata, artinya beberapa keputusan didelegasikan atau dipercayakan ke beberapa unit. Seperti kegiatan-kegiatan santri di dalam asrama atau pondok.
Kegiatan-kegiatan santri dalam pondok dikoordinir dalam satuan organisasi santri/pelajar. Organisasi santri ini sengaja dibentuk oleh Pesantren sebagai media pembelajaran, pendidikan dan pelatihan santri dalam usaha menempa jiwa kepemimpinan. Dari berbagai kegiatan organisasi santri secara tidak langsung akan belajar makna demokrasi dan politik agar nantinya siap bila sudah harus terjun ke masyarakat.
Biasanya dalam organisasi ini juga dimulai dari proses pemilihan ketua, para calon ketua diminta untuk memberikan visi dan misi apabila mereka terpilih nanti. Persis dengan apa yang dilakukan para Capres dan Cawapres menjelang pemilihan umum di Indonesia. Setelah terpilih sebagai ketua dan wakil ketua membentuk formasi kabinet organisasi yang baru. Dan biasanya pengurus adalah mereka yang duduk di kelas II Aliyah dan sebagian kelas I Aliyah. Ketika formasi sudah terbentuk, maka pada hari pelantikan, akan disumpah dengan syahadat oleh Pimpinan Pondok. Mengingatkan pada bahwa apa yang kita pegang bukanlah kekuasaan melainkan tanggung jawab yang tidak hanya harus dipertanggung jawabkan pada mereka yang diurus dan Pimpinan Pondok melainkan juga pada Allah SWT.
Tantangan menjadi pemimpin organisasi santri adalah diberinya kesempatan oleh Pesantren untuk memompa kepemimpinan yang mana segala peraturan yang telah disepakati dalam pembahasan program kerja harus bisa tegakkan tidak hanya pada adik-adik kelas yang diurus namun juga pada diri mereka sendiri dan teman-teman sepengurusan. Beragamnya problem yang mewarnai masa kepengurusan menjadikan mereka dewasa dalam berpikir dan mengasah jiwa kepemimpinan.
Kepengurusan yang mereka jalankan selama 24 jam, sehingga memungkinkan bagi mereka untuk belajar bagaimana mengatur waktu untuk santri yang diururs dengan mengurus diri sendiri, karena mereka sendiri statusnya juga sebagai seorang santri.
Selain organisasi dalam pondok, beberapa organisasi juga yang melatih kepemimpinan dalam pondok pesantren, seperti kepramukaan, unit bakat, dan lain sebagainya. Lain halnya dengan sekolah/madrasah yang tidak menganut system asrama, walaupun mereka berada dalam organisasi OSIS, namun hanya terbatas pada saat-saat tertentu, sedangkan seluruh kegiatan berada di bawah kendali sekolah dan guru. Kalaupun mereka mempunyai kegiatan, hanya sebatas mengkoordinir kegiatan, tidak sampai menyentuh aspek sebagai pemimpin secara langsung.
Di samping itu juga, keaadaan yang tidak memungkinkan melatih kepemimpinan di sekolah yang tidak berasrama, dengan pergaulan bebas, meminum minuman atau merokok. Lain halnya dengan pesantren, yang sejak masuk sudah dipupuk jiwa mandiri dan dalam lingkungan yang “netral” menjajikan mereka dapat menjadi pemimpin ideal pada masa depan. Mereka tidak hanya sebatas memimpin, tapi terus dapat belajar bagaimana memimpin dan bagaimana belajar untuk meraih prestasi.

C.    Pendidikan Karakter
Yang tidak kalah penting saat ini menjadi pembicaraan hangat adalah soal pendiidkan karakter. Ini di sadarkan pada sikap dan perilaku amoral anak bangsa dan bahkan pejabat negara yang saat ini memimpin negeri.
Apalagi pemuda-pemuda saat ini yang sudah hidup hedonis, atas nama kebebasan dan hak asasi manusia melakukan sesuatu yang merusak masa depan bangsa. Tawuran antar pelajar adalah hal biasa terjadi di beberapa daerah terutama di ibu kota, seperti tawuran yan terjadi antara SMAN 6 Jakarta dengan SMAN 70,[22] atau tawuran yang terjadi antar mahasiswa di sebuah Universitas Negeri di Makasar.[23] Belum lagi sikap-sikap amoral lainnya yang tersebar dan termuat dalam media-media di daerah. Dengan keadaan seperti ini, apakah mungkin mereka dapat menjadi pemimpin yang mampu bertahan dan mempu membawa perubahan di negeri ini?.
Lain halnya dengan pondok pesantren, dengan suasana multikultural dan pendidikan kareakter pada setiap diri santri memberikan sebuah nilai moral positif dalam diri mereka. Maka pendidikan pesantren dapat menjadi alternatif satu-satunya rujukan pembelajaran kepemimpinan masa depan Indonesia.
Walaupun pemerintah melalui kemendikbud telah melakukan rancangan untuk pendidikan karakter yang pada intinya memuat: ketaatan beribadah, kejujuran, tanggungjawab, kedisiplinan, etos kerja, kemandirian, sinergi, kritis, kreatif dan inovatif, Visioner, kasih sayang dan kepedulian, keikhlasan, keadilan, kesederhanaan, nasiolisme, dan internasionalisme.[24]
Jika dicermati, sikap-sikap yang ingin ditanamkan dalam pendidikan karakter secara terintegrasi dari dahulu sampai saat ini telah dilakukan oleh pondok pesantren. oleh karena itu, pondok pesantren adalah tempat yang paling memungkinkan untuk melakukan pembelajaran kepemimpinan. Lembaga pendiidkan di luar pondok pesantren sangat susah mendapatkan jaminan, karena kondisi dan situasi pelaksanaan dan penerapannya pada pemuda dan pemudi tidak akan pernah efektif.

D.    Belajar Bersama/Jama’ah
Dalam suatu komunitas bahwa belajar menghasilkan suatu yang lebih dengan menampilkan hasil jauh lebih berarti daripada jumlah penampilan perorangan masing-masing anggotanya. Belajar bersama diawali dengan dialog yang memungkinkan setiap orang menemukan jati dirinya. Dengan dialog ini berlangsung kegiatan belajar untuk memahami pola interaksi dan peran masing-masing anggota dalam regu. Belajar beregu merupakan unsur penting, karena – regu bukan perorangan – merupakan unit belajar utama dalam organisasi.
Setiap orang hendaklah dapat belajar dari orang lain, dan terus mengembangkan potensi diri mereka sendiri. Karena Sebuah organisasi pembelajaran dapat digambarkan sebagai sebuah organisasi dimana orang-orang secara terus menerus memperluas kapasitas mereka untuk menciptakan hasil yang benar-benar mereka inginkan, dimana menggunakan pola pemikiran baru dan luas, dimana adanya kebebasan dalam menentukan cita-cita dan dimana orang-orang terus belajar bagaimana cara belajar bersama.[25]
Belajar bersama adalah peningkatan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi oleh dan dalam kelompok. Belajar dalam organisasi adalah peningkatan intelektual dan kapabilitas produksi yang diperoleh dari komitmen perusahaan dan kesempatan untuk melakukan perbaikan secara kontinyu.
Sedangkan karakteristik organisasi belajar menurut Marquardt meliputi belajar semua dan terus menerus, berpikir sistem, akses informasi, budaya kelembagaan positif, aspirasi dan konseptualisasi bersama, menyesuaikan, memperbaharui dan meningkatkan diri dengan ciri-ciri organisasi belajar:[26]
1.      Organisasi tidak melaksanakan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya
2.      Mempunyai kemampuan bersaing dan beradaptasi dengan perubahan yang cepat dalam lingkungan eksternalnya
3.      Terus menerus meningkatkan kemampuan dan menciptakan hasil yang sungguh-sungguh mereka inginkan dengan pola berpikir baru dan memberikan kebebasan tumbuhnya aspirasi kolektif
4.      Belajar dilakukan oleh organisasi secara menyeluruh, seolah-olah organisasi itu memiliki satu otak.
5.      Belajar berlangsung terus menerus dan terintegrasi dengan pekerjaan
6.      Kemampuan berfikir sistem sangat fundamental
7.      Tersedianya informasi dan sumber data yang diperlukan untuk keberhasilan organisasi
8.      Berkembangnya budaya kelembagaan yang mendukung, menghargai dan memicu belajar perorangan dan beregu.
9.      Kegiatan dilandaskan pada aspirasi, refleksi dan konseptualisasi bersama.
10.  Mampu menyesuaikan diri, memperbarui dan meningkatkan diri sebagai respon atas perubahan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
al-Bukahri, Muhammad ibn Isma’il ibn Ibrahin ibn al-Mugirah. 1999. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-Fikr.
al-Naisaburi, Muslim ibn al-Hajjaj Abu al-Hasan al-Qusyairi. 2000.  Shahih Muslim. Beirut : Dar al-Fikr, 2000.
al-Sajistani,  Abu Dawud Sulaiman ibn Ashash ibn Ishaq Ibn Basyir ibn Syaddad ibn ‘Amr al-Azdy. 2000. Sunan Abu Dawud. Beirut:  Darul Fikr. 2000.
Basyarahil, Thariq M. as-suwai dan Faisal Umar . 2002. Melahirkan Pemimpin Masa Depan. Jakarta: Gema Insani Press.
Covey, Stephen. The 8th habit from effectivness to Greatness. London: Simon & Schuster UK LTD
Gordon, Thomas. 1997.  Menjadi Pemimpin Efektif: Dasar untuk Manajemen Partisipatif dan Keterlibatan karyawan. terj. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
http://metrotvnews.com/, Jum’at 28 Oktober 2011
Muhaimin. 2009. Manajemen Pendidikan; Aplikasinya Dalam Penyusunan Rencana Pengembangan  Sekolah/Madrasah. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Permadi, Dadi. 2000. Manajemen Berbasis Sekolah dan Kepemimpinan Mandiri Kepala Sekolah. Bandung: PT. Sarana Panca Karya Nusa.
Swanson. Richard A dan Holton. Elwood, F. 2001. Foundation of Human Resource  Development. San Fransisco: Berrett-Koehler Publisher, Inc.
Syafi’i, Antonio. 2009. Muhammad SAW The Super Leader, Super Manager. Jakarta: Tazkia Publishing, 2009.
Terry , George R.. 2006. Prinsip-Prinsip Manajemen, Terj. Jakarta: Bumi Aksara.
Vivanews, Senin 19 September 2011
Zuhdi, Darmiyati, et.al. 2010. Pendidikan Karakter dengan pendekatan konperehensif. Yogyakarta: UNY Press.
Senge, Peter M.. 1996.  Fifth Discipline. terj. Jakarta: Binarupa Aksara.
Marquardt, MJ. 1996.  Building The Learning Organization. McGraw Hill Companies.




[1] Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam, UIN Malik Maulana Ibrahim Malang
[2] Muhaimin, Manajemen Pendidikan; Aplikasinya Dalam Penyusunan Rencana Pengembangan  Sekolah/Madrasah, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), 89
[3] Ibid.
[4] Thariq M. as-suwai dan Faisal Umar Basyarahil, Melahirkan Pemimpin Masa Depan, (Jakarta: GIP, 2002), xix.
[5] Muhammad ibn Isma’il ibn Ibrahin ibn al-Mugirah al-Bukahri, Shahih al-Bukhari, (Beirut: Dar al-Fikr, 1999), Juz 8, 21
[6] George R. Terry, Prinsip-Prinsip Manajemen, Terj.  (Jakarta: Bumi Aksara, 2006),  495
[7] Dadi Permadi, Manajemen Berbasis Sekolah dan Kepemimpinan Mandiri Kepala Sekolah, (Bandung: PT. Sarana Panca Karya Nusa, 2000),  35.
[8] George R Terry, Prinsip-Prinsip Manajemen, 124
[9] QS. al-Ahzab [33] : 21.
[10] Abu Dawud Sulaiman ibn Ashash ibn Ishaq Ibn Basyir ibn Syaddad ibn ‘Amr al-Azdy al-Sajistani, Sunan Abu Dawud, (Beirut:  Darul Fikr. 2000), Juz 8, 145.
[11] Stephen Covey, The 8th habit from effectivness to Greatness, (London: Simon & Schuster UK LTD), 114.
[12] Hisham Yahya Altalib 1991) , 55
[13] QS. al-Hajj [22] : 41.
[14] Muslim ibn al-Hajjaj Abu al-Hasan al-Qusyairi al-Naisaburi, Shahih Muslim (Beirut : Dar al-Fikr, 2000), Juz 1, 182.
[15] Antonio Syafi’I, Muhammad SAW The Super Leader, Super Manager, (Jakarta: Tazkia Publishing, 2009), 67
[16] Swanson, Richard A dan Holton, Elwood, F, Foundation of Human Resource  Development, (San Fransisco: Berrett-Koehler Publisher, Inc., 2001), 38.
[17] Antonio Syafi’I, Muhammad SAW The Super Leader, Super Manager, 73.
[18] Basyarahil, Melahirkan Pemimpin…, 34.
[19] Basyarahil, Melahirkan Pemimpin…, 34.
[20] Ibid
[21] Thomas Gordon, Menjadi Pemimpin Efektif: Dasar untuk Manajemen Partisipatif dan Keterlibatan karyawan, terj. (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1997), 17
[22] Vivanews, Senin 19 September 2011
[23] http://metrotvnews.com/, Jum’at 28 Oktober 2011
[24] Baca Darmiyati Zuhdi, et.al. Pendidikan Karakter dengan pendekatan konperehensif, ( Yogyakarta: UNY Press, 2010), 15-16
[25] Peter M. Senge, Fifth Discipline, terj. (Jakarta: Binarupa Aksara, 1996), 9
[26] Marquardt, MJ , Building The Learning Organization. (McGraw Hill Companies, 1996), 3

Weli Arjuna Wiwaha

Hiduplah Untuk Mencintai dan Bukan Untuk Menyakiti

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama