Pages

Subscribe:

Jumat, 11 Mei 2012

KHUTBAH JUM'AT: PENDIDIKAN MASA DEPAN ANAK


Tema khutbah kali ini tentang pendidikan anak-anak. Jum’at kali ini sangat terik dan panas, ditambah macet di beberapa ruas jalan utama Kota Malang. Maklum Sholat Jum’at kali ini di Masjid Sabilillah, persis di perempatan ujung Jalan Borobudur dan Jalan Ahmad Yani. Jama’ah jum’at sangat ramai, tidak hanya dihadiri oleh jama’ah sekitar tapi juga anak-anak SD Islam Sabilillah yang ada di samping masjid.
Bulan-bulan ini adalah masa di mana orang tua sibuk mempersiapkan pendidikan lanjutan anak-anak mereka, baik yang masuk taman kanak-kanan, sekolah dasar, sMP, SMA, dan ke perguruan tinggi. Tidak sedikit tentu biaya untuk mempersipakannya, karena segala  baru, mulai dari peralatan sekolah, seragam, dan bahkan kendaraan bagi mereka yang sudah beranjak remaja.
Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi semua kaum muslimin dan muslimat tanpa terkecuali, tidak hanya laki-laki tapi perempuan juga. Karena Allah sudah memberikan potensi yang sama dalam mencari ilmu bagi laki-laki dan perempuan.menuntut ilmu adalah keharusan dan sunnatullah bagi semua orang mulai dari dia dilahairkan dampai ia meninggal dunia. Dalam hadis yang sangat populer dijelaskan:
أطلب العلم من المهد إلى اللحد
Artinya: Tuntutlah Ilmu dari sejak Buaian sampai ke liang lahad

Hadis ini memang masyhur di kalangan kaum muslimin, walaapun pada dasarnya tidak ada dasar dan asalnya. Tapi dapat memberikan sebuah makna bahwa menuntut ilmu itu tidak hanya bagi mereka yang sudah mengenal akan huruf, tapi mereka yang tidak mengenal apapun juga harus menuntut ilmu. Lalu seperti apa bentuk menuntut ilmu bagai mereka yang belum tahu apapun. Tentu menuntt ilmu orang yang tidak mengetahui apapun berbeda dengan mereka yang sudah mengenal hruuf dan dapat membaca. Ini mengisyaratkan bahwa pendidikan anak adalah kewajiban orang tua, karena ditangan merekalah anak akan terbentuk seperti apa kelak saat dewasa.
Seorang bayi tidak mengenal apapun tentang dunia orang dewasa, walapun Allah yang maha kuasa telah memberikan beberapa pancaindera untuk bisa menangkap sesuatu yang dianggap baik dan buruk oleh si bayi, tapi baik dan buruk itu dapat dirasakan setelah ia memegangnya atau menciumnya. Dan ia tidak tahu sesuatu itu berbahaya atau bermanfaat bagi dirinya. Maka di sini orang mempunyai peranan dalam mengarahkan seorang anak dapat mengenal apa yang baik bagi dirinya dan tidak baik.
Manusia butuh waktu yang cukup lama untuk mengenal sesuatu yang ada disekelilingnya, lain halnya dengan binatang yang sejak lahir dalam beberapa menit sudah bisa berdiri dan mencari makan sendiri. tapi manusia butuh proses untuk bisa berjalan dan mengetahu segala sesuatu di sekelililingnya. Di situlah kemudian letak perbedaan antara manusia dan hewan lainnya, di mana Allah memberikan pengetahuan lebih cepat karena binatang cukup hanya menikmati apa yang sudah diberikan Allah berupa Hissi dan tidak diberikan akal. Lain halnya dengan manusia ia harus mencari sendiri apa yang baik dan buruk untuk dirinya, karena ia mempunyai akal untuk berpikir dan bertahan hidup.
Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya tidak bahagia dalam kehidupannya, dan tidak ada menginginkan anaknya terjerumus dalam kesesatan walapun orang tuanya berada dalam kesesatan. Seperti pepatah yang mengatakan, “ seganas-ganas singa, tidak akan mungkin memakan anaknya sendiri”. artinya sejelek-jelek orang tua, tidak ada yang menginginkan anaknya sengsara, menderita, berada di jalan sesat dan lains ebagainya. Tapi kadang kesalahan orang tua akan pendidikan anaknya menjadikan apa yang diharapkan orang tua berbeda dengan hhasilnya. Apdahal semua anak sejak lahir berada dalam keadaaan fitrah, artinya cenderung kepada kebaikan, tapi karena pendiidkan orang tua yang tidak baik menjadikannya berubah dari fitrah semula. Dalam sebuah hadis disebutkan:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Artinya: “….dan tiada satu pun dari anak yang lahir kecuali dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikan ia beragama yahudi, Nasrani, atau Majusi…”
Seorang anak saat kecil tidak bisa mengarahkan dirinya pada fitrah yang telah ia dapatkan sejak lahir. Orang tualah yang akan menjadikannya baik dan buruk atau keluar dari fitrah yang sudah ada.
Pendidikan dalam Islam pada dasarnya adalah menjaga fitrah yang Allah telah berikan kepada manusia sejak lahir setelah persaksiannya di dalam kandungan ibunya bahwa ia mengakui Allah yang esa. Apakah anak itu dilahirkan dari orang tua yang muslim atau orang tua yang kafir. Oleh karena itu pada dasarnya pendidikan islam bukan hanya sekedar bisa membaca dan menulis, tapi bagaimana dengan pengetahuan yang ia dapatkan menjadikannya lebih dekat kepada Allah dan mengakui keangungannya dan tidak ingkar. Seorang Einstein yang kafir saja diakhir hayatnya mengakui bahwa ilmu tanpa agama maka akan binasa.
Untuk itu, marilah dalam moment bulan-bulan ini, kita perlu memikirkan lebih mendalam pendidikan anak-anak, kemana dan di mana mereka akan belajar, dan apakah fitrahnya dalam berjalan sesuai dengan keinginan dari Allah dan Rasulnya. Tapi kita tidak membatasi pendidikan anak-anak, terutama pada saat mereka berusia remaja, taruh saja saat mereka beranjak Aliyah atau SMA. Pada umur-umur ini, seorang anak sudah dapat mengenali bakat dan minatnya, tapi masih perlu bimbingan orang tua dalam memberikan pemantapan sisi positif dan negatifnya.
Orang tua jangan sampai salah jalan dalam memberikan pendidikan kepada anaknya, karena ia akan menjadi bekal bagi orang tua pada saat sudah tidak ada di dunia ini lagi, yaitu do’a anak sholeh yang selalu dipanjatkan.
Ayat berikut perlu menjadi renungan bagi kita agar kita dapat berbuat yang terbaik bagi diri kita dan keluarga kita. Dalam surah at-Tahrim Ayat 6;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Arinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
Menjaga dari dan keluarga dari api neraka adalah kewajiban individu, di mana orang tua sebagai kepala keluarga mempunyai tanggung jawab lebih besar kepada istri dan anaknya, begitu juga sebaliknya pada saat istri lebih tahu akan agama, maka ia bertanggungjawab atas suami dan anaknya, begitu juga anak yang telah baligh mendapatkan kewajiban juga menjaga diri dan keluarganya dari api neraka.
Menjaga diri dan keluarga dari api neraka tidak lain dan tidak bukan dengan ilmu mengetahui bagaimana seharusnya seorang hamba kepada tuannya beribadah. Tidak hanya sekedar melaksanakan tapi tidak tahu ilmunya, atau sebaliknya hanya mengetahui ilmunya tapi tidak mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dan ilmu tidak bisa didapatkan di jalanan tau mewariskannya dari orang tua yang pintar. Ilmu harus dipelajari sejak kecil sampai seseorang dijemput malaikat maut. Saat ini untuk mendapatkan ilmu dengan pendidikan pada jenjang-jenjang tertentu, terutama anak-anak. Kecuali kita mampu untuk mengajarkan anak-anak sendiri di rumah.
Ilmu akan menghantarkan seseorang kepada kebaikan, apalagi dalam keluarga, tidak akan susah untuk membentuk keluarga sakinah jika semua orang yang ada dalam rumah tangga berilmu. Karena semua memandang permasalahan dengan ilmu dan bukan hawa nafsu belaka.
Semoga Allah memberikan kita kebaikan dari anak-anak sholeh yang telah kita didik dan menjadikan negeri ini menjadi lebih baik dan terhindar dari segala musibah duniawi. Amin.
Wallahu ‘a’lam bi al-shawab

0 komentar: