Tema
khutbah kali ini tentang pendidikan anak-anak. Jum’at kali ini sangat terik dan
panas, ditambah macet di beberapa ruas jalan utama Kota Malang. Maklum Sholat
Jum’at kali ini di Masjid Sabilillah, persis di perempatan ujung Jalan
Borobudur dan Jalan Ahmad Yani. Jama’ah jum’at sangat ramai, tidak hanya
dihadiri oleh jama’ah sekitar tapi juga anak-anak SD Islam Sabilillah yang ada
di samping masjid.
Bulan-bulan
ini adalah masa di mana orang tua sibuk mempersiapkan pendidikan lanjutan
anak-anak mereka, baik yang masuk taman kanak-kanan, sekolah dasar, sMP, SMA,
dan ke perguruan tinggi. Tidak sedikit tentu biaya untuk mempersipakannya,
karena segala baru, mulai dari peralatan
sekolah, seragam, dan bahkan kendaraan bagi mereka yang sudah beranjak remaja.
Menuntut
ilmu adalah kewajiban bagi semua kaum muslimin dan muslimat tanpa terkecuali,
tidak hanya laki-laki tapi perempuan juga. Karena Allah sudah memberikan
potensi yang sama dalam mencari ilmu bagi laki-laki dan perempuan.menuntut ilmu
adalah keharusan dan sunnatullah bagi semua orang mulai dari dia dilahairkan
dampai ia meninggal dunia. Dalam hadis yang sangat populer dijelaskan:
أطلب العلم من
المهد إلى اللحد
Artinya:
Tuntutlah Ilmu dari sejak Buaian sampai ke liang lahad
Hadis
ini memang masyhur di kalangan kaum muslimin, walaapun pada dasarnya tidak ada
dasar dan asalnya. Tapi dapat memberikan sebuah makna bahwa menuntut ilmu itu
tidak hanya bagi mereka yang sudah mengenal akan huruf, tapi mereka yang tidak
mengenal apapun juga harus menuntut ilmu. Lalu seperti apa bentuk menuntut ilmu
bagai mereka yang belum tahu apapun. Tentu menuntt ilmu orang yang tidak
mengetahui apapun berbeda dengan mereka yang sudah mengenal hruuf dan dapat
membaca. Ini mengisyaratkan bahwa pendidikan anak adalah kewajiban orang tua,
karena ditangan merekalah anak akan terbentuk seperti apa kelak saat dewasa.
Seorang
bayi tidak mengenal apapun tentang dunia orang dewasa, walapun Allah yang maha
kuasa telah memberikan beberapa pancaindera untuk bisa menangkap sesuatu yang
dianggap baik dan buruk oleh si bayi, tapi baik dan buruk itu dapat dirasakan
setelah ia memegangnya atau menciumnya. Dan ia tidak tahu sesuatu itu berbahaya
atau bermanfaat bagi dirinya. Maka di sini orang mempunyai peranan dalam mengarahkan
seorang anak dapat mengenal apa yang baik bagi dirinya dan tidak baik.
Manusia
butuh waktu yang cukup lama untuk mengenal sesuatu yang ada disekelilingnya,
lain halnya dengan binatang yang sejak lahir dalam beberapa menit sudah bisa
berdiri dan mencari makan sendiri. tapi manusia butuh proses untuk bisa
berjalan dan mengetahu segala sesuatu di sekelililingnya. Di situlah kemudian
letak perbedaan antara manusia dan hewan lainnya, di mana Allah memberikan
pengetahuan lebih cepat karena binatang cukup hanya menikmati apa yang sudah
diberikan Allah berupa Hissi dan tidak diberikan akal. Lain halnya dengan
manusia ia harus mencari sendiri apa yang baik dan buruk untuk dirinya, karena
ia mempunyai akal untuk berpikir dan bertahan hidup.
Tidak
ada orang tua yang menginginkan anaknya tidak bahagia dalam kehidupannya, dan
tidak ada menginginkan anaknya terjerumus dalam kesesatan walapun orang tuanya
berada dalam kesesatan. Seperti pepatah yang mengatakan, “ seganas-ganas singa,
tidak akan mungkin memakan anaknya sendiri”. artinya sejelek-jelek orang tua,
tidak ada yang menginginkan anaknya sengsara, menderita, berada di jalan sesat
dan lains ebagainya. Tapi kadang kesalahan orang tua akan pendidikan anaknya
menjadikan apa yang diharapkan orang tua berbeda dengan hhasilnya. Apdahal
semua anak sejak lahir berada dalam keadaaan fitrah, artinya cenderung kepada
kebaikan, tapi karena pendiidkan orang tua yang tidak baik menjadikannya
berubah dari fitrah semula. Dalam sebuah hadis disebutkan:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ
إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ أَوْ
يُمَجِّسَانِهِ
Artinya: “….dan tiada satu pun dari anak yang lahir kecuali
dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikan ia beragama yahudi,
Nasrani, atau Majusi…”
Seorang
anak saat kecil tidak bisa mengarahkan dirinya pada fitrah yang telah ia
dapatkan sejak lahir. Orang tualah yang akan menjadikannya baik dan buruk atau
keluar dari fitrah yang sudah ada.
Pendidikan
dalam Islam pada dasarnya adalah menjaga fitrah yang Allah telah berikan kepada
manusia sejak lahir setelah persaksiannya di dalam kandungan ibunya bahwa ia
mengakui Allah yang esa. Apakah anak itu dilahirkan dari orang tua yang muslim
atau orang tua yang kafir. Oleh karena itu pada dasarnya pendidikan islam bukan
hanya sekedar bisa membaca dan menulis, tapi bagaimana dengan pengetahuan yang
ia dapatkan menjadikannya lebih dekat kepada Allah dan mengakui keangungannya
dan tidak ingkar. Seorang Einstein yang kafir saja diakhir hayatnya mengakui
bahwa ilmu tanpa agama maka akan binasa.
Untuk
itu, marilah dalam moment bulan-bulan ini, kita perlu memikirkan lebih mendalam
pendidikan anak-anak, kemana dan di mana mereka akan belajar, dan apakah
fitrahnya dalam berjalan sesuai dengan keinginan dari Allah dan Rasulnya. Tapi
kita tidak membatasi pendidikan anak-anak, terutama pada saat mereka berusia
remaja, taruh saja saat mereka beranjak Aliyah atau SMA. Pada umur-umur ini,
seorang anak sudah dapat mengenali bakat dan minatnya, tapi masih perlu
bimbingan orang tua dalam memberikan pemantapan sisi positif dan negatifnya.
Orang
tua jangan sampai salah jalan dalam memberikan pendidikan kepada anaknya,
karena ia akan menjadi bekal bagi orang tua pada saat sudah tidak ada di dunia
ini lagi, yaitu do’a anak sholeh yang selalu dipanjatkan.
Ayat
berikut perlu menjadi renungan bagi kita agar kita dapat berbuat yang terbaik
bagi diri kita dan keluarga kita. Dalam surah at-Tahrim Ayat 6;
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Arinya:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka…”
Menjaga dari dan keluarga dari api neraka adalah kewajiban
individu, di mana orang tua sebagai kepala keluarga mempunyai tanggung jawab
lebih besar kepada istri dan anaknya, begitu juga sebaliknya pada saat istri
lebih tahu akan agama, maka ia bertanggungjawab atas suami dan anaknya, begitu
juga anak yang telah baligh mendapatkan kewajiban juga menjaga diri dan
keluarganya dari api neraka.
Menjaga diri dan keluarga dari api neraka tidak lain dan tidak
bukan dengan ilmu mengetahui bagaimana seharusnya seorang hamba kepada tuannya
beribadah. Tidak hanya sekedar melaksanakan tapi tidak tahu ilmunya, atau
sebaliknya hanya mengetahui ilmunya tapi tidak mempraktikkannya dalam kehidupan
sehari-hari.
Dan ilmu tidak bisa didapatkan di jalanan tau mewariskannya dari
orang tua yang pintar. Ilmu harus dipelajari sejak kecil sampai seseorang
dijemput malaikat maut. Saat ini untuk mendapatkan ilmu dengan pendidikan pada
jenjang-jenjang tertentu, terutama anak-anak. Kecuali kita mampu untuk
mengajarkan anak-anak sendiri di rumah.
Ilmu akan menghantarkan seseorang kepada kebaikan, apalagi dalam
keluarga, tidak akan susah untuk membentuk keluarga sakinah jika semua orang
yang ada dalam rumah tangga berilmu. Karena semua memandang permasalahan dengan
ilmu dan bukan hawa nafsu belaka.
Semoga Allah memberikan kita kebaikan dari anak-anak sholeh yang
telah kita didik dan menjadikan negeri ini menjadi lebih baik dan terhindar
dari segala musibah duniawi. Amin.
Wallahu ‘a’lam bi al-shawab
Tags
KHUTBAH AL-YAUM