Tema
khutbah pada jum’at kali ini adalah masalah waktu, di Masjid Jabal Rahmah Perum
Dinoyo Permai Komplek Yayasan Wahid Hasyim Malang.
Waktu
adalah sesuatu yang tidak pernah berhenti, ia berjalan terus sesuai dengan
perkembangan zaman. Ia tidak diam atau berhenti karena suatu peristiwa besar
atau mungkin hari kiamat. Bahkan waktu di akhir nanti akan lebih lama daripada
waktu dalam perhitungan manusia.
Karena
waktu terus berjalan dan tidak berhenti, maka manusia seharusnya juga terus
bergerak ke depan mengikuti waktu dan tidak diam menunggu sesutau yang tidak
pasti. Kalau tidak, maka waktu akan luput dari pandangannya dan tidak akan
pernah kembali untuk melakukannya kembali. Karena waktu terus bdrjalan, maka
seseorang seharusnya berada pada waktu itu atau berada di depan waktu, dan
bukan sebaliknya berada di belakang waktu. Ini artinya seseorang dituntut untuk
selalu melakukan pekerjaan terencana agar ia tidak terlewati oleh waktu.
Allah
subhanahu wa ta’ala telah memebrikan sebuah gambaran, bagaimana seorang
muslim melakukan sebuah perencanaan waktu dengan berpedoman pada apa yang telah
ia lakukan sebelumnya. Dalam Surah al-Hashr ayat 18 ;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ
مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ
اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari
esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui
apa yang kamu kerjakan.”
Ayat
ini memberikan gambaran bagaimana seseorang harus melakukan perencanaan dalam
kehidupannya, apa yang akan ia lakukan di masa depan dengan berpedoman pada apa
yang telah ia lakukan sebelumnya. Agar ia tidak terjatuh dalam kesalahan yang
sama pada masa akan datang. Manusia melakukan kesalahan adalah sesuatu yang
wajar, tapi ia tidak boleh mengulanginya lagi melakukan kesalahan, apalagi
kemaksiatan yang membawa pelakunya pada pengingkaran kepada Allah. Manusia yang
mempergunakan akalnya tidak mungkin melakukan kesalahan dua kali, kecuali ia
memang sengaja melakukan kesalahan tersebut.
Waktu
begitu sangat berharga, sehingga Allah sendiri berulang kali bersumpah dengan
waktu dalam al-Qur’an agar umat manusia tidak melalaikannya. karena manusia
sering berpikir melakukan sesuatu pada masa akan datang, padahal belum tentu ia
dapat melakukannya di masa akan datang. Oleh karena itu Rasulullah juga
memberikan sebuah peringatan dalam hadisnya;
أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ
سَبِيلٍ
وَكَانَ
ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ
فَلَا تَنْتَظِرْ
الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ
لِمَوْتِكَ
Artinya: “….Rasulullah memegang pundak saya dan berkata, “
jadilah kamu di dunia ini seolah-olah orang asing atau ibnu sabil yang
melakukan perjalan jauh”, kemudia Ibnu ‘Umar Berkata, “ kalau kamu sudah berada
di waktu pagi, maka jangan menunggu waktu sore. Dan pergunakanlah masa sehatmu
sebelum sakitmu dan masa hidupmu sebelum matimu”.
Hadis
ini diriwatkan dari Abdullah Ibnu ‘Umar dalam kitab Shahih Bukhari. Hadis ini
memberikan pelajaran kepada umat manusia untuk tidak menunda-nunda waktu, jika
pada saat itu bisa dilakukan, apalagi perbuatan baik atau amal sholeh.
Sholat-sholat fardu sudah tertentu waktunya dan sebaik-baik pelaksanaannya
adalah pada awal waktu, sehingga seyogyanya untuk tidak menundanya sampai akhir
waktu, apalagi sampai waktu tahrim (diharamkan shalat). Atau pada saat orang
bisa menuntut ilmu pada saat ini, maka ia tidak boleh menundanya dengan
mengatakan, “masih ada waktu”.
Waktu
hari ini tidak akan pernah sama dengan waktu di esok hari, apalagi masa akan
datang. Untuk itu seseorang dari semenjak ia lahir ke dunia ini sampai tua,
harus dapat mempergunakan waktu dengan sebaik mungkin.
Dengan
tegas lagi Rasulullah memberikan gamabaran bagaimana pentingnya mempergunakan
waktu yang ada, agar orang tidak menyesal dengan apa yang telah ia perbuat.
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ, وَصِحَّتَكَ
قَبْلَ سَقَمِكَ, وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ, وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ, وَحَيَاتَكَ
قَبْلَ مَوْتِكَ"
Artinya: “…Pergunakanlah lima waktu sebelum datang lima lainnya,
masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu
sebelum masa fakirmu, masa luangmu sebelum masa sempitmu, dan masa hidupmu
sebelum matimu”.
Lima
perkara di atas adalah perkara-perkara yang biasanya selalu diremehkan oleh
semua orang. Karena merasa ada waktu lain, sehingga selalu menunda dan
mengabaikannya. Pada masa muda orang sering beranggapan untuk dipergunakan
hura-hura dan menikmati kehidupan dunia. Mereka menganggap kehidupan dunia
hanya sekali, sehingga bersenang-senang adalah jalan untuk menikmati semua,
karena di akhir hayat tidak akan pernah dapat menikmatinya. Pikiran dan
anggapan ini tentu sangat keliru, hidup tidak hanya untuk di dunia ini, tapi
kehidupan yang abadi di kahirat amsih menanti seseorang. Dan bahkan sebelum
yaum al-hisab, seseorang berada di alam kubur yang jarahnya tidak pernah ada
yang tahu, kapan hari kiamat terjadi. Anggapan yang paling sederhana pada masa
muda adalah, masih ada masa tua untuk melakukannya. Padahal masa tua tidak akan
pernah sama dengan masa muda, kalau ia mendapatkan masa tua. Tapi jika ia tidak
mendapatkan masa tuanya, tentu kerugian besar akan didapatkan di akhirat.
Begitu
juga dengan masa-masa sehat seseorang, sering kali tidak dipergunakan dengan
sebaik mungkin dan bahkan cenderung merugikan dirinya sdndiri. taruh saja
merokok yang secara akal tidak memberikan manfaat sama sekali bagi pelakunya,
bahkan cendrung merusak dirinya dan memperpendek masa hidupnya. Masa sehat
adalah masa di mana orang bergairah untuk melakukan kebajikan dan amal sholeh,
maka jangan sampai menunda hal yang dapat dilakukan saat sehat, karena setelah
sakit tidak ada perbuatan yang dapat dinikmati dengan baik. tidak hanya
penyakit yang akut, penyakit seperti pusing saja orang tidak bisa melakukan
apapun. Oleh karena itu, sehat adalah sebuah nikmat yang tidak bisa tergantikan
dengan materi sekalipun.
Masa
kaya juga masa di mana orang dapat melakukan kebajikann lebih banyak daripada
mereka yang fakir atau miskin. Dengan amal jariyah, ia akan mendapatkan pahala
besar dari Allah subhanahu wa ta’ala. Baik berupa shadaqah, infaq,
zakat, waqaf, dan lain sebagainya. Kekayaan dapat mendekatkan diri seorang
hamba kepada sang khalik dan begitu juga sebaliknya dapat menjauhkannya. Di
saat harta kekayaan diperguankan untuk kebaikan, maka akan mendekatkan
pelakunya kepada sang khalik, tapi di saat ia mempergunakannya untuk
kemaksiatan, maka kehancuranlah yang akan ia dapatkan. Di akhirat nanti, orang
yang mempunyai harta akan dimintai pertanggungjawabannya dari hartanya. Yaitu
hartanya ia dapatkann dari mana dan ia pergunakan untuk apa. Oleh karena itu,
masa kaya adalah masa yang paling baik untuk melakukan amal sholeh, tapi tentu
orang msikin bukan berarti tidak dapat melakukan amal sholeh seperti bersedekah.
Memanfaatkan
waktu saat luang adalah kesempatan besar untuk melakukan hal-hal yang
bermanfaat. Sangat banyak orang merasa diri sibuk, tapi hanya jalan di tempat,
tidak pernah maju start ke depan, hanya diam dan tidak melangkah walapun
bergerak. Lebih parah lagi adalah orang yang mempunyai waktu luang banyak tapi
diisi dengan berdiam diri dan menganggur. Kenikmatan tidak didapatkan, hasil
pun nihil, tidak ada apa. Sangat benar jika perkara yang paling jahat di dunia
ini adalah menganggur.
Dan
yang tidak kalah penting adalah bagaimana seseorang memanfaatkan masa hidupnya
untuk beramal ibadah dan bekerja sebelum ajal datang menjemput. Kalau empat
perkara di atas masih ada ruang untuk sedikit bernapas, tapi kematian tidak
akan pernah dapat memberikan peluang manusia lagi untuk kembali ke dunia
walapun hanya sesaat. Semua amal ibadah akan terputus, kecuali tiga perkara
kalau ia pernah melakukannya, yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan
anak soleh yang selalu mendo’akannya.
Kenapa
begitu pentingnya menggunakan waktu dan tidak menunda pelaksanaannya. Menurut Syaikh
Yusuf al-Qardawy, pertama; tidak ada orang yang tahu apakah ia masih
dapat hidup esok hari. Hari ini mungkin ia masih dapat melakukannya, tapi besok
tidak ada jaminan untuk tetap hidup. Oleh karena itu, pekerjaan apalagi amal
sholeh tidak boleh ditunda dengan mengatak, “besok, besok, dan besok”. Kedua;
tidak yang bisa menjamin kalaupun hari esok masih bisa hidup tapi tidak
menjamin kesibukan lain lagi akan melalaikannya untuk melakukan pekerjaan
sebelumnya, dan tetap akan mengatakan, “besok”.
Dalam
memanfaatkan waktu, seseorang juga haru memperhatikan keperluan dari amal
perbuatan yang ia lakukan. Artinya tidak semua perkara dilakukan sembarangan,
tapi harus ada prioritas. Dalam masalah agama, tentu hal yang wajib diutamakan,
baru kemudian sunnah dan mubah. Prioritas yang dilakukan adalah dengan tidak
menunda pekerjaan yang harus diselesaikan saat itu juga.
Begitu
pentingnya waktu, tidak ada seorang pun yang dapat luput darinya, sehingga
seseorang tidak boleh berhenti dan berdiam diri saja. dunia terus berubah dan
berkembang, kalau tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin, maka kita
akan tergilas oleh waktu dan zaman. Inilah khutbah jum’at kali ini, semoga
bermanfaat dan kita dapat memanfaatkan waktu dengan baik.
Tags
KHUTBAH AL-YAUM