Pages

Subscribe:

Jumat, 04 Mei 2012

KHUTBAH JUM'AT: MENUNDA WAKTU


Tema khutbah pada jum’at kali ini adalah masalah waktu, di Masjid Jabal Rahmah Perum Dinoyo Permai Komplek Yayasan Wahid Hasyim Malang.
Waktu adalah sesuatu yang tidak pernah berhenti, ia berjalan terus sesuai dengan perkembangan zaman. Ia tidak diam atau berhenti karena suatu peristiwa besar atau mungkin hari kiamat. Bahkan waktu di akhir nanti akan lebih lama daripada waktu dalam perhitungan manusia.
Karena waktu terus berjalan dan tidak berhenti, maka manusia seharusnya juga terus bergerak ke depan mengikuti waktu dan tidak diam menunggu sesutau yang tidak pasti. Kalau tidak, maka waktu akan luput dari pandangannya dan tidak akan pernah kembali untuk melakukannya kembali. Karena waktu terus bdrjalan, maka seseorang seharusnya berada pada waktu itu atau berada di depan waktu, dan bukan sebaliknya berada di belakang waktu. Ini artinya seseorang dituntut untuk selalu melakukan pekerjaan terencana agar ia tidak terlewati oleh waktu.
Allah subhanahu wa ta’ala telah memebrikan sebuah gambaran, bagaimana seorang muslim melakukan sebuah perencanaan waktu dengan berpedoman pada apa yang telah ia lakukan sebelumnya. Dalam Surah al-Hashr ayat 18 ;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Ayat ini memberikan gambaran bagaimana seseorang harus melakukan perencanaan dalam kehidupannya, apa yang akan ia lakukan di masa depan dengan berpedoman pada apa yang telah ia lakukan sebelumnya. Agar ia tidak terjatuh dalam kesalahan yang sama pada masa akan datang. Manusia melakukan kesalahan adalah sesuatu yang wajar, tapi ia tidak boleh mengulanginya lagi melakukan kesalahan, apalagi kemaksiatan yang membawa pelakunya pada pengingkaran kepada Allah. Manusia yang mempergunakan akalnya tidak mungkin melakukan kesalahan dua kali, kecuali ia memang sengaja melakukan kesalahan tersebut.
Waktu begitu sangat berharga, sehingga Allah sendiri berulang kali bersumpah dengan waktu dalam al-Qur’an agar umat manusia tidak melalaikannya. karena manusia sering berpikir melakukan sesuatu pada masa akan datang, padahal belum tentu ia dapat melakukannya di masa akan datang. Oleh karena itu Rasulullah juga memberikan sebuah peringatan dalam hadisnya;
أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
Artinya: “….Rasulullah memegang pundak saya dan berkata, “ jadilah kamu di dunia ini seolah-olah orang asing atau ibnu sabil yang melakukan perjalan jauh”, kemudia Ibnu ‘Umar Berkata, “ kalau kamu sudah berada di waktu pagi, maka jangan menunggu waktu sore. Dan pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakitmu dan masa hidupmu sebelum matimu”.
Hadis ini diriwatkan dari Abdullah Ibnu ‘Umar dalam kitab Shahih Bukhari. Hadis ini memberikan pelajaran kepada umat manusia untuk tidak menunda-nunda waktu, jika pada saat itu bisa dilakukan, apalagi perbuatan baik atau amal sholeh. Sholat-sholat fardu sudah tertentu waktunya dan sebaik-baik pelaksanaannya adalah pada awal waktu, sehingga seyogyanya untuk tidak menundanya sampai akhir waktu, apalagi sampai waktu tahrim (diharamkan shalat). Atau pada saat orang bisa menuntut ilmu pada saat ini, maka ia tidak boleh menundanya dengan mengatakan, “masih ada waktu”.
Waktu hari ini tidak akan pernah sama dengan waktu di esok hari, apalagi masa akan datang. Untuk itu seseorang dari semenjak ia lahir ke dunia ini sampai tua, harus dapat mempergunakan waktu dengan sebaik mungkin.
Dengan tegas lagi Rasulullah memberikan gamabaran bagaimana pentingnya mempergunakan waktu yang ada, agar orang tidak menyesal dengan apa yang telah ia perbuat.
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ, وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ, وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ, وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ, وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ"
Artinya: “…Pergunakanlah lima waktu sebelum datang lima lainnya, masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa fakirmu, masa luangmu sebelum masa sempitmu, dan masa hidupmu sebelum matimu”.

Lima perkara di atas adalah perkara-perkara yang biasanya selalu diremehkan oleh semua orang. Karena merasa ada waktu lain, sehingga selalu menunda dan mengabaikannya. Pada masa muda orang sering beranggapan untuk dipergunakan hura-hura dan menikmati kehidupan dunia. Mereka menganggap kehidupan dunia hanya sekali, sehingga bersenang-senang adalah jalan untuk menikmati semua, karena di akhir hayat tidak akan pernah dapat menikmatinya. Pikiran dan anggapan ini tentu sangat keliru, hidup tidak hanya untuk di dunia ini, tapi kehidupan yang abadi di kahirat amsih menanti seseorang. Dan bahkan sebelum yaum al-hisab, seseorang berada di alam kubur yang jarahnya tidak pernah ada yang tahu, kapan hari kiamat terjadi. Anggapan yang paling sederhana pada masa muda adalah, masih ada masa tua untuk melakukannya. Padahal masa tua tidak akan pernah sama dengan masa muda, kalau ia mendapatkan masa tua. Tapi jika ia tidak mendapatkan masa tuanya, tentu kerugian besar akan didapatkan di akhirat.
Begitu juga dengan masa-masa sehat seseorang, sering kali tidak dipergunakan dengan sebaik mungkin dan bahkan cenderung merugikan dirinya sdndiri. taruh saja merokok yang secara akal tidak memberikan manfaat sama sekali bagi pelakunya, bahkan cendrung merusak dirinya dan memperpendek masa hidupnya. Masa sehat adalah masa di mana orang bergairah untuk melakukan kebajikan dan amal sholeh, maka jangan sampai menunda hal yang dapat dilakukan saat sehat, karena setelah sakit tidak ada perbuatan yang dapat dinikmati dengan baik. tidak hanya penyakit yang akut, penyakit seperti pusing saja orang tidak bisa melakukan apapun. Oleh karena itu, sehat adalah sebuah nikmat yang tidak bisa tergantikan dengan materi sekalipun.
Masa kaya juga masa di mana orang dapat melakukan kebajikann lebih banyak daripada mereka yang fakir atau miskin. Dengan amal jariyah, ia akan mendapatkan pahala besar dari Allah subhanahu wa ta’ala. Baik berupa shadaqah, infaq, zakat, waqaf, dan lain sebagainya. Kekayaan dapat mendekatkan diri seorang hamba kepada sang khalik dan begitu juga sebaliknya dapat menjauhkannya. Di saat harta kekayaan diperguankan untuk kebaikan, maka akan mendekatkan pelakunya kepada sang khalik, tapi di saat ia mempergunakannya untuk kemaksiatan, maka kehancuranlah yang akan ia dapatkan. Di akhirat nanti, orang yang mempunyai harta akan dimintai pertanggungjawabannya dari hartanya. Yaitu hartanya ia dapatkann dari mana dan ia pergunakan untuk apa. Oleh karena itu, masa kaya adalah masa yang paling baik untuk melakukan amal sholeh, tapi tentu orang msikin bukan berarti tidak dapat melakukan amal sholeh seperti bersedekah.
Memanfaatkan waktu saat luang adalah kesempatan besar untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Sangat banyak orang merasa diri sibuk, tapi hanya jalan di tempat, tidak pernah maju start ke depan, hanya diam dan tidak melangkah walapun bergerak. Lebih parah lagi adalah orang yang mempunyai waktu luang banyak tapi diisi dengan berdiam diri dan menganggur. Kenikmatan tidak didapatkan, hasil pun nihil, tidak ada apa. Sangat benar jika perkara yang paling jahat di dunia ini adalah menganggur.
Dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana seseorang memanfaatkan masa hidupnya untuk beramal ibadah dan bekerja sebelum ajal datang menjemput. Kalau empat perkara di atas masih ada ruang untuk sedikit bernapas, tapi kematian tidak akan pernah dapat memberikan peluang manusia lagi untuk kembali ke dunia walapun hanya sesaat. Semua amal ibadah akan terputus, kecuali tiga perkara kalau ia pernah melakukannya, yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang selalu mendo’akannya.
Kenapa begitu pentingnya menggunakan waktu dan tidak menunda pelaksanaannya. Menurut Syaikh Yusuf al-Qardawy, pertama; tidak ada orang yang tahu apakah ia masih dapat hidup esok hari. Hari ini mungkin ia masih dapat melakukannya, tapi besok tidak ada jaminan untuk tetap hidup. Oleh karena itu, pekerjaan apalagi amal sholeh tidak boleh ditunda dengan mengatak, “besok, besok, dan besok”. Kedua; tidak yang bisa menjamin kalaupun hari esok masih bisa hidup tapi tidak menjamin kesibukan lain lagi akan melalaikannya untuk melakukan pekerjaan sebelumnya, dan tetap akan mengatakan, “besok”.
Dalam memanfaatkan waktu, seseorang juga haru memperhatikan keperluan dari amal perbuatan yang ia lakukan. Artinya tidak semua perkara dilakukan sembarangan, tapi harus ada prioritas. Dalam masalah agama, tentu hal yang wajib diutamakan, baru kemudian sunnah dan mubah. Prioritas yang dilakukan adalah dengan tidak menunda pekerjaan yang harus diselesaikan saat itu juga.
Begitu pentingnya waktu, tidak ada seorang pun yang dapat luput darinya, sehingga seseorang tidak boleh berhenti dan berdiam diri saja. dunia terus berubah dan berkembang, kalau tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin, maka kita akan tergilas oleh waktu dan zaman. Inilah khutbah jum’at kali ini, semoga bermanfaat dan kita dapat memanfaatkan waktu dengan baik.

0 komentar: