Hari
ini kampus UIN Maliki tampak begitu asri dan tidak bising, maklum beberapa
mahasiswa yang sedang memperingati hari bumi menutup akses masuk kampus bagi
mereka yang menggunakan kendaraan, tapi
bukan melarang, hanya mematikan mesin kendaraan saat masuk kampus. Untuk kendaraan
sepeda motor mungkin masih bisa membawa dan mendorongnya dengan bantuan tangan,
tapi bagi mereka yang menggunakan mobil, tentu tidak akan bisa untuk mendorong
dengan tangan.
Saya
sendiri tidak tahu kapan tepatnya penanggalan hari bumi, karena pada hari-hari
sebelumnya, beberapa kampus di sekitar kota malang juga sudah memperingatinya. Apakah
ini hanya sebuah aksi lanjutan atau memang hari ini diperingati hari bumi. Tapi
tidak perlu mengetahui tanggal persisnya, yang tepenting adalah makna dari
sebuah peringatan tersebut.
Bumi
memang saat dalam kondisi yang tidak menentu. Lihat saja beberapa daerah di
Indoensia sudah tidak seperti pada masa lalu. Kondisi alam seperti musim hujan
seakan tidak pernah dapat diprediksi. Sepanjang tahun tidak ada musim kemarau,
atau sepenjang tahun tidak ada musim hujan, semuanya kemarau. Jika dulu orang
sangat paham betul dengan kondisi cuaca, terutama bagi mereka yang berprofesi
sebagai petani dan pelaut. Pada bulan-bulan tertentu mereka harus menanam ini
dan pada bulan lain harus mananam tanaman yang lain. Di daerah- daerah
terpencil sendiri ada istilah “ber” yang menunjukkan bulan-bulan musim hujan,
dan semakin hari akan semakin deras. Istilah ‘ber” adalah pengambilan kata
akhir dari beberapa bulan yaitu; September, Oktober, Nopember, dan Desember. Bulan-bulan
inilah yang selalu menjadi panduan setiap orang untuk menunjukkan masa musim
hujan. Bisanya pada Bulan September sebagai awal permulaan hujan dan puncaknya
pada Oktober dan Nopember, sedangkan pada Bulan Desember menjadi tanda hujan
akan mulai reda.
Daerah
tropis Indonesia memang sedikit memberi keuntungan, dan bahkan orang
menganggapnya sebagai syurga dunia, karena ia tidak terlalu panas dan tidak
terlalu dingin. Cuaca yang cukup seimbang dan mu’tadil, karena antara musim
hujan, semi, dan kemarau dapat berjalan serasi. Kalaupun masyarakat mengalamai
kemarau, tapi dengan masa musim hujan dan semi, dapat membuat mereka
mengumpulkan sejumlah makanan untuk dipergunakan saat-saat kemarau.
Tapi
kondisi alami yang dirasakan pada tahun-tahun sebelumnya, saat ini sudah tidak
lagi ditemukan di daerah-daerah seluruh Indonesia. Dan bahkan beberapa daerah
sudah cendrung berbeda dengan daerah lainnya. Satu daerah turun hujan sedangkan
daerah lain mengalami kemarau yang berkepanjangan. Dan dua-duanya membawa
bencana bagi umat manusia, tidak kalah besar saat ini yang melanda adalah
banjir, terutama di kawasan perkotaan.
Ada yang
aneh dengan kondisi di Indonesia saat ini, di satu sisi bumi sudah mulai
memanas dengan kondisi polusi kedaraan bermotor, efek rumah kaca, dan limbah-limbah
yang tidak dapat terurai dan diterima bumi. Beberapa daerah yang dahulu
terkenal dengan cuaca dinginnya, sekarang sudah tidak ada lagi, dan cendrung
panas seperti kota lainnya. Air yang dulu dapat orang meminumnya di kali-kali
yang mengalir di sepenjang desa, sekarang sudah tidak dapat diminum lagi,
apalagi di kota yang airnya sudah tidak layak untuk diminum. Semua kondisi itu
memang suatu bentuk perubahan dan kondisi lingkungan yang berbeda dan sebagai
tanda-tanda kerusakan alam. Tapi di satu sisi, tahun-tahun ini musim hujan
seakan tidak berhenti dan tidak bermusim lagi.
Pada
bulan ini para pakar sudah memprediksikan sebagai awal dari musim kemarau, tapi
tiba-tiba hujan yang sangat deras dan menyebabkan banjir. Padahal logikanya,
jika seandainya lapisan ozon sudah mulai menipis, maka kondisi bumi akan
semakin panas, dan itu sudah terasa efeknya. Jika sudah panas melanda, berarti
itu sebagai tanda musim kemarau akan menjadi musim yang melanda daerah-daerah
di Indonesia, tapi yang terjadi sebaliknya, cuaca semakin panas, intensitas
hujan semakin curah.
Kondisi
seperti itu dapat dirasakan oleh tubuh dengan sangat baik. Jika pada kondisi
tertentu, suhu tubuh terasa panas dan berkeringat, itu bukan berarti musim
panas telah tiba, tapi itu sebagai pertanda bahwa hujan akan turun. Tapi saat
kondisi tubuh terasa dingin dan cuaca sangat dingin, maka itu sebagai pertanda
tidak akan hujan, alias kondisi bumi panas. Walapun kemudian ada yang
melogikannya bahwa saat hujan turun suhu panas bumi akan memuai dan menjadikan
cuaca panas. Dan pada saat kondisi bumi panas, ia juga akan memuai mengeluarkan
suhu dinginnya, sehingga menjadikan cuaca dingin.
Namun
yang jelas, seharusnya kita bisa menjaga bumi ini dengan lebih baik. Posisi khalifah
manusia di bumi, harus dapat menjaga keseimbangan bumi, baik benda hidupnya
maupun yang mati. Tidak hanya memperturutkan hawa nafsu untuk kepentingan
sesaat lagi, karena kita hidup bukan hanya untuk saat ini, tapi untuk kehidupan
yang akan datang.
Selamat
buat yang memperingati hari bumi, semoga bukan hanya sebuah slogan tapi menjadi
sebuah prilaku kehidupan bagi mereka yang bergerak untuk keselamtan bumi. Karena
jika tidak, itu sungguh akan menjadikan pelakunya menjadi orang yang terlaknat
di sini Allah.
Wallahu
‘A’lam bi al-shawab.
Tags
RENUNGAN QAILULAH