MASJID MUHAMADDIYAH

Keberadaan dua ormas islam Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama’ memberikan corak perbedaan dalam segala hal, tidak hanya sekedar masalah asas seperti akidah, ibadah, mu’amalah, dan budaya pun berbeda. Tauh saja hal yang vital bagi umat islam yaitu tempat ibadah masjid. Yang sebenarnya siapa saja, dari mana gologan apa saja, tidak ada yang boleh melarang orang untuk melaksanakan ibadah, apalagi ibadah shalat lima waktu.

Masjid Muhammadiyah dalam hal ini juga mempunyai corak yang sangat berbeda dengan masjid Nahdatul Ulama’. Masjid Muhammadiyah di mana saja, terutama di Malang dari segi nama masjid lebih banyak mengambil nama-nama yang kental dengan arab atau tokoh-tokoh tertentu di kalangan Muhammadiyah. Walapun pada masjid yang lain semuanya bernuansa arab, tapi nama dari masjid lebih banyak nama arab daripenegrtian bahasa Indonesia, sedangkan Muhammadiyah lebih pada nama arab tulen, seperti masjid-masjid di negeri Arab. Kalau pada masjid selain Muhammadiyah lebih kental dengan kata depan “nurul” atau kata belakang “al-rahman” atau al-Rahim. Tapi pada masjid Muhammadiyah lebih memaknai nama masjid dengan sebuah makna dari sebuah pendiiran masjid itu sendiri, dan tidak jarang dengan menggunakan nama-nama penyumbangnya yang dari Arab.
Tidak hanya sekedar nama yang lebih kearaban, bentuk bangunan juga kebayakan menganut bentuk bangunan-bangunan masjid di Arab dan dengan warna khas orang Arab. Apakah ini kebetulan atau tidak, tapi secara tidak sengaja telah memebrikan sebuah perbedaan bagi orang yang memandangnya. Cirri khas bangunan arab bisasnya terdapat pada bentuk bangunan dan menara,s erta ornament yang terdapat di masjid berupa hiasan dinding atau kaligrafi yang terukir di tembok.
Dari segi bentuk dan nama mungkin bukan menjadi sebuah persoalan bagi orang-orang. Namun yang lebih menarik adalah bagaimana masjid itu ditata kelola oleh para takmir. Pada masjid Muhammadiyah , masjid lebih banyak tertata rapi, baik eksterior maupun interiornya. Dari segi eksterior, penataan halaman dan taman menjadi daya tarik tersendiri. Biasanya bungan dan rumput ditata sedemikian rupa sehingga terlihat indah. Kalaupun tidak mempunyai cukup lahan untuk membuat taman, tapi penataan di luar masjid lebih bagus ketimbang masjid yang lainnya. Begitu juga dengan interiornya, suasana di dalam masjid lebih tertata rapi dengan kondisi yang bersih dan karpet yang lebih minimalis tapi terkesan mewah dan megah. Sehingga sangat jarang ditemukan pada masjid-masjid muhammdiyah dengan menggunakan karpet yang berbentuk sajadah, kalaupun ada tapi hanya garis-garis kecil dan dengan warna yang tidak terlalu mencolok mata.
Di dalam masjid juga, biasanya terdapat kepengurusan takmir masjid yang mengatur kegiatan masjid serta kebersihannya. Serta struktur di luar takmir yang dapat menghidpukan suasana masjid itu sendiri. Seperti mereka yang ditemapatkan untuk mencari donator, atauy mereka yang mengelola keuangan secara professional, orang yang khusus mengepel masjid setiap hari, yang hanya adzan dan iqomah saja, serta orang yang mengatur pada saat shalat dilaksanakan.
Tidak hanya sekedar sturtur kepengurusan yang terpampang di dinding, tapi beberapa kegiatan sering ditempelkan pada papan pengumuman masjid. Baik kegiatan di dalam masjid sendiri atau kegiatan keislaman lainnya di luar masjid, tapi ada hubungannya dengan masjid. Kegiatan-kegiatan pengajian di masjid Muhammadiyah biasanya dikemas dengan lebih modern, dan peserta pengajian yang kebanyakan dari orang-orang yang kelas menengah ke atas. Sehingga kegiatan pengajian sering didesain seperti perkuliahan. Untuk itu pemateri menggunakan laptop dalam menyampaikan materi dan menggunakan LCD proyektor untuk menampilkan slide pengajian. Itu dilakukan pada semua materi kegiatan keagamaan, seperti yang sering dilakukan oleh beberapa masjid Muhammadiyah di Malang. Pengajian tidak hanya sekedar diisi dengan ceramah saja, tapi peserta pengajian diberikan kesempatan untuk bertanya berkaitan dengan tema yang dibicarakan.
Jika dilihat dari bentuk dan kegiatan yang dilakukan, memang sangat jauh berbeda dengan masjid lainnya. Dan masjid sudah dibuat lebih modern sehingga tidak terkesan sangat suci, hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke dalamnya. Seperti masjid yang ada di daerah Bayan dengan penganut “wetu telu”. Mereka menganggap bahwa masjid hanya bagi mereka yang dekat dengan sang khalik, masyarakat biasa tidak bisa memasukinya karena dianggap kotor dan berdosa.
lebih menarik lagi adalah orang-orang yang melaksanakan ibadah di masjid tersebut. Biasanya jama’ah yang mengikuti shalat lebih banyak dari masjid lainnya. Karena pada masyarkat yang ikut dalam Muhammadiyah menganggap bahwa shalat jama’ah adalah sebagai ukuran ketaatan seseorang kepada sang khalik. Dan shalat jama’ah hukumnya fardu, sehingga tidak boleh ditinggalkan kecuali keringanan yang diberikan oleh agama, seperti menjamak dan mengqasar shalat pada saat musafir, atau menjama’ shalat pada saat hujan turun lebat, atau menunda jama’ah karena keperluan syar’I dan telah dihidangkannya makan sebelum shalat. Di luar keringan tersebut, mereka yang tidak shalat berjama’ah, secara tidak langsung mendapat teguran moril dari jama’ah lainnya. Dengan shalat jama’ah juga menjadi ukuran keshalihan orang, karena dalam hadis, shalat orang yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat isya’ dan shalat subuh.
Tidak heran jika pada masjid-masjid Muhammadiyah, jama’ah yang ikut melaksanakan shalat lebih ramai pada semua waktu. Paling kurang jama’ah yang hadir bisa sampai dengan dua shaf, lain dengan masjid lainnya yang hanya satu atau bahkan lebih parah lagi adalah hanya imam dan orang yang adzan dan iqomah saja.
Tapi dari segi praktik masalah ibadah, masjid Muhammadiyah tidak banyak yang sesuai dengan kemegahan dan kegiatannya . seperti Imam masjid yang kebanyakan tidak banyak faseh dalam membaca al-Qur’an. Bacaan mereka sangat parah, tidak terdengar sama sekali bahasa al-qur’an, yang kental adalah suara dan logat Bahasa Jawa. Dan secara tidak langsung tidak memberikan makna yang sebenarnya sesuai dengan keinginan al-qur’an.
Keadaan imam seperti ini memang sangat disayangkan untuk menjadi imam, padahal dalam Islam sendiri, mereka yang berhak untuk menjadi imam adalah “aqra’uhum”, yaitu mereka yang paling fasih dalam membaca al-Qur’an dan paling banyak hafalannya. Ini dimaksudkan agar kekhususyu’an dalam shalat dan makna shalat itu sendiri di dapatkan. Tapi dengan imam yang tidak dapat membaca baik al-qur’an, ini sudah merusak makna al-qur’an dan keinginan serta pesan Allah dalam al-qur’an itu sendiri. Yang paling parah adalah pelafazan huruf yang tidak baik dan memberikan makna yang jauh berbeda dan menyeleweng, apalagi makna yang ditimbulkan adalah makna kesyirikan kepada Allah.
Padahal membaca al,Qur’an dengan baik merupakan isyarat ketundukan kepada Allah, dan sebaliknya membaca al-qur’an dengan bukan sebenarnya sudah melakukan penyimpangan terhadap al-qur’an itu sendiri. Ini bisa masuk dalam kategori tahrif dan bahkan bisa masuk pada ta’til. Karena al-qur’an sendiri turun kepada Rasulullah “harfan wan Ma’nan” dengan huruf dan maknanya.
Ini sangat disayangkan bagi mereka yang berada dalam ormas ini, kesalihan praktik tidak sesuai dengan kesalihan rohani yang seharusnya menjadi kepribadiannya. Sangat lucu orang yang pintar membahas masalah agama atau berpidato, tapi tidak bisa membaca al-qur’an. Karena setahu saya dalam Muhammadiyah tidak dikenal kesenioran, tapi mereka yang lebih pintar dapat menjadi lebih senior. Dan selalu menjadi pertanyaan, apakah tidak ada orang Muhammadiyah selain “oknum” imam tadi yang mempunyai pemahaman dan bacaan al-Qur’an yang baik?.
Dan sepertinya ini menjadi pekerjaan rumah bagi Muhammadiyah, dan orang-orang yang menjadi imam tapi tidak bisa membaca al-Qur’an dengan baik agar bisa berbesar hati untuk tidak menjadi imam. Lebih baik memberikannya kepada orang yang lebih fasih dan menghafal al-qur’an dengan baik. Karena itulah yang terpenting dalam ritual shalat ketimbang tidak zikir selesai shalat dan tidak salaman selesai shalat.
Mudah-mudahan kita dapat menjadi orang yang berpikir…!

Weli Arjuna Wiwaha

Hiduplah Untuk Mencintai dan Bukan Untuk Menyakiti

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama