Masjid
sebagai sebuah tempat ibadah, semestinya adalah bangunan yang refsentatif untuk
didirikan ibadah di dalamnya. Tidak hanya sekedar bangunan yang megah tapi
kenyaman orang yang melakukan ibadah adalah hal yang paling penting. Karena
ibadah membutuhkan ketenangan dan keyamanan, sehingga kekhutu’an dan tuma’ninah
dalam ibadah dapat dicapai dengan baik.
Masjid
yang berasal dari kata “sajada” dengan makana “sujud”, masjid berarti tempat
sujud. Dalam makna ini masjid diperuntukkan bagi orang-orang yang ingin tunduk
dan bersujud kepada sang ilahi rabbi. Tidak hanya sekedar melakukan gerakan
shalat, kemudian keluar dari masjid, tapi bagaiamna seseorang dapat melakukan
munajat dalam waktu tertentu dengan usahanya sendiri, berdiam diri dalam masjid
dalam rentang beberapa menit. Atau dalam bahasa agamanya seseorang bisa berniat
I’tikaf melakukan pemujaan kepada Allah. Sehingga diammnya dalam masjid bukan
hanya sekedar diam untuk berbicara yang tidak bermanfaat atau tidur hanya
sebagai sebuah tidur yang tidak bermakna, atau hanya sekedar utak atik
handphone atau lainnya.
Memang
untuk bisa melakukannya, membutuhkan latihan dan suasana yang kondusif masjid
itu sendiri. Baik suasana cuaca di sekitar masjid, atau orang-orang yang datang
ke masjid. Tidak hanya sekedar masjid yang sama dengan sekolahan atau tempat
umum lainnya, pada saat tertentu buka, dan setelah selesai tertutup rapat.
Tidak
kalah penting juga adalah suasana di luar masjid sangat memberikan pengaruh
kepada orang-orang yang ingin melakukan ibadah. Taruh saja seperti temapt
sandar, wudhu’, toilet, dan yang tidak kalah penting adalah tempat parkiran
jama’ah yang shalat.
Sangat
begitu banyak masjid-masjid dengan bangunan yang super megah, atau masjid yang
hanya sekedar dijadikan sebagai pelarian dari keinginan beberapa oknum untuk
berbeda dengan yang lainny`. Kalau di desa-desa mungkin masih banyak ditemukan
masjid-masjid yang secara suasana masih asri dan sangat mendukung untuk bisa
berbetah-bedah di dalamnya. Tapi tidak dengan kondisi masjid-masjid yang ada di
perkotaan besar atau sedang. Taruh saja seperti masjid-masjid yang ada di
Malang, tempat saya tinggal saat ini. Begitu banyak masjid, tapi hanya banyak
saja, tapi minim dengan jama’ah seperti masjid-masjid lainnya, dan yang paling
penting adalah tidak lanyak sebagai masjid yang dapat menciptakan suasana
ibadah bagi mereka yang mukim, terlebih bagi mereka yang musafir.
Di
beberapa tempat bahkan antara tangga masuk ke masjid menyatu dengan jalan raya,
jangan dipikirkan tentang parkirannya, sudah pasti di pinggir jalan yang paling
tidak telah “menganggu” hak publik untuk lewat dan jalan. Belum lagi kalau
jalannya sempit dan beberapa mobil lewat kemudian dengan klaksonnya meminta
jama’ah yang parkir untuk menyingkirkan atau meminggirkan sepeda motor atau
mobilnya. Satu sisi jama’ah yang shalat meresa terganggu dan di satu pihak
orang yang lewat terganggu juga.
Dari
segi fasilitas umum, masjid-masjid di daerah Jawa Timur sangat baik. Di malang
juga sama dengan masjid-masjid yang ada di daerah jawa timur lainnya. WC,
toilet, tempat wudhu’ dan tempat mencuci kapi menjadi fasilitas yang wajib ada,
karena berkaitan dengan masalah thaharah atau kesucian seseorang saat masuk ke
masjid. Tapi fasilitas lain yang memberikan kenyamanan bagi jama’ah sering
terabaikan dan bahkan tidak ada, seperti tempat parkiran bagi mereka yang
membawa kendaraan dan sepeda motor. Kalapun ada tempat parkiran, sering orang
yang mau masuk untuk ibadah terganggu dengan kupon parkir, walapun itu sebagai
sebuah shadaqah dan amal jariyah kepada masjid. Tapi sepertinya orang lebih
nyaman dan lebih tenang pada saat mereka bershadaqah dengan tidak dilihat,
cukup melalui kotal amal masjid yang ada di depan pintu masjid.
Kenapa
parkiran menjadi sesuatu yang sangat penting di Malang. Karena semua orang
pasti tahu bahwa tingkat pencurian kendaraan sepeda motor begitu tinggi. Tidak
hanya sekedar pencurian di tempat sepi, di tempat ramaipun masih banyak
pencurian. Dan orang sudah maklum dengan keadaan seperti itu. Sehingga tidak aneh
jika di Malang orang-orang tidak hanya sekedar mengunci ganda sepeda motor
mereka, tapi di setap piringan rem cakrammnya juga terdapat gembok-gembok untuk
mengunci sepeda motor, atau ada dari mereka yang menambahkan dengan alat
elektronik sejenis alarm sepeda motor.
Dari
ceritera teman-teman, sudah sangat banyak dari kalangan mahasiswa yang
kehilangan sepeda motor. Padahal mereka meninggalkan sepeda motor tidak lama,
hanya beberapa menit saja, dan itu pun sudah dikunci ganda. Bahkan orang-orang
yang bermukim di sekitar daerah kampus UIN Maliki, Unibraw, dan UM sudah tidak
terhitung jumlah orang yang kehilangan. Beberapa dosen juga banyak yang
kehilangan, dari sepeda motor yang hilang sampai pencurian besar-besaran di
rumah mereka.
Dengan
keadaan seperti itu, apalagi di masjid-masjid yang tidak mempunyai parkiran,
tentu sangat rawan akan terjadi pencuriaan. Terutama pada saat-saat shalat
fardhu yang lima waktu. Lain halnya dengan saat shalat jum’at, walapun tidak
ada parkiran, tapi biasanya jalan di dekat masjid dijadikan parkiran dan
beberapa petugas parkir dadakan disediakan. Dan dengan ciri khas pada setiap
ada kegiatan keagamaan, di tengah jalan dipasang tanda, “maaf ditutup, ada
kegiatan keagamaan”.
Hampir
semua daerah yang ada dalam sekitar Kota Malang, semunya tidak ada yang
mempunyai parkiran sama sekali, walapun bangunan masjid megah dan mewah. Taruh
saja seperti masjid agung Kota Malang yang terletak di alun-alun kota. Dengan
status masjid agung, sebenarnya harus dapat menyediakan tempat yang layak bagi
publik untuk bisa parkir aman dan nyaman. Tidak hanya sekedar bagi mereka yang
mukim sekitar daerah itu, tapi bagi mereka yang msuafir atau bagi mereka yang
hanya lewat sebentar saja untuk bisa ikut berjama’ah. Untuk bisa parkir dengan
nyaman, mereka harus parkir di taman kota dan membayar uang parkir Rp.1000.
uang parkir malah masuk ke kantor pemerintah atau orang-orang tertentu, dan
tidak ke masjid.
Kalau
masjid sebesar masjid agung Kota Malang mempunyai parkiran yang terintegrasi
dengan masjid, dan uang parkir masuk ke masjid, tentu akan memberikan masukan
yang lebih ke masjid. Kalaupun tidak ada uang parkir, maka insyallah
orang-orang yang ikut berjama’ah akan semakin banyak, apalagi ditambah dengan
fasilitas yang baik di dalam masjid.
Masjid
Agung saja keadaannya seperti itu, apalagi masjid-masjid yang ada di sekitar
daerah kota Malang. Hampir kebayakan tidak ada fasilitas parkiran, yang menurut
saya tidak begitu layak dijadikan sebagai tempat ibadah, yang dapat menjaring
jama’ah ke dalamnya. Walapun beberapa tempat mempunyai tempat parkiran yang
sangat bagus, tapi kebayakan petugas parkirnya dadakan, dan untuk
kepentingannya sendiri.
Dari
sekian masjid yang ada di Kota Malang, ada satu masjid yang saya anggap sebagai
masjid yang sangat baik dan sedikit nyaman, yaitu sebuah masjid yang terletak
di daerah sigura-gura dekat kampus ITN Malang. Di samping dekat dengan jalan,
di dalamnya juga mempunyai parkiran yang bagus, walapun hanya untuk sepeda
motor saja. tapi mereka yang shalat di sana tidak perlu khawatir diberikan
kupon parkir, karena parkirnya tergantung keikhlasan masing-masing jama’ah.
Mereka yang ingin berinfaq ke kotak amal
masjid yang ditempatkan di pintu keluar masuk masjid, mereka tinggal
masukkan saja uang, terserah mau berinfah seberapa rupiah. Begitu juga bagi
mereka yang tidak membawa recehan, atau tidak membawa uang, atau sudah berinfaq
di kotal amal dalam masjid, maka tidak apa-apa untuk tidak berinfaq.
Tapi
bukan berarti tidak aman parkir di sana, petugas jaga selalu siaga bergantian
untuk menjaga pada saat orang shalat. Dan saya lihat di pos jaga dipasang CCTV
untuk keamanan kendaraan. Dan yang tidak kalah penting adalah, bagi mereka yang
membawa laptop, netbook, atau tablet dapat berinternet ria gratis, karena
masjid mempunyai layanan Whfi gratis bagi semua jama’ah yang shalat di sana.
Tidak hanya sekedar pada saat shalat wajid, tapi setiap saat pintu masjid
terbuka, baik untuk mereka yang shalat atau hanya sekedar duduk istirahat.
Oleh
karena itu, bagi saya masjid di Kota Malang seharusnya tidak hanya sekedar
membangun masjid saja. dengan keadaan rawan pencuriaan, maka membuat tempat
parkiran perlu menjadi sebuah pertimbangan demi kenyamaan mereka yng
melaksanakan ibadah shalat. Tapi tentu dengan tidak menjadikan fasilitas publik,
seperti jalan raya, atau trotoar sebagai tempat parkiran. Ibadah kan harus
bersih dari segala hal-hal yang kotor yang dapat merusak kesuciaan dan
keikhlasan beribadah. Semoga menjadi sebuah pertimbangan, dan mudah-mudahan ke
depan kenyaman ibadah dengan masjid yang repsentatif dalam terwujud di semua
daerah, agar orang-orang yang beribadah bisa tenang, nyaman, dan betah untuk
beribadah. Jangan sampai kalah dengan tempat ibadah orang-orang luar Islam,
seperti gereja yang letaknya sangat strategis di beberapa sudut Kota Malang.
Selamat
berjuang…!
Tags
RENUNGAN QAILULAH