KHUTBAH JUM'AT: KEJUJURAN


Cuaca pada jum’at kali ini 27 April 2012 lumayan panas dan menyengat kulit, walapun biasanya pada sore hari hujan turun dengan lebat. Tapi semuanya harus disyukuri, karena segala sesuatu pasti ada hikmah yang terkandung. Jika itu menjadi sebuah nikmat, maka berbahagialah manusia, tapi jika itu menjadi musibah, maka di balik musibah juga tersimpan nikmat Allah subhanahu wata’ala. Mungkin musibah yang Allah berikan, untuk memberikan kesempatan kepada kita mendekatkan diri kepadanya. ‘ala kulli hal, semua adalah khair.
Jum’at kali ini saya berkesempatan shalat di Masjid al-Ikhlas di daerah Dieng di jalan Raya langsep, tidak jauh dari Dieng Plaza, sekitar 100 atau 150 meteran ke arah selatan. Sebelumnya pernah shalat di masjid ini, tapi waktu itu shalat magrib, suasana cukup baik dengan posisi masjid yang tidak langsung terkena sinar matahari. Al-hasil suanana di dalam masjid tidak terlalu panas, apalagi di emperan masjid, angin sangat kencang berhembus. Kebetulan saya mengambil posisi di dalam masjid tapi persis di dekat pintu masuk sebelah selatan, sehingga tidak ada yang menghalangi angin berhembus dan menerpa badan saya. Suana yang sangat damai, tenang, dan begitu sejuk, seperti inilah seharusnya bangunan masjid, agar orang-orang yang ke masjid betah berdiam diri dan senang ke masjid.
Kali ini, khatib mengambil tema tentang “kejujuran”, yang menurutnya telah hilang pada diri penguasanya dan masyarakatnya. Karena sikap jujur bagi mereka adalah sebuah aib dan merusak harga diri seseorang, padahal kejujuran adalah sebuah perhiasan yang paling bagus dimiliki oleh seseorang. Ia akan menjadi penghias hidup dan menjadikan seorang hamba diberikan rizki yang tidak terhingga oleh Allah subhanau wata’ala.
Kejujuran di sini adalah kejujuran kepada sang khalik yang tidak terlihat oleh kasat mata, karena ia akan menjadi inti dari perbuatan seseorang. Jika orang sudah mampu untuk jujur kepada sang khalik, maka kejujuran di hadapan manusia adalah perbuatan yang sangat sepele. Tapi sebaliknya, jika orang jujur kepada manusia dan tidak jujur kepada sang khalik, bisa jadi kejujurannya adalah kebohongannya sendiri. hanya untuk menutupi aibnya atau untuk mencari sesuatu yang ada dalam diri manusia itu sendiri.
Jujur bukan berarti harus mneghakimi orang lain, tapi bagaimana kita menghakimi diri sendiri di hadapan snag khalik dengan mengakui segala bentuk kesalahan kita, baik yang kecil apalagi yang besar. Jujur sama artinya menelanjangi diri kita dihadapan sang khalik agar apa yang kita akui dapat pengampunan dari Allah subhanau wata’ala. Dalam arti yang lebih populer adalah bagaimana hidup kita dapat dihiasi dengan kalimat istigfar kepada Allah. Karena Allah tidak akan pernah luput dari perbuatan hambanya, ia selalu mengawasi segala perbuatan, jika baik maka akan mendapatkan pahala dan jika buruk akan mendapatkan dosa. Masalahnya adalah saat kita melakukan perbuatan dosa, kita sangat jarang meminta ampun dari dosa saat kita berdo’a kepada Allah, tapi kita lebih banyak meminta nikmat dan lain sebagainya. Allah tidak akan pernah memarahai hambanya yang mengakui dosa di hadapannya, Allah amalah akan mengampuni dosanya semuanya, asal ia mengakui kesalahannya di hadapan Allah dan meminta ampun kepadanya. Kita sangat ingat dalam hadis jika seorang hamba datang kepada Allah dengan dosa yang memenohi langit dan bumi, kemudian ia meminta ampun, maka Allah akan mengampuni semuanya.
Kejujuran kepada Allah dengan beristigfar akan memberikan kebaikan kepada manusia itu sendiri, sebagaimana dalam sebuah ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar.  Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.
Ayat ini memberikan sebuah jaminan bagi mereka yang berkata benar atau jujur tidak berbohong, yaitu mereka akan dikarunia perbuatan yang baik dalam kehidupannya tidak akan menyimpang dari apa yang diajarkan oleh Rasulullah da akan diampuni dosanya, dan setelah itu ia akan mendapatkan kemenangan yang besar dalam kehidupannya, di dunia dan di akhirat.
Pada masa kekhalifahan Umar ibn Abdul Aziz, pernah diceritakan bahwa sekelompok masyarakat mengadu kepada khalifah tentang permasalahan mereka. Salah seorang mengatakan, “wahai khalifa, sudah beberapa bulan ini tidak pernah turun hujan, sedangkan persiaan makanan kami sudah habis, bantulah kami wahai Umar ibn Abdul Aziz”. Yang lainnya juga mengeluh kepada khalifah, “ wahai khalifah, saya sudah bertahun-tahun menikah, tapi sampai sekarang saya belum dikaruni seorang anak, apakah yang harus saya lakukan”. Yang lain lagi berkeluhkesah, “ wahai Umar ibn Abdul Aziz, saya sudah mempunyai harta yang berlimpah, duniawi sudah saya capai semua, tapi kenapa saya tidak bisa tenang dengan harta yang saya punya”. Sang khalifah hanya diam saja, dan kemudian membacakan sebuah ayat:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
Artinya: Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, . Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.
Betapa dahsyatnya karunia yang diberikan Allah bagi mereka yang jujur dan mau mengakui kesalahannya di hadapan Allah dengan cara beristigfar. Karunia yang tak terhingga, dan itulah janji Allah, ditunkan hujan yang lebat, diperbanyaknya harta, anak-anak, isi kebun dan sungai-sungai. Betapa ruginya orang yang tidak pernah mengakui kesalahannya dihadapan Allah dengan selalu beristigfar kepadanya. Dan dia termasuk orang yang sangat pelit di hadapan Allah subhanahu wata’ala.
Jika melihat pribadi Rasulullah, beliau adalah orang yang telah diampuni dosanya, baik yang lalu mapun yang akan datang. Tapi dalam keseharian beliau tidak pernah luput dari mengucapkan sitigfar sampai 100 kali setiap hari. Lalu bagaimanakan kita yang tidak pernah luput dari dosa, dan bahkan dalam setiap hembusan, yang terlintas dalam pikiran, dan yang ada dalam hati penuh dengan dosa. Logikanya, tentu akan lebih banyak lagi melakukan istigfar kepada Allah subhanahu wata’ala.
Istigfar yang dilakukan oleh seorang hamba manfaatnya untuk hamba itu sendiri, bukan untuk Allah. Merekalah yang akan merasakan nikmatnya dan curahan rizki dari Allah. Untuk itu, marilah kita jujur kepada Allah, dengan kejujuran itu akan menghapus dosa yang kita lakukan. Dan Allah akan menutup rapat kesalahan yang pernah kita lakukan, dan digantikan dengan kebaikan.
Nilai sebuah kejujuran atau berkata jujur tidak dapat dinilai dengan sebuah materi, karena ia adalah hiasan perilaku bagi seorang muslim. Diceritakan bahwa pernah salah seorang pemuda (a’raby) meminta izin untuk melakukan zina dan minum khamar, Nabi tidak mengiyakan dan tidak juga melarangnya. Tapi nabi minta hanya satu persyaratan saja, yaitu tidak pernah berbohong. Orang itupun mengiyakan dan menganggap tidak berbohong adalah hal mudah. Saat ini ingin melakukan apa yang ia inginkan, ia selalu teringat, kalau melakukannya dan ditanya Nabi, ia tidak boleh berbohong. Akhirnya tidak jadi untuk melakukannya sampai ia tidak pernah melakukannya dan menjadi orang yang sholeh.
Permintaan nabi kepada orang tersebut untuk tidak berbohong adalah sebuah wasilah agar ia tidak melakukan zina dan meminum khamar. Untuk itu, setiap orang harus berani jujur kepada Allah pada saat ia sudah melakukan kesalahan yang melanggar syari’at. Dan harus jujur kepada dirinya sendiri agar dapat terhindar dari perbuatan keji dan ia dapat memelihara kehormatan dirinya sendiri.
Inilah yang diperlukan oleh setiap orang agar dapat melakukan perbuatan dan amal-amal sholeh. Jujur kepada manusia sendiri hanya pada perkara tertentu, bukan sesuatu yang menjadi aib. Karena jangan sampai kita membuka aib, di mana Allah sudah menutupnya, dan bahkan itu termasuk “mujharah bi al-Fusuq”, bisa masuk dalam kategori bangga dengan perbuatan melanggar syar’at. waAllahu al-Musta’an.
Semoga kita diberikan kekuatan iman, sehingga kita mampu untuk mengakui dosa dihadapan Allah dan diri sendiri. sehingga kita selalu diberikan penjagaan oleh Allah dalam setiap waktu dan kesempatan.
Aqulu astagfirullaha liy wa lakum wa li saairil muslimin wa al-muslimat, wa lizikrullahi Akbar.


Weli Arjuna Wiwaha

Hiduplah Untuk Mencintai dan Bukan Untuk Menyakiti

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama