Tema
yang diangkat khatib pada jum’at ini adalah tentang “kehidupan dunia adalah
permainan”. Selaku khatib adalah imam yang biasa memimpin jama’ah setiap waktu.
Bapak yang sudah tua, tapi masih enerjik dan bacaan al-qur’annya juga sangat
fasih, sehingga dalam beberapa kesempatan, kita sering menunggu bapak ini pada
shalat fardhu, walapun ada yang lainnya bisa untuk memimpin shalat, tapi
sepertinya kesenioran dan kefasihan bacaannya membuat dia menjadi imam pada
setiap shalat, baik jahr mapun sirr. Namanya sendiri saya kurang tahu, setahu saya
dia seorang kyai di lingkungan Yayasan Wahid Hasyim, dan rumahnya pun berada di
dalam kompleks.
Baik,
khatib memulai khutbah dengan membaca surah al-Hadid ayat 20 “وَمَا الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ” tiadalah kehidupan dunia ini kecuali
kesenangan yang menipu. Memang kehidupan dunia telah diciptakan oleh Allah
untuk manusia bisa menikmatinya dan mengelolanya dengan baik. Hidup bagaikan
fatamorgana di tengah padang pasir, terlihat seperti ada air untuk kehidupan,
tapi itu hanya semua saja. kehidupan dunia selalu membuat orang berangan-angan
sesuatu yang tidak pasti, dan penuh dengan hayalan-hayalan. Memang orang bisa
dapat mencapai sesuatu secara materi, tapi pada saat yang berbeda, manusia
tidak pernah puas dengan apa yang sudah di raih, sehingga dari satu
fatamorgana, ia akan mencari fatamorgana-fatamorgana lainnya. Dan seperti
itulah sifat dunia.
Manusia
pada saat tidak mempunyai apa-apa dalam kehidupan dunia, dan hanya membutuhkan
sesuap nasi untuk melanjutkan hidup, maka mengisi perut adalah sudah lebih dari
cukup untuk diraihnya. Tapi setelah meraih apa yang ia inginkan, maka
selanjutnya adalah makanan apa yang harus dimakan hari besok. Setelah makan apa
besok terpenuhi, maka selanjutnya adalah makan di mana besok. Tidak berhenti sampai
di situ, setelah terpuaskan makan di mana besok, selanjutnya adalah siapa yang
akan dimakan.
Atau
seperti orang yang sudah mempunyai harta banyak, tidak memberikan kepuasan dan
kehormatan dengan hanya harta saja. maka ia akan berusaha untuk mencari kedudukan,
agar menjadi orang terpandang dan disegani, walapun tujuan tidak untuk mencari
harta benda. Tapi popularitas adalah hal lain setelah ia mempunyai segalanya
berupa harta. Dan pada titik tertentu, manusia sebenarnya menipu dirinya
sendiri dengan keadaannya sendiri.
Ayat
lain juga diangkat oleh khatib sebagai penguat dan ini sebenarnya permulaan
dari ayat yang disebut oleh khatib pada permulaan dalil. Yaitu surah al-Hadid
juga ayat 20, “اعْلَمُوا أَنَّمَا
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ
وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ
الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا
“ (Ketahuilah, bahwa
Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan,
perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang
banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para
petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning
kemudian menjadi hancur).
Ayat
ini menggambarkan dengan sangat jelas, bagaimana perumpamaan dunia yang
ditempati oleh manusia. Pertama Allah menggambarkan kehidupan dunia sebagai
sebuah permainan saja. sifat dari permainan kadangkala menjadi pemenang, kadang
menjadi pecundang, kadang senang, kadang juga sudah, kadang tertawa, kadang
sedih, begitu seterusnya. Tidak ada yang abadi dalam kehidupan dunia, semuanya
fana dan nisbi saja. hanya sebuah tampilan semata dan tidak mempunyai hakikat
yang nyata, karena pada manusia tidak hanya berhenti di satu titik, tapi ia
akan terus melangkah ke titik selanjutnya. Saat orang tidak memandang kehidupan
dengan lebih fleksibel, maka pada saat ia mendapatkan sesuai dengan
keinginannya, maka ia akan lupa kepada Allah atas kegirangannya. Tapi pada saat
ia mendapatkan sesuatu tidak sesuai dengan kenyataan, maka bisa jadi ia akan
kembali kepada Allah atau berbalik menyalahkan Allah dan kehidupan yang ia
jalankan.
Yang
kedua, kehidupan dunia ini adalah sesuatu yang melalaikan. Dunia dapat
melalaikan pada saat seseorang sibuk dengan aktivitas dunianya dan ia tidak
ingat bahwa ada Ilah yang memberikan mereka kekuatan untuk menjalankan hidup.
Hidup tidak hanya sebuah aktivitas bernafas dan berperilaku begitu saja, tapi
kehidupan adalah sebuah jalan menunju kehidupan yang lebih kekal. Manakala
manusia menganggap kehidupannya hanya untuk hidup di dunia saja, maka ia tidak
akan pernah dapat menyukuri kehidupannnya dengan ibadah kepada Allah, dan
bahkan akan terlihat liar dalam mengisi kehidupan dan memuaskan diri dengan
sesuatu yang dilarang. Aturan manusia ia dapat taati dengan baik, tapi aturan
Allah tidak pernah terlintas sebagai sebuah aturan.
Keadaan
seperti itu akan membuat dia berpikir bahwa tidak ada kehidupan setelah
kehidupan dunia. Maka aktivitas ukhrawinya pun akan terbengkalai, karena
dilalaikan dengan kesibukan duniawi. Semuanya dinilai dengan dunia semata,
sejak pagi hingga pagi lagi.
Kalau
sudah seperti itu maka yang terjadi adalah sikap bermegah-megahan dan saling
membagakan diri dengan harta dan perhiasan dan anak yang mereka punya. Semuanya
ingin mencapai puncak tertentu dalam kedudukan untuk menunjukkan eksistensinya
sebagai seorang manusia. Dan ingin semua orang berada di bawahnya dan tunduk
kepadanya.
Sikap
ini persis seperti apa yang menimpa Qarun, yang pada awalnya sebagai seorang
ahli ibadah dan pada saat diberikan harta yang melimpah, bukannya
menjadikannnya semakin taat untuk berderma dan beribadah kepada Allah. Akan
tetapi ia malah berbalik membangkang dan menganggap bahwa apa yang ia dapatkan
adalah dari usahanya sendiri, tidak ada campur tangan Allah dalam
keberhasilannya. Kemudian dengan sekejap, Allah meneggelamkan Qarun dan
hartanya ke dalam perut bumi.
Itulah
perumpamaan yang akan dialami oleh mereka yangg dilalaikan oleh dunia dan
membagakan diri, seperti hujan yang turun terus menerus memberikan kebahagiaan
bagi para petani pada awalnya, tapi kemudian semuanya menjadi mati dan gugur
dan tidak menghasilkan apa-apa.
Oleh
karena itu, hendaklah manusia tidak hanya mementingkan kehidupan dunianya saja,
tapi kahirat juga harus dapat seimbang. Karena kehidupan tidak hanya untuk di
dunia saja, tapi ada kehidupan yang lebih kekal. Karena sangat tidak adil jika
orang hanya hidup di dunia saja dan tidak ada kehidupan akhir yang akan
memberikan sebuah peradilan. Contoh kecil, mereka yang mati dibunuh, kalau
hanya ada kehidupan dunia saja, maka sangat tidak adil mereka yang membunuh,
padahal semua manusia mempunyai hak untuk hidup.
Inilah
nasihat khatib pada jum’at kali ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Wallahu ‘alam bi al-sawab.
Tags
KHUTBAH AL-YAUM