KHUTBAH JUM’AT : KEHIDUPAN DUNIA ADALAH PERMAINAN

Jum’at kali ini 13 April 2012, untuk ke sekian kalinya shalat jum’at di Masjid Jabal Rahmah di Komplek Perumahan Dinoyo Yayasan Wahid Hasyim Lokokwaru Kota Malang. Sebenarnya ingin jum’atan di tempat lain agar sedikit ada dinamika, tapi hujan yang mengguyur sebelum jum’atan, terpaksa harus shalat di masjid ini. Tapi sebenarnyanya juga tidak menjadi masalah, karena semua masjid sama saja untuk shalat fardhu dan shalat jum’at.

Tema yang diangkat khatib pada jum’at ini adalah tentang “kehidupan dunia adalah permainan”. Selaku khatib adalah imam yang biasa memimpin jama’ah setiap waktu. Bapak yang sudah tua, tapi masih enerjik dan bacaan al-qur’annya juga sangat fasih, sehingga dalam beberapa kesempatan, kita sering menunggu bapak ini pada shalat fardhu, walapun ada yang lainnya bisa untuk memimpin shalat, tapi sepertinya kesenioran dan kefasihan bacaannya membuat dia menjadi imam pada setiap shalat, baik jahr mapun sirr. Namanya sendiri saya kurang tahu, setahu saya dia seorang kyai di lingkungan Yayasan Wahid Hasyim, dan rumahnya pun berada di dalam kompleks.
Baik, khatib memulai khutbah dengan membaca surah  al-Hadid ayat 20 “وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ” tiadalah kehidupan dunia ini kecuali kesenangan yang menipu. Memang kehidupan dunia telah diciptakan oleh Allah untuk manusia bisa menikmatinya dan mengelolanya dengan baik. Hidup bagaikan fatamorgana di tengah padang pasir, terlihat seperti ada air untuk kehidupan, tapi itu hanya semua saja. kehidupan dunia selalu membuat orang berangan-angan sesuatu yang tidak pasti, dan penuh dengan hayalan-hayalan. Memang orang bisa dapat mencapai sesuatu secara materi, tapi pada saat yang berbeda, manusia tidak pernah puas dengan apa yang sudah di raih, sehingga dari satu fatamorgana, ia akan mencari fatamorgana-fatamorgana lainnya. Dan seperti itulah sifat dunia.
Manusia pada saat tidak mempunyai apa-apa dalam kehidupan dunia, dan hanya membutuhkan sesuap nasi untuk melanjutkan hidup, maka mengisi perut adalah sudah lebih dari cukup untuk diraihnya. Tapi setelah meraih apa yang ia inginkan, maka selanjutnya adalah makanan apa yang harus dimakan hari besok. Setelah makan apa besok terpenuhi, maka selanjutnya adalah makan di mana besok. Tidak berhenti sampai di situ, setelah terpuaskan makan di mana besok, selanjutnya adalah siapa yang akan dimakan.
Atau seperti orang yang sudah mempunyai harta banyak, tidak memberikan kepuasan dan kehormatan dengan hanya harta saja. maka ia akan berusaha untuk mencari kedudukan, agar menjadi orang terpandang dan disegani, walapun tujuan tidak untuk mencari harta benda. Tapi popularitas adalah hal lain setelah ia mempunyai segalanya berupa harta. Dan pada titik tertentu, manusia sebenarnya menipu dirinya sendiri dengan keadaannya sendiri.
Ayat lain juga diangkat oleh khatib sebagai penguat dan ini sebenarnya permulaan dari ayat yang disebut oleh khatib pada permulaan dalil. Yaitu surah al-Hadid juga ayat 20, “اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا “  (Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur).
Ayat ini menggambarkan dengan sangat jelas, bagaimana perumpamaan dunia yang ditempati oleh manusia. Pertama Allah menggambarkan kehidupan dunia sebagai sebuah permainan saja. sifat dari permainan kadangkala menjadi pemenang, kadang menjadi pecundang, kadang senang, kadang juga sudah, kadang tertawa, kadang sedih, begitu seterusnya. Tidak ada yang abadi dalam kehidupan dunia, semuanya fana dan nisbi saja. hanya sebuah tampilan semata dan tidak mempunyai hakikat yang nyata, karena pada manusia tidak hanya berhenti di satu titik, tapi ia akan terus melangkah ke titik selanjutnya. Saat orang tidak memandang kehidupan dengan lebih fleksibel, maka pada saat ia mendapatkan sesuai dengan keinginannya, maka ia akan lupa kepada Allah atas kegirangannya. Tapi pada saat ia mendapatkan sesuatu tidak sesuai dengan kenyataan, maka bisa jadi ia akan kembali kepada Allah atau berbalik menyalahkan Allah dan kehidupan yang ia jalankan.
Yang kedua, kehidupan dunia ini adalah sesuatu yang melalaikan. Dunia dapat melalaikan pada saat seseorang sibuk dengan aktivitas dunianya dan ia tidak ingat bahwa ada Ilah yang memberikan mereka kekuatan untuk menjalankan hidup. Hidup tidak hanya sebuah aktivitas bernafas dan berperilaku begitu saja, tapi kehidupan adalah sebuah jalan menunju kehidupan yang lebih kekal. Manakala manusia menganggap kehidupannya hanya untuk hidup di dunia saja, maka ia tidak akan pernah dapat menyukuri kehidupannnya dengan ibadah kepada Allah, dan bahkan akan terlihat liar dalam mengisi kehidupan dan memuaskan diri dengan sesuatu yang dilarang. Aturan manusia ia dapat taati dengan baik, tapi aturan Allah tidak pernah terlintas sebagai sebuah aturan.
Keadaan seperti itu akan membuat dia berpikir bahwa tidak ada kehidupan setelah kehidupan dunia. Maka aktivitas ukhrawinya pun akan terbengkalai, karena dilalaikan dengan kesibukan duniawi. Semuanya dinilai dengan dunia semata, sejak pagi hingga pagi lagi.
Kalau sudah seperti itu maka yang terjadi adalah sikap bermegah-megahan dan saling membagakan diri dengan harta dan perhiasan dan anak yang mereka punya. Semuanya ingin mencapai puncak tertentu dalam kedudukan untuk menunjukkan eksistensinya sebagai seorang manusia. Dan ingin semua orang berada di bawahnya dan tunduk kepadanya.
Sikap ini persis seperti apa yang menimpa Qarun, yang pada awalnya sebagai seorang ahli ibadah dan pada saat diberikan harta yang melimpah, bukannya menjadikannnya semakin taat untuk berderma dan beribadah kepada Allah. Akan tetapi ia malah berbalik membangkang dan menganggap bahwa apa yang ia dapatkan adalah dari usahanya sendiri, tidak ada campur tangan Allah dalam keberhasilannya. Kemudian dengan sekejap, Allah meneggelamkan Qarun dan hartanya ke dalam perut bumi.
Itulah perumpamaan yang akan dialami oleh mereka yangg dilalaikan oleh dunia dan membagakan diri, seperti hujan yang turun terus menerus memberikan kebahagiaan bagi para petani pada awalnya, tapi kemudian semuanya menjadi mati dan gugur dan tidak menghasilkan apa-apa.
Oleh karena itu, hendaklah manusia tidak hanya mementingkan kehidupan dunianya saja, tapi kahirat juga harus dapat seimbang. Karena kehidupan tidak hanya untuk di dunia saja, tapi ada kehidupan yang lebih kekal. Karena sangat tidak adil jika orang hanya hidup di dunia saja dan tidak ada kehidupan akhir yang akan memberikan sebuah peradilan. Contoh kecil, mereka yang mati dibunuh, kalau hanya ada kehidupan dunia saja, maka sangat tidak adil mereka yang membunuh, padahal semua manusia mempunyai hak untuk hidup.
Inilah nasihat khatib pada jum’at kali ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin. Wallahu ‘alam bi al-sawab.


Weli Arjuna Wiwaha

Hiduplah Untuk Mencintai dan Bukan Untuk Menyakiti

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama