KEJUJURAN DAN HARGA DIRI


Ujian nasional banyak menimbulkan permasalahan bagi semua pihak, dari pejabat paling tinggi sampai kepada siswa yang mengkuti UN. Permasahannya tidak segampang yang diperkirakan, karena ia menyangkut masalah kepribadian seseorang dan akan menjadi sebuah perilaku yang berkepanjangan. Masalah yang muncul adalah betapa sulitnya sebuah kejujuran dan harga sebuah harga diri di hadapan manusia.
Wajar atau tidak, secara tidak sadar orang kemudian melakukannya dan seolah-olah menutup diri dan menganggap apa yang dilakukan adalah masih dalam batas wajar. sangat terbukti sebuah kaidah tentang kebaikan dan keburukan yaitu; jika perbuatan buruk dilakukan secara terus-menerus, maka lama kelamaan orang menganggapnya sebagai sebuah perbuatan biasa saja atau bahkan sebagai sebuah kebaikan. Tapi jika suatu kebaikan tidak pernah dan jarang dilakukan oleh orang, maka kalau ada orang yang melakukannya akan terlihat jelek dan bukan sebagai perbuatan baik. Kita tidak perlu melihat dan membandingkan kaidah di atas dengan sesuatu yang tidak bisa kita jangkau. Coba lihat perilaku pelaksana pendidikan dan para siswa yang mengikuti ujian Nasional, yang saat ini sedang berlangsung.
Untuk ujian bahasa inggris saja, karena diduga banyak terjadi kecurangan dari beberapa oknum, kemendikibud menyerukan untuk melakukan ujian ulang di beberapa tempat, seperti jawa barat, jawa timur, sumatera utara, dan beberapa tempat lainnya.
Padahal orang sudah sangat paham, apalagi mereka yang beragama islam, ketidakjujuran adalah perilaku orang-orang munafik, sedangkan orang munafik adalah orang-orang yang pernah memusuhi nabi kala itu. Dan bahkan jika kemunafikannya sudah mencapai tahap pengingkaran terhadap ajaran Allah dan rasulnya, maka ia akan seperti orang munafik yang ada dalam al-qur’an, “ inna al-Munafiqina fi al-darki al-Asfali min al-Naar”. Tapi pada perilaku ini tidak sampai ke arah yang menjadikan pelakukanya sebagai penghuni kekal api neraka. Dan saya yakin begitu juga dengan agama lain, apsti mengajarkan sifat kejujuran bagi pemeluknya.
Kejujuran memang mahal harganya, karena ia menyangkut masalah harga diri seseorang di depan orang lain. Dua hal ini sering berbenturan dalam beberapa kasus, tidak hanya pada masalah UN saja. pada masalah korupsi, persidangan, perpolitikan, sering juga ditemukan antara kejujuran dan harga diri. Walapun orang tahu akan resiko jika ia tidak jujur, tapi itu adalah sebuah pertarungan bathin dalam diri.
Melakukan yang benar dan mengungkapkan kebenaran memang mahal harganya, ia menjadi tonggak dan dasar dari sendi kehidupan, karena setiap orang butuh kepercayaan kep`da yang lainnya. Jika hidup dalam ketidakjujuran, sama saja seperti bersandiwara, padahal hidup di dunia adalah realitas yang dapat diterima oleh siapa saja.
Bahkan mereka yang sukses dalam bisnis di dunia, untuk membuat relasi, maka hal pertama yang mereka tumbuhkan dalam diri dan karyawannya adalah kejujuran kepada pelanggan, karena ini akan menjadi sebuah modal berharga, ia akan menjadi iklan dari mulut ke mulut dan membesarkan namanya.
Memang begitu susah untuk berprinsip jujur, ia dapat menjadi bumerang bagi seseorang, tapi tidak kalah hebat adalah menjadi senjata yang sangat ampuh untuk melumpuhkan seseorang. Sangat bagus apa yang dikatakan oleh seorang penyair, “ detakan jantung terus berkata, tidalah hidup ini kecuali dalam hitungan detik dan menit. Maka berbuatlah kebaikan, karena ia akan menjadi nyawa kedua setelah mati”. Semakna dengan itu, pepatah Bahasa Indonesia yang sangat kita kenal, “ gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang”. Jika manusia mati meninggalkan sesuatu yang baik, maka baik pula yang didapatkan setelah mati. Tapi jika yang ditinggalkan adalah keburukan, maka sepanjang orang masih hidup di dunia akan selalu menyebut kejelekannya.
Tentu kita inginkan sesuatu yang terbaik dalam hidup ini, maka berbuatlah yang terbaik, dan tidak membohongi diri sendiri dan orang lain. “kul al-Haq walau kan Murrran”.
Wallahu ‘A’lam bi al-Shawab.

Weli Arjuna Wiwaha

Hiduplah Untuk Mencintai dan Bukan Untuk Menyakiti

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama