SERANGAN TOMCAT


Minggu-minggu ini berita tentangg serangan tomcat santer terdengar dari media elektronik maupun cetak. Tomcat yang menyerang pemukiman warga mulai dari jawa timur dan mdrambah ke beberapa provinsi meresahkan warga, karena cairannya yang dapat menjadikan kulit iritasi dan bahkan seperti terbakar dan gatal.
Serangan tomcat  yang banyak dibicarakan oleh banyak orang ternyata sudah menyerang saya dua kali. Kejadian pertama sekitar duan bulan yang lalu, sedangkan serangan kecua terjadi tiga minggu yang lalu. Serangan tomcat yang saya alami persis seperti apa yang dibicarakan banyak pakar dengan ciri-ciri luka yang diakibatkan.
Pada awalnya saya tidak pernah mengira bahwa telah diserang serangga tomcat, karena pada saat itu pada saat saya mandi, tiba-tiba dipunggung terasa perih saat terkena air. Saat saya menyentuh, terasa seperti melepuh terkena sulutan api atau terkena gesekan barang kasar. Awalnya saya berpikir itu mungkin hanya luka biasa terkena sesuatu yang tidak saya sadari, kemungkinaan pada saat saya tidur. Dengan beberapa minyak dan salep saya obati, tidak samapai satu minggu kering dan sembuh. Tidak pernah ada kecurigaan apapun setelah keajdian itu.
Memang kondisi kost-kostan sedikit kotor, apalagi pemilik rumah erlihat kurang pembersih, ditambah lagi dengan memlihara kucing dengan kotoran setiap pagi di beberapa sudut kamar teman-teman dan di pokok kamar mandi sering terdapat kotoran kucing. Banu yang begitu menyengat membuat saya dan beberapa teman merasa tidak betah. Apalagi kucing-kucing tersebut hampir semua sepeda motor tiap pagi hari pasti menemukan sepeda mereka dalam keadaaan basah di sekitar roda dan knalpot karena dikencingi kucing. Suatu hari saya pernah melihat bagaimana tingkah laku kucing-kucing itu. Sebelum mereka kencing, semua sepeda motor mereka endus dan mencium, entah apa yang mereka endus. Setelah semua sepeda motor diendus, kemudian satu-satu sepeda motor kebagian dikencingi. Kucing-kucing ini tidak kencing sekaligus, tapi kencing sedikit-sedikit dan mengencingi semua sepeda motor.
Keadaan seperti itu membuat suasana kos-kosan kotor dan bau. Di belakang rumah juga ada lahan kosong yang sedikit kumuh. Oleh karena itu, beberapa hewan yang senang dengan keadaan kotor dan berbau sering muncul, seperti tikus, kecoa, semut, dan beberapa rayap yang banyak macamnya. Tapi yang sering terlihat adalah tikus got dan kecoa yang sangat banyak sekali.
Agar tidak kemasukan mahluk-makhluk itu, hampir setiap pintu kos tidak ada yang terbuka untuk menghindari masuknya hewan-hewan tersebut. tapi saya sendiri kurang suka untuk terlalu menutup pintu kecuali pada saat tidur malam hari, selain itu pintu terbuka lebar. Di samping untuk sedikit besosialisai dengan teman-teman yang lainnya, juga untuk mendapatkan angin, karena keadaan kamar yang tertutup. Tidak seperti teman-teman yang berada di lantai 2, mereka bisa dapat angin dari fentilasi yang berada di samping maupun belakang kamar mereka, sedangkan kamar saya tidak ada fentilasi sedikitpun untuk angin bisa masuk, walapun ada fentilasi kaca tapi tertutup.
Membunuh kecoa menjadi pemandangan setiap malam, karena pada malam hari kecoa-kecoa ini biasanya muncul dari lubang saluran yang ada di jeding dan tenpat air mesin. Ditambah lagi dengan nyamuk yang mengiringi tidur dan berterbangan bebas.
Pada suatu pagi menjelang siang, karena masih belum mandi dan cuaca sedikit agak panas, saya dengan hanya memakai baju singlet, terlentang tidur di atas sebuah karpet plastik. Saat sudah berbaring saya dikejutkan oleh seekor hewan persis laba-laba, dengan refleks saya langsung membunuhnya karena kelihatannya juga sangar. Menjelang waktu dzuhur, saya bergegas untuk mandi. Pada saat sedang memakai sabun, di punggung terasa ada yang aneh, saat saya raba kulit terasa mengekrut dengan rasa sedikit luka dan gatal-gatal. Beberapa benjolan kecil terasa di areal yang terasa sakit. Karena gatal saya asyik saja menggaruk, tapi semakin perih dan sedikit berdarah.
Setelah mandi, saya kemudian mengoleskan di daerah yang terasa perih dengan minyak dan salep. Sambil mengolesi, saya sempat berpikir, apakah laba-laba tadi yang menggigit atau luka biasa. Apa yang saya alami untuk kedua kali ini sedikit berbeda dengan yang pertama, walapun sama-sama menyebabkan kulit seperti terbakar. Tapi pada kejadian yang pertama hanya seperti luka bakar saja, tapi yang kedua ini di samping seperti terbakar juga terdapat benjolan kecil-kecil di sekitar lupa dan terasa sangat gatal sekali. Sehingga saya berpikir, luka yang kedua ini mungkin bukan karena teriris suatu benda, tapi mungkin karena gigitan hewan tertentu.
Dengan cara yang sama, hampir setiap hari saya mengolesi salep untuk menghilangkan rasa gatal dan rasa perih. Tapi lagi-lagi rasa geli sering tidak tertahankan dan membuat tangan mengaruk-garuk sekitar luka dan membuat luka yang baru dan bahkan tempat luka sendiri membuat benjolan besar. Untuk mengindari hal-hal yang lebih buruk lagi, saya tidak lagi menggarukknya dan terus menahan rasa gatal. tapi kejadian kedua tidak bisa terelakkan, pada saat mandi dan tersentuh oleh tangan, daerah sekitar lupa tiba-tiba gatal sekali. Dengan terpaksa saya pun menggaruk lagi, setelah mandi lukanya semakin parah lagi pada saat pertama. Karena sudah terlanjur saya pun mengobatinya.
Sudah hampir satu minggu lebih saya mengalami luka ini, tapi belum juga ada tanda-tanda kesembuhan. Rasa gatal sering membuat tangan tidak tahan untuk menggaruk, apalagi pada saat-saat tertentu sering tidak tertahankan. Lukapun tidak kunjung sembuh dan setiap melepas baju singlet selalua da bekas sedikit darah dari luka.
Karena tidak kunjung sembuh, saya pun berniat dan bertekad untuk tidak menggaruk lagi, apalagi langsung dengan tangan di tempat luka. Ini mungkin yang membuat benjolan tidak kunjung mengempis karena terllau sering dipegang dan sentuh. Kalaupun terpaksa, maka cukup menggaruknya dari luar pakaian dan tidak terlalu keras.
Dua minggu sudah berlalu, luka masih belum sembuh, walapun sudah ada perkembangan tidak terlalu besar benjolannya. Dan secara tidak sengaja, pada saat membaca koran di perpustakaan pusat UIN Maliki, saya melihat sebuah tulisan tentang serangga yang menyerang pemukiman warga. Karena penasaran saya pun membaca dengan seksama, sambil melihat serangga, sepertinya saya pernah melihatnya. Ya….saya pernah melihatnya di kamar sewaktu akan membersihkan karpet terlihat seekor serangga tapi ganyanya seperti kalajengking. Khawatir mengigit saya mengambil buku untuk memukulnya, tapi ternyata dia lebih cepat bergerak dan bersembunyi dibawah lemari. Saya biarkan saja dan tidak menghiraukannya. Perkalimat saya terus membaca dengan seksama, tulisan itu ternyata sama persis dengan serangga yang saya temukan, dan efeknya hampir sama dengan luka yang saya alami. Karena di artikel diperlihatkan seseorang yang sudah terkena serangga itu, kalau dibandingkan dengan apa yang saya alami tidak jauh berbeda. Dalam benak saya, “apakah ini yang menyebabkan luka saya?”.
Beberapa langkah pencegahan juga ditawarkan dalam artikel, tapi tidak menyebutkan secara spesifik obat yang harus dipakai. Yang jelas, serangga ini pada dasarnya tidak berbahaya dan bahkan menguntungkan bagi petani, karena serangga inilah yang bisa menyelamatkan petani dari hama wereng. Binatang ini tidak mengigit dan tidak agresif, hanya saja cairan yang dikeluarkan dari tubuhnya pada saat diganggu dapat menyebabkan iritasi pada kulit dengan efek seperti terbakar.
Kalaupun terkena disarankan untuk membersihkan dengan air atau menggunakan sabun agar bakteri yang ada dalam cairan yang dikeluarkan tidak masuk ke dalam kulit yang menyebabkan penyebaran di daerah sekitar.
Karena di artikel tidak dijelaskan dengan jelas merek obat, tapi hanya obat yang mengandung ini dan itu. Saya semakin penasaran, kemudian melakukan searching di internet obat untuk luka serangga ini. Tapi lagi-lagi saya tidak menemukan merek obat dengan jelas, hanya diterangkan salaep yang mengandung beberapa zat dan orang apotik tahu dan pada saat bertanya tidak untuk luka karena herpes.
Kerena tidak menemukan obat yang jelas mereknya, dan saya pun tidak pernah cerita kepada teman-teman kalau saya terserang serangga. Saya membiarkan saja luka yang saya alami dengan pengobatan seadanya. Tapi sudah mengalami perkembangan lebih baik, walapun masih ada beberapa benjolan kecil dan masih terasa gatal.
Tidak disangka dalam waktu dua hari setelah membaca koran tersebut. beberapa koran selanjutnya banyak membahas tentang serangga itu. Dan beberapa media elektrinik kemudian memberitakan soal serangga yang mulai menyerang beberapa pemukiman penduduk kota dan orang-orang yang terluka akibat serangannya. Semua luka yang diperlihatkan hampir sama dengan apa yang saya alami. Karena begitu banyak berita tentang serangga ini, saya pun mulai yakin kalau luka saya ini adalah akibat cairan serangga yang pernah saya lihat dikamar. Dan ternyata serangga itu bernama “Tomcat”, nama yang aneh dan sedikit menyeramkan.
Kemudian beberapa hari ini, saya pun mulai melakukan penyergapan dan pelacakan keberadaan tomcat yang pernah saya lihat di kamar. Saya pancing-pancing dengan sapu tapi tidak terlihat tanda-tanda keluar. Beberapa kardus dan tumpukan buku saya bongkar untuk mencarinya, tapi tidak saya temukan juga. Dan sampai hari ini pun saya tidak pernah melihatnya lagi, walapun saya terus waspada dengan terus melihat terakhir kali tomcat bersembunyi di bawah lemari. Dan yang saya syukuri, luka bekas serangan tomcat sudah sembuh, tapi masih ada beberapa bintik kecil yang masih terasa gata. Semoga cepat sembuh, amin…..!

Weli Arjuna Wiwaha

Hiduplah Untuk Mencintai dan Bukan Untuk Menyakiti

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama