“Pundi”
tanya seorang bapak yang sudah lumayan tua kepada saya, sesaat setelah usai
shalat isya’ dengan raut muka sedikit penasaran kepada saya. “lombok pak”,
jawab saya langsung, sambil terus berjalan keluar dari halaman masjid. Mengetahui
saya dari lombok, ia tidak lagi terdengar berbicara bahasa jawa dan bertanya
kembali, “kemarin kita samaan datang ya”. Mendengar pertanyaan itu, saya agak
sedikit kebingungan, samaan datang dari mana. Kalau samaan datang waktu shalat
magrib tadi sepertinya ya, tp kl shalat isya’, saya malah datang setelah orang
shalat dan imam sedang membaca ayat.
Untuk menyambung pembicaraan saya jawab saja, “ya pak”. Bapak ini kemudian
terlihat semakin penasaran dengan jawaban saya, tidak kalah bingung juga dengan
saya yang tidak tahu arah pembicaraan mulai dengan apa dan akan kemana. Sejenak
terdiam, bapak ini kembali bertanya, “baru tinggal di sini juga”, “ya pak, tp
sudah sekitar tiga bulanan”, jawab saya. “oooo, saya baru saja datang dari
banjarmasin”, sahut bapak tua.
Sambil
terus berjalan keluar gerbang, kebetulan jarak antara masjid dengan gerbang
lumayan jauh karena masjid tempat kami berada di kompleks sebuah SMP Islam di
daerah dinoyo. Yang membuat saya aneh lagi pada saat bapak tua bertanya,
“kemarin kita ketemu di bandara ya”, saya semakin bingung dengan pertanyaannya.
Semakin tidak nyambung dengan pertanyaan sebelumnya. Saya jawab saja,” gak pak,
mungkins alah lihat bapak”. “kok persis sama ya dengan orang saya tegur di
bandara” sahutnya.
Sepertinya
bapak tua penasaran dengan tampilan saya, karena mengira pernah bertemu di
bandara dan sama-sama datang dari banjarmasin. Memang orang-orang banjarmasin
kebayakan mereka orang-orang keturunan arab, sehingg di beberapa daerah banyak
ditemukan kampung-kampung banjar. Walapun kearabannya tidak terlalu terlihat
dengan pakaian orang arab, tapi setahu saya seperti di Mataram, kampung banjar
dan orang-orang banjar banyak keturuan Arab. Ini terlihat dari tradisi mereka
menulis silsilah mereka dalam buku atau tertempel di dinding, dan bahkan mereka
ada yang keturunannya sampai kepada Rasulullah.
Karena
salah sangka dengan orang yang ditemui di bandara, ia pun tidak bertanya lagi,
tapi ia malah bercerita tentang dirinya waktu masih kecil dan muda. Di mana
pada saat masih remaja ia terpaksa dan dipaksa untuk keluar dari jawa untuk
menghindari kekerasan dan penganiayaan dari pemerintah dan tentara karena
keluarganya terindikasi terlibat dalam G30SPKI. Pada saat itu ia keluar ke
kaimantan tepatnya di banjarmasin dan menghabiskan masa kecil, remaja, dewasa,
dan sisa tunya di sana. Ia baru saja tiba di malang setelah sekian lama berada
di rantauan, jauh dengan sanak saudara yang entah di mana tempatnya.
Dia
begitu menikmati malang, tidak seperti banjarmasin yang sangat panas, kalau di
malang cuacanya dingin, dan tidak pernah kepanasan. Semuanya sudah berbeda
dengan dulu, saat ia meninggalkan Malang, di tempatnya sekarang dulu semuanya
kebun tebu, tapi sekarang sudah menjadi pertokoan dan perumahan elit di tengah
kota. Ia masih ingat bagaimana penderitaan pada saat masa lalu, penderitaan
keluarganya yang dianggap masuk dalam gerakan PKI, dan kemungkinan mereka juga
menjadi target pembunuhan masal yang dilakukan pemerintah pada saat itu. Tapi
kemudian bapak tua tidak mau menceritakan lagi tentang masa lalu, karena
katanya terlalu menyakitkan untuk dikenang. Sekarang ia cukup menikmati masa
tua dengan anak-anak dan cucunya yang sudah ada dan mukim di malang.
Saat
berjalan, dari belakang mendekat seorang laki-laki agak besar dan sedikit
jenggotan dan sering bertemu saat shalat. Orang ini memang seperti bukan orang
asli malang, terlihat dari muka yang lebih keArab-araban. Dan ternyata ia
famili dari bapak tua ini, tapi saya juga tidak tahu apakah anaknya atau
menantunya. Karena bapak tua lebih terlihat keIndonesiaannya sedangkan bapak
yang satu keArabannya.
Sekitar
15 menit kami berjalan dan berbicang-bincang, sebentar tapi mempunyai kesan
yang sangat besar. Dengan tidak ada niat untuj memutuskan pembicaraan, kita
memang berada di perumahan yang sama, tapi hanya gang saja yang bereda, dengan
berat hati saya meminta pamit, mereka pun mengiyakan. “Asalamu’alaikum” sahut
saya. “wa’alikum salam” sahut mereka lagi sambil sedikit melambaikan tangan dan
ucapan terima kasih.
Tags
RENUNGAN QAILULAH