KUMANDANG ADZAN YANG ANEH


Hampir setiap dini hari pada pukul 02.50 WIB terdengar sayup-sayup suara adzan dari sebelah timur kost-kostan. Tidak tahu pasti di sebelah mana dan di masjid mana dikumandangkan adzan tersebut. Tapi suara tersebut tidak jauh dari komplek Dinoyo dan sekitarnya.
Pada awalnya, saya menyangka bahwa adzan tersebut adalah azan yang menandakan waktu subuh telah tiba. Tapi suara adzan itu hanya terdengar di satu tempat saja, sedang di tempat lain tidak terdengar suara adzan. Kalaupun adzan yang bekumandang tersebut mengumandangkan adzan lebih awal sedikit, tentu di masjid-masjid lainnya terdengar suara pengajian atau suara shalawatan sebelum adzan. Atau kalau adzan yang terdengar itu adalah adzan yang terakhir dari masjid-masjid yang ada, tentu juga masjid yang lain terdengar bacaan-bacaan shalawat sebelum iqomah. Tapi setelah menunggu beberapa menit, tidak ada suara azan lagi atau shalawatan dari masjid-masjid yang ada di sekotar komplek. Ini adalah yang aneh bagi saya, dan baru menemukannya di Kota Malang.
Kalaupun adzan dua kali untuk memberikan peringaan kepada jama’ah. Setahu saya itu pada Hari Jum’at dan pada saat Bulan Puasa Ramadhan, yang mana pada azan pertama Jum’at untuk memberikan peringatan bahwa pada hari ini adalah Hari Jum’at. Sedangkan adzan pertama pada saat Bulan Ramadhan adalah adzan yang dikumandangkan sebelum masuk waktu untuk memberikan peringatan bahwa waktu subuh akan tiba sebentar lagi. Dan cara itu pernah dilakukan teman-teman sewaktu di pondok, yang akhirnya juga tidak diperbolehkan karena menyebabkan kontroversi. Dan sebagai pengganti cukup memberikan peringatan melalui pengeras suara waktu azan subuh atau waktu imsak yang biasa berlaku di Indonesia.
Adzan yang berkumandang tersebut pernah membuat saya salah kaprah. Karena pada saat baru-baru pertama berada di Malang, saya mengira itu adalah adzan yang menadakan waktu subuh telah tiba. Bahkan setelah mendengar adzan tersebut dan di masjid-masjid lain tidak terdengar lagi suara adzan, saya mengira itu adalah adzan terakhir dan di masjid lainnya sudah melaksanakan shalat atau sedang melaksanankan shalat sunnah qabliyah. Menganggap itu sebagai adzan terakhir, langsung saja bergegas bangun dan mengambil air wudhu’. Setelah mengganti pakaian, langsung keluar menuju ke masjid dekat komplek yang jaraknya sekitar 20 meteran. Saya melihat sekeliling masih sangat sepi, dari kejauhan juga tampak penjaga masih ada di posnya, biasanya menjelang subuh penjaga sudah tidak berada di tempat. Tapi saya mengabaikannya dan terus berjalan menuju masjid. Sesaat setelah sampai di depan gerbang masjid, saya melihat gerbang masih terkunci rapat, lampu dalam masjid pun masih belum menyala. Sambil menoleh ke kiri dan kanan, suasana masih sepi, untuk bertanya ke penjaga pos, dia terlihat masih tidur-tiduran. Saya berpikir dalam hati, “apakah saya salah dengar adzan?”. Saya pun bergegas kembali ke kamar, dan karena sudah terlanjur bangun, tidak ada salahnya untuk bermunajat ke yang maha kuasa.
Setelah cukup bermunajat dengan ritual shalat beberapa raka’at disertai witir. Sejenak saya menenangkan diri dengan meminum air hangat untuk menghilangkan rasa dingin yang menusuk. Sambil bersandar di dekat ranjang, saya berpkir lagi soal adzan yang terdengar tadi. Apakah adzan yang saya dengar tadi adzan beneran dari masjid yang dikumandangkan oleh seseroang, atau adzan itu hanya ilusi atau respon yang berlebihan dari mimpi yang saya alami.
Lama berpikir sambil duduk termenung dan sesekali membaca buku, tidak terasa sudah hampir satu jam dari kejadian, dari luar ruangan mulai terdengar suara tilawatil qur’an dari masjid dekat komplek. Satu masjid dengan masjid yang lainnya pun bersahutan memperdengarkan tilawah al-qur’an.
Saya sedikit tersadar dan berpikir, mungkin apa yang saya dengar tadi hanya sebuah mimpi saja dan saya menaggapinya terlalu berlebihan. Tapi tidak mengapa, karena bisa bangun lebih pagi, walapun setelah subuh kantuk berat datang menghampiri.
Setelah kejadian itu, saya tidak pernah memikirkannya lagi dan mulai memprogram alarm dengan waktu subuh yangt tepat, sehingga tidak bangun terlalu cepat dan tidak ketelatan untuk shalat subuh.
Tapi, tadi malam saya mulai menyadarinya, setelah lima bulan saya tidak memperdulikan suara adzan tersebut, ternyata kumandang adzan pada pukul 02.50 itu adalah suara adzan sungguhan dari sebuah masjid. Dan hanya satu-satunya suara adzan yang terdengar sekota Malang jauh sebelum subuh. walapun saya tidak tahu persis apakah mereka mengumandangkan azan lagi pada saat waktu subuh sudah tiba.
Saya pun mulai bertanya-tanya tentang kumandang adzan tersebut. apakah mereka memang benar-benar untuk memberikan sebuah peringatan jauh sebelum subuh atau mereka sekelompok orang yang mempunyai kepercayaan tertentu tentang shalat subuh?. Kalau hanya memberikan peringatan akan datang waktu subuh, rasanya tidak mungkin karena adzan yang mereka kumandangkan satu setengah jam lebih dari waktu subuh sebenarnya. Peringatan saja cukup hanya beberapa menit seperti masjid-masjid lainnya dengan memperdengarkan tilawah al-qur’an atau shalawatan lima menit sebelum adzan.
Rasa ingin tahu terus menggelora dalam hati, sampai saat ini saya pun belum bertanya atau mengecek posisi adzan yang sering berkumandang itu. Tapi rasa ingin tahu ini harus terealisasi untuk mencari sebuah kebenaran, atau paling tidak motiv mereka mengumandangkan adzan jauh sebelum subuh. Bukan untuk apa-apa, hanya sekedar ingin tahu, dan sangat bagus kalau bisa menjadi sebuah kajian dan dialog sebagai sesuatu yang unik untuk diteliti.
Sabar….kebenaran pasti akan ditemukan, ma’a al-najah.

Weli Arjuna Wiwaha

Hiduplah Untuk Mencintai dan Bukan Untuk Menyakiti

37 Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama