KHUTBAH: DUSTA DAN MALU

Jum’at ini tanggal 30 Maret 2012, tema yang diangkat oleh khatib di Masjid Insan Karim Merjosari Malang adalah masalah dusta dan malu. Sebelum memualai dengan isi khutbah, khatib memberikan nasehat kepada para jama’ah dengan selalu berpegang pada perintah Allah dan Rasulnya, serta menjauhi segala apa yang dilarang. Dan berusaha mewujudkan ikrar keislaman yang sudah dengan amal nyata dalam kehidupan, tidak hanya sekedar mengaku Islam, tapi perbuatannya jauh dari ajaran Islam dan nilai-nilai islami.

Menurut khatib, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, rasa malu dan perbuatan dusta sudah menjadi pemandangan dan menjadi perilaku yang dianggap bukan lagi sebagai sebuah perbuatan fujur. Tapi perbuatan tersebut sebagai sebuah trend hidup dan bangga dengan apa yang mereka lakukan. Dua hal ini sering bergandengan, kalau orang sudah tidak menganggap dusta sebagai sebuah perbuatan dosa, maka rasa malu sudah tidak ada dalam dirinya. Dan kalau rasa malu sudah tidak ada dalam diri seseorang, maka berdusta dengan nama Allah dianggap sebagai sebuah permainan kata-kata saja, tidak mempunyai konsekuensi apapun terhadapa dirinya.
Dusta dalam masalah agama merupakan cirri-ciri orang munafik, sebagaimana dalam hadis nabi, “ Tanda-tanda orang munafik ada tiga, jika ia berbicara maka ia bohong, apabila ia berjanji ia mengingkari, dan apabila diberikan amanat maka ia menghianati”. Hadis ini tentu tidak membawa kepada kemunafikan yang mukhallad fi al-Naar dan menjadikan dia orang yang munafir kubra dengan balasan berada di bawah kerak api neraka. Sebagaimana dalam ayat, “ inna al-Munafiqina fi al-darki al-asfal min al-Naar”. Tapi cap munafik sudah menjadikan seseorang telah berbuat dosa, dan jika ia menganggapnya sebagai suatu yang biasa, maka semakin lama akan membawanya kepada kefasikan.
Dusta tidak hanya pada tataran, memberitakan sesuatu yang tidak nyata kepada orang lain, tapi dusta untuk kebaikan juga, itu dianggap sebagai dusta dan tidak dibenarkan dalam agama. Sebagaimana orang-orang dahulu setelah wafat Rasulullah yang menginginkan umat berada dalam kebaikan dengan membuat hadis-hadis palsu agar umat rajin beribadah atau rajin membaca ayat-ayat tertentu. Padahal sudah jelas dalam hadis Rasulullah, orang yang walaupun tujuannya baik, tapi caranya yang tidak dibenarkan, tetap dianggap berbohong dan menghianati Rasulullah. Dalam sebuah hadis Rasulullah dinyatak, “ barang siapa yang berbohong atas nama saya, maka hendaklah ia menyiapkan dirinya tempat di neraka”( silahkan lihat riwayat lengkapnya dalam hadis).
Yang tidak kalah penting melanda bangsa ini adalah rasa malu yang sudah tidak ada lagi dalam diri dan pribadi bangsa. Orang-orang sudah bebas mengumbar aurat mereka, bahkan para pemimpin mereka dengan sangat bangga memperlihatkan kefujuran mereka (al-Jahru bi al-Su’). Taruh saja para pejabat-pejabat yang bangga dengan perzinaan yang mereka lakukan. Pada saat mereka kepepet, dalih terahkirnya adalah sebagai istri sirrinya.
Jika rasa malu sudah hilang dari pejabat dan masyarakat paling bawah, maka tunggulah kehancuran suatu bangsa. Karena Rasulullah sudah menegaskan, “ idza lam tastahi fasna’ ma shi’ta “ ( kalau kamu tidak mempunyai rasa malu, maka lakukanlah apa saja semaumu). Hadis ini menjadi peringatan bagi semua kita, bahka rasa malu akan mematikan semua hal-hal yang buruk dan terlihat menjadi baik.
Padahal secara universal, manusia yang tidak mempunyai peradaban pun tahu mana yang baik dan buruk secara individu dalam dirinya. Kita lebih punya rasa malu dengan aturan manusia, ketimbang malu dengan aturan agama yang datang dari Allah melalui Rasulnya.
Kemudian khatib secara khusus mengkaitkan sifat dusta dan malu dengan keadaan saat ini, yang sedang rebut masalah kebijakan pemerintah yang menaikkan bahan bakar minyak (BBM). Mereka padahal telah terpilih oleh masyarkat dan diberikan kepercayaan oleh masyarakat untuk bias mensejahterakan mereka dan mengeluarkan dari penderitaan ekonomi, social, politik. Tapi ternyata mereka yang terpilih tidak lagi memperdulikan keadaan masyarakat yang sudah sangat menderita. Mereka hanya menikmati kesenangan dengan pajak yang bayarkan masyakarat kepada pemerintah.
Janji sudah mereka ucapkan pada saat mereka akan terpilih, dan bahkan mereka berjanaji dengan ucapan, “demi Allah”. Janji yang sangat berat dalam Islam dan mempunyai konsekuensi laknat Allah jika tidak dilaksankan. Tapi, ternyata mereka menganggap ucapan itu hanya sebuah ucapan biasa dan permainan saja, sehingga tidak ada konsekuensi apapun yang akan mereka terima. Ya..di dunia mereka tidak medapatkannya, tapi di akhirat mereka akan mendapatkan balasannya.
Dengan tegas Allah  telah menyatakan dalam sebuah ayat, “ kabura Maqtan ‘inda Allah, an Taqulu ma la Taf’alun” (sangat besar murka Allah, kamu hanya bias berkata, tapi tidak bias melakukannya).
Dan khatib mengajak semua jama’ah jum’at untuk berdo’a semoga bangsa dan Negara kita terhindar dari bencana akibat kefujuran para perjabat dan masyarakat sendiri. Sekian…!

Weli Arjuna Wiwaha

Hiduplah Untuk Mencintai dan Bukan Untuk Menyakiti

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama