Menurut khatib, dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, rasa malu dan perbuatan dusta sudah
menjadi pemandangan dan menjadi perilaku yang dianggap bukan lagi sebagai
sebuah perbuatan fujur. Tapi perbuatan tersebut sebagai sebuah trend hidup dan
bangga dengan apa yang mereka lakukan. Dua hal ini sering bergandengan, kalau
orang sudah tidak menganggap dusta sebagai sebuah perbuatan dosa, maka rasa
malu sudah tidak ada dalam dirinya. Dan kalau rasa malu sudah tidak ada dalam
diri seseorang, maka berdusta dengan nama Allah dianggap sebagai sebuah
permainan kata-kata saja, tidak mempunyai konsekuensi apapun terhadapa dirinya.
Dusta dalam masalah
agama merupakan cirri-ciri orang munafik, sebagaimana dalam hadis nabi, “ Tanda-tanda orang munafik ada tiga, jika ia
berbicara maka ia bohong, apabila ia berjanji ia mengingkari, dan apabila
diberikan amanat maka ia menghianati”. Hadis ini tentu tidak membawa kepada
kemunafikan yang mukhallad fi al-Naar dan
menjadikan dia orang yang munafir kubra dengan balasan berada di bawah kerak
api neraka. Sebagaimana dalam ayat, “ inna
al-Munafiqina fi al-darki al-asfal min al-Naar”. Tapi cap munafik sudah
menjadikan seseorang telah berbuat dosa, dan jika ia menganggapnya sebagai
suatu yang biasa, maka semakin lama akan membawanya kepada kefasikan.
Dusta tidak hanya pada
tataran, memberitakan sesuatu yang tidak nyata kepada orang lain, tapi dusta
untuk kebaikan juga, itu dianggap sebagai dusta dan tidak dibenarkan dalam
agama. Sebagaimana orang-orang dahulu setelah wafat Rasulullah yang
menginginkan umat berada dalam kebaikan dengan membuat hadis-hadis palsu agar
umat rajin beribadah atau rajin membaca ayat-ayat tertentu. Padahal sudah jelas
dalam hadis Rasulullah, orang yang walaupun tujuannya baik, tapi caranya yang
tidak dibenarkan, tetap dianggap berbohong dan menghianati Rasulullah. Dalam sebuah
hadis Rasulullah dinyatak, “ barang siapa yang berbohong atas nama saya, maka
hendaklah ia menyiapkan dirinya tempat di neraka”( silahkan lihat riwayat
lengkapnya dalam hadis).
Yang tidak kalah
penting melanda bangsa ini adalah rasa malu yang sudah tidak ada lagi dalam diri
dan pribadi bangsa. Orang-orang sudah bebas mengumbar aurat mereka, bahkan para
pemimpin mereka dengan sangat bangga memperlihatkan kefujuran mereka (al-Jahru bi al-Su’). Taruh saja para
pejabat-pejabat yang bangga dengan perzinaan yang mereka lakukan. Pada saat
mereka kepepet, dalih terahkirnya adalah sebagai istri sirrinya.
Jika rasa malu sudah
hilang dari pejabat dan masyarakat paling bawah, maka tunggulah kehancuran
suatu bangsa. Karena Rasulullah sudah menegaskan, “ idza lam tastahi fasna’ ma shi’ta “ ( kalau kamu tidak mempunyai
rasa malu, maka lakukanlah apa saja semaumu). Hadis ini menjadi peringatan bagi
semua kita, bahka rasa malu akan mematikan semua hal-hal yang buruk dan
terlihat menjadi baik.
Padahal secara
universal, manusia yang tidak mempunyai peradaban pun tahu mana yang baik dan
buruk secara individu dalam dirinya. Kita lebih punya rasa malu dengan aturan
manusia, ketimbang malu dengan aturan agama yang datang dari Allah melalui
Rasulnya.
Kemudian khatib secara
khusus mengkaitkan sifat dusta dan malu dengan keadaan saat ini, yang sedang rebut
masalah kebijakan pemerintah yang menaikkan bahan bakar minyak (BBM). Mereka padahal
telah terpilih oleh masyarkat dan diberikan kepercayaan oleh masyarakat untuk bias
mensejahterakan mereka dan mengeluarkan dari penderitaan ekonomi, social,
politik. Tapi ternyata mereka yang terpilih tidak lagi memperdulikan keadaan
masyarakat yang sudah sangat menderita. Mereka hanya menikmati kesenangan
dengan pajak yang bayarkan masyakarat kepada pemerintah.
Janji sudah mereka
ucapkan pada saat mereka akan terpilih, dan bahkan mereka berjanaji dengan
ucapan, “demi Allah”. Janji yang sangat berat dalam Islam dan mempunyai
konsekuensi laknat Allah jika tidak dilaksankan. Tapi, ternyata mereka
menganggap ucapan itu hanya sebuah ucapan biasa dan permainan saja, sehingga
tidak ada konsekuensi apapun yang akan mereka terima. Ya..di dunia mereka tidak
medapatkannya, tapi di akhirat mereka akan mendapatkan balasannya.
Dengan tegas Allah telah menyatakan dalam sebuah ayat, “ kabura Maqtan ‘inda Allah, an Taqulu ma la
Taf’alun” (sangat besar murka Allah, kamu hanya bias berkata, tapi tidak bias
melakukannya).
Dan khatib mengajak semua
jama’ah jum’at untuk berdo’a semoga bangsa dan Negara kita terhindar dari
bencana akibat kefujuran para perjabat dan masyarakat sendiri. Sekian…!
Tags
KHUTBAH AL-YAUM