Meduanya
politisi golongan karya ini, menjadikan suasana Senayan semakin panas, apalagi
tinggal satu hari lagi tenggat waktu untuk membicarakan soal kenaikan BBM.
Apakah ikut dengan kebijakan pemerintah atau akan ikut opsi menentang kenaikan
BBM.
Dari
partai koaslisi sendiri, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan tegas menolak
kenaikan BBM dan sebagian politikus Golongan Karya. Partai berkuasa pun
menganggap mereka yang berada dalam koaslisi dan tidak mendukung pemerintah
dianggap sebagai penghianat dan mereka harus siap menerima konsekuensi dengan
akan ditariknya perwakilan mereka di kabinet. Di antara partai yang mendukung
kenaikan BBM adalah Partai demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan
Pembangunan, dan Partai Bulan Bintang. Sedangkan partai yang menolak kenaikan
BBM adalah Partai Keadilan Sejahtera, Partai Demokrasi Perjuangan, Partai
Gerindra, Parta Hanura, dan beberapa partai. Sedangkan di kedua belah pihak ada
Partai Golongan Karya,s ebagian menerima dan sebagian menolak.
Dari
komposisi partai yang mendukung dan menolak, tentu partai yang mendukung
kenaikan di atas kertas mempunyai suara lebih banyak ketimbang suara partai di
luar yang tidak setuju dengan kenaikan, di luar perhitungan partai Golongan
Karya. tapi kalau dirasionalkan untuk sementara dengan sebagian dukungan partai
Golongan karya yang mendukung, maka suara koalisi lebih banyak ketimbang dengan
partai politik yang menolak kenaikan BBM. Ini juga kalau pada hari ini tidak
dapat diputuskan, apakah BBM harus naik atau tidak, maka voting akan dilakukan
di Senayan.
Namun
segala sesutau dapat berubah pada saat-saat ini, di mana ini menjadi peluang
dan waktu yang tepat untuk melakukan pencitraan politik dan mendapatkan
dukungan oleh masyarakat. jika Partai Golongann Karya mengambil kebijkan tetap
memberikan toleransi kepada kadernya yang di Senayan untuk memilih dua opsi,
maka yang mendukung kenaikan BBM bisa dipastikan akan menang. Tapi jika fraksi
partai Golongan Karya menjadi satu suara, kalau mendukung, secara otomatis
partai koaslisi menang, tapi jika suara partai Golongan karya semua menolak
kenaikan BBM, maka besar kemungkinan hasil voting akan dimenangkan oleh
partai-partai yang menolak kenaikan BBM.
Sampai
saat ini belum ada kepastian yang jelas kemana arah kebijakan politik Partai
Golongan Karya. Orang-orang juga masih menunggu dan berharap partai Golongan
karya dapat membela rakyat miskin untuk tidak sepakat dan mendukung kenaikan
BBM. Tapi dengan mendua hatinya politikus Golongan karya di Senayan membuat
orang semakin penasaran dan deg-degan. Antara harapan dan kekecewan adalah dua
opsi yang pasti salah satunya akan terjadi dan drama yang menegangkan dalam
beberajam jam mendatang.
Tags
RENUNGAN QAILULAH