GAS AIR MATA vs BATU


Demonstrasi kenaikan BBM yang terjadi hari-hari ini membuat suasana perkantoran, mulai dari istana presiden sampai kantor DPRD kabupaten dijaga ketat oleh kepolisian, menyusul  demonstrasi yang dilakukan mahasiswa menuntut dibatalkannya kenaikan BBM dan meminta komitmen dari anggota dewan untuk mendukung mereka.
Tidak hanya sekedar perkantoran menjadi tujuan demonstrasi massa, tapi temapt-tempat umum yang menjadi fasilitas public juga berusaha untuk dikuasai dan dilumpuhkan, seperti jalan raya, bandara, dan bahkan pelabuhan.
Melihat keadaan seperti itu, polisi yang menjadi pengaman berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghalau para demostran agar tidak merusak kepentingan public dan menggangu pelayanan public. Beberapa usaha peringatan terus diteriakkan oleh polisi, tapi semangat yang berkobar-kobar dari jiwa-jiwa muda yang ingin bebas dan memberontaks erring tidak menghiraukan arahan dan anjuran polisi. Bahkan mereka membuat olok-olokkan kepada polisi dan melaukukan gertakan-gertakan untuk memicu kemarahan polisi.
Memang polisi dalam melakukan pengamanan terhadap aksi demosntrasi tidak boleh melakukan kekerasan. Mereka hanya cukup memberikan keamanan dan menjamin keamanan bagi para demonstran. Perlengkapan yang diberikan pun cukup dengan tameng dan tongkat untuk menghalau jika ada demosntran yang ingin berbuat macam-macam. Tidak boleh menggunakan senjata walaupun senjata dengan peluru karet, karena itu akan mencederai dan meluakai demosntran, kalaupun tidak sampai mematikan.
Tapi kadang-kadang emosi yang meluap-luap dari para demonstran membuat mereka gelap mata. Apalagi jumlah mereka yang jauh lebih banyak dari polisi, tentu menguntungkan mereka. Dalam keadaan seperti itu,s erring kemudian para demontran membawa tongkat dan bebatuan untuk melakukan perlawanan polisi. Paling sering digunakan oleh para demsntran adalah batu, akrena lebih simple dan dapat ditemukan di mana saja. Dan kekuatan batu lebih baik daripada tongkat, karena dengan melempar sembarangan saja, dapat mencederai polisi, kalapun mereka menggunkan tameng dan tongkat.
Jika para demosntran sudah menggunakan batu, maka polisi tidak dapat berbuat apa-apa dengan tameng dan tongkat. Mereka hanya dapat bertahan di tempat, untuk maju mengandung resiko lebih besar terkena lemparan batu dari para demonstran. Apalagi jumlah mereka yang lebih banyak dari personel polsi, bias-bisa nyawa melayang atau paling tidak menginapa di instalasi darurat. Dalam konsidi seperti itu, tidak ada cara lain untuk melawan mereka kecuali dengan ikut melempar mereka, tapi tak seberapa lemparan yang dapat mereka lakukan. Dengan membalas lemparan juga sedikti dapat mencederai para demosntran, maka cara yang paling aman sering dilakukan polisi adalah dengan menembakkan gas air mata dan menyiramkan air.
Dengan gas air mata, sedikit lebih aman, karena hanya memberikan efek perih saja pada mata demonstran dan ini terlihat lebih efektif untuk memukul mundur para demosntran. Tidak dengan air semprotan dengan jumlah yang lebih besar tapi efeknya tidak terlalu besar. Bahkan dengan semprotan air,para demosntran mendapatkan tenaga lebih, apalagi tempat demosntrasi pada cuaca terik, wallapun semprotan sedikit agak keras dan menyakitkan badan kalau terkena secara langsung.
Namun lebih banyak dengan serangan batu dapat mencederai siapa saja, termasuk polisi. Sedangkan gas air mata tidak menyebabkan cedera kepada para demonstran. Oleh karena itu, demonstrasi dan menyuarakan aspirasi boleh-boleh saja, tapi dengan lebih bijak, dengan otak dan tidak dengan otot. Karena peradaban dunia tidak ditata dengan kekerasan, tapi dengan otak dan pemikiran.
Saya kira tidak aka nada kebencian dari para demonstran dan polisi jika keduanya dapat melakukannya dengan bijak. Tapi para demonstran sebagai orang yang pertama melakukan aksi dan polisi hanya mengamankan saja. Tindakan-tindakan yang membawa kepada anarkisme dapat dihindari oleh para demonstran agar tidak memicu kekerasan yang dilakukan oleh pihak polisi. Sehingga tidak ada pengerusakan fasilitas umum dan tidak ada lemparan batu kepada polisi yang dapat memicu kemarahan, walapun hanya untuk bermain-main apalagi untuk memancing emosi polisi. Jika itu tidak dilakukan, maka polisi sebagai pihak kedua yang bertugas menjaga keamanan saya yakin tidak akan pernaha melakukan hal yang melampui batas dari tuntutan pekerjaan yang diamankan kepada mereka. Tidak ada lemparan batu, maka tidak ada gas air mata.
Damailah negeriku…..!

Weli Arjuna Wiwaha

Hiduplah Untuk Mencintai dan Bukan Untuk Menyakiti

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama