Semenjak
lepas dari instirusi Tentara Nsional Indonesia (TNI), polisi lebih bebas untuk
bergerak untuk melakukan berbagai macam hal untuk mengamankan internal bangsa,
terutama menghadapi masyarakat dengan berbagai permasalahan. Lepasnya polri
dari induk TNI memang terjadi setelah tumbang masa orde baru oleh masyarakat
yang melakukan demosntrasi besar-besaran dan menduduki kantor-kantor vital
pemerintah.
Semenjak
reformasi, berbagai permasalahan selalu diakhiri dengan demonstrasi dan
anarkisme dari pihak-pihak yang puas dengan kebijakan maupun keputusan. Asaz
musyarawarah dan mufakat yang menjadi landasan berpikir masyarakat, sebagaimana
yang tertuang dalam pancasila tidak lagi terlihat dalam perilaku sehari-hari.
Karena
semua masalah lebih banyak diawali dan diakhiri dengan demonstrasi, menjadikan
polri bekerja ekstra dalam melakukan pengamanan dalam negeri. Karena hampir
semua demosntrasi melakukan anarkisme dan paling kecil adalah menghambat
pergerakan ruang publik, seperti pembakaran ban mobil di jalanan yang
menyebabkan fasilitas publik terganggu.
Demosntrasi
saat ini lebih banyak dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa diperguruan tinggi,
mereka berdemostrasi tidak hanya pada tataran akademik saja, tapi hal-hal yang
menjadi ruang publik juga mereka demosntrasikan. Apakah sekarang suara
wakil rakyat di tangan mahasiswa?.
Bahkan yang lebih lucu lagi adalah demosntrasi yang dilakukan untuk kepentingan
bangsa luar, bukan untuk kepentingan rakyat dalam negeri. Dengan alasan perdamaian
dunia dan simpati, mereka sering demonstrasi di kantor-kantor kedutaan negara
tertentu.
Sebagai
aparat yang mengamankan tentu polisi bekerja hanya untuk mengamankan dan bukan
sebaliknya membuat sebuah keributan baru. Apalagi dengan menggunakan kekuatan
senjata yang dapat mematikan dan membuat cacat anggota badan. Kecuali dalam
keadaan yang sangat darurat dan mengancam nyawa dan merugikan rakyat yang lebih
besar. Maka tindakan sedikit tegas diperlukan untuk dapat meredakan situasi,
taruh saja orang-orang yang melakukan keributan dengan kekerasan, maka
menghentikannya dengan sedikit kekerasan juga menjadi hal yang sangay wajar.
Tapi
yang paling banyak menjadi pekerjaan polisi saat ini adalah aksi protes dan
demosntrasi yang sering dilakukan oleh mahasiswa dan masyarakat. dengan
berbagai macam motiv dan keinginan, mulai dari mencari keadilan sampai pada
hanya urusan internal yang sebenarnya mdreka dapat selesaikan sendiri.
Kran
kebebasan untuk mengeluarkan pendapat oleh setiap warga sepertinya terlalu
kebablasan, sehingga dari hal yang sangat sepele sampai pada masalah besar
didemosntrsikan. Padahal bangsa ini terkenal dengan keramahtamahan dan
kelembutannya, dan sikap yang mementingkan musyawarah dan mufakat. Mualai dari
sabang samapi dengan ujung timur Indoensia, tidak henti-hentinya aksi demosntrasi,
apalagi di kota-kota besar seperti Ibu Kota Jakarta yang menjadi pusat segala
kebijakan secara nasional yang konsekuensinya juga kepada daerah.
Semua
aksi yang dilakukan oleh masyarakat dalam bentuk demonstrasi hampir semuanya
berujung pada aksi anarkis, merusak fasilitas umum, dan bahkan yang paling
parah adalah menutup akses publik untuk melaukan kegiatan. Padahal mereka
sering melakukan demosntrasi untuk “memperjuangkan” hak-hak rakyat, tapi secara
tidak sadar mereka telah menjadi beban bagi masyarakat dan merugikan masyarakat
sendiri. Sehingga banyak juga yang mempertanyakan orosinalitas demonstrasi
mereka, bahkan terkesan sebuah pesanan beberapa orang untuk tujuan politis
tertentu atau kepentingan lainnya.
Semua
aksi demonstrasi tentu harus mendapat izin dari kepolisian, sehingga polisi
dapat mengawal dan menjaga aksi mereka tetap aman dan rapi. Polisi sangat tidak
berkeberatan dengan aksi yang dilakukan oleh masyarakat, karena secara tidak
langsung juga memberikan efek keuntungan bagi keluarga mereka dan sanak saudara
mereka. Taruh saja seperti domonstrasi BBM yang saat ini menjadi isu nasional
dan menjadi bahan protes semua elemen masyarakat, baik di pusat maupun di
daerah. Mau tidak mau juga akan menguntungkan mereka, apalagi mereka secara
nasional adalah rakyat indonesia juga yang tidak jauh berbeda dengan lainnya,
hanya saja mereka mempunyai tugas untuk memberikan keamanan bagi masyarakat dan
pelayan mereka. Sehingga mereka akan sangat senang apabila semua demonstrasi
dapat dilakukan dengan baik dan rapi, tidak menimbulkan permsalahn yang lebih
besar dan merugikan polisi dan masyarakat sendiri.
Tapi
sering apa yang diinginkan oleh polisi dan pemerintah dari aksi demosntrasi
mereka tidak sesuai dengan kenyataan. Pada saat mereka tidak mendapatkan
sedikit waktu untuk memnuhi keinginan mereka seperti bertemu dengan pejabat
tertentu, tanpa mempertimbangkan hal-hal yang baik dan buruknya, mereka
langsung saja melakukan aksi anarkis, seakan-akan permasahan bisa diselesaikan
dengan kekuatan fisik, yang lebih kuat maka mereka yang menang. Seakan-akan
kehidupan dunia tidak mempunyai aturan yang jelas dalam mengatur kehidupan
manusia. Jika sudah seperti itu, maka kebudayaan manusia purba kembali lagi
pada masa yang sudah sangat modern ini.
Kekerasan
memang tidak dapat menyelesaikan masalah, tapi pada saat polisi menghadapi aksi
demonstrasi dan berujung pada aksi anarkis, maka sering menjadi dilema bagi
polisi untuk mengambil sebuah tindakan. Karena mereka terikat oleh aturan dan
perintah secara struktural. Jika tidak ada isntruksi dari pimpinan yang lebih
tinggi untuk melakukan hal yang lebih, mereka juga tidak dapat melakukan
apa-apa. Sampai jika mereka harus kehilangan tameng untuk menjaga diri dari
aksi anarkis dan hanya bertahan, tentu nyawa mereka yang akan menjadi taruhan.
Apakah harus memberikan nyawa dengan begitu saja kepada mereka yang melakukan
aksi anarkis, atau haru melawan untuk menjaga diri dari luka atau lebih parah
lagi dari kematian.
Pada
saat mereka bertahan dengan keadaan yang ada, mereka semakin senang dan bahkan
mengejek-ejek polisi dan menganggap tidak mempunyai kekuatan menghadapi sikap
anarkis mereka. Sehingga tidak jarang kemudian polisi menjadi korban, dan yang
menderita juga adalah keluarga mereka yang secara tidak langsung merupakan
bagian dari masyarakat. tapi pada saat mereka melawan, dalam banyangan mereka
selalu dihantui dengan pelanggaran HAM dan mematikan suara rakyat.
Inilah
yang terjadi selama ini di negara yang tercinta, demokrasi dengan kebebasan
berbicara untuk mendapatkan keadilan melalui hukum yang tidak memandang bulu
sering tidak berjalan dengan baik, dan bahkan hukum rimba menjadi salah satu
hukum yang paling efektif untuk menyelesaikan masalah. Hanya melihat
kebahagiaan sesaat dan untuk segelintir orang dan tidak melihat kepentingan yang lebih besar dan
mudarat yang akan timbul lebih besar.
Mudah-mudahan
masyarakat kita semakin dewasa dalam mengeluarkan aspirasi, dengan tidak
mengorbankan siapa pun apalagi aparat keamanan yang mana mereka juga bagian
dari masyarakat, tapi mereka hanya mempunyai tugas untuk mengamankan keamanan
negara. Apapun alasannya tidak ada pembenaran terhadap kekerasan, karena
kekerasan tidak akan pernah membawa kebaikan yang lebih besar, bahkan
mudaratnya jauh lebih besar, karena akan menimbulkan dendam yang berkepanjangn
dalam diri individu yang dirugikan. Semoga rakyat kita lebih dewasa dan
penguasa kita lebih adil. Amin.
Tags
RENUNGAN QAILULAH