Memang kanaikan semua
barang jika harga BBM naik menjadi sebuah alternative yang logis. Akrena hamper
semua lini kehidupan masyarkat Indoensia saat ini tidak terlepas dari kebutuhan
akan BBM. Taruh saja seperti makanan, mau tidak mau juga harus menaikkan harga
makanan mereka. Karena makanan mentah yang mereka olah diangkut dengan jasa
kendaraan yang menggunakan BBM, maka sangat tidak masuk akal kemudian makanan
yang sudah jadi pun ikut naik. Karena kost bertambah, maka harga jual pun
bertambah.
Tapi yang sangat
menyedihkan adalah masyarakat yang berada di pelosok desa. Mungkin tidak
berpengaruh secara langsung karena mereka tidak sebagai pengguna BBM yang aktif
seperti masyarkat knta. Mereka untuk melakukan pekerjaan cukup dengan jalan kaki
atau dengan jasa kuda, tapi mereka yang berada di kota, mobilisasi mereka
bertopang pada BBM. Itu jika dilihat dari pemakainan BBM secara langsung. Tapi secara
tidak langsung dengan kenaikan harga BBM, maka kebutuhan makan dan belanja
masyarakat menajdi lebih tinggi. Taruh saja seperti harga beras, cabe, gula,
garam, dan lain sebagainya, sedangkan penghasilan masyarakat tidak berubah. Tidak
naik harga BBM saja mereka sudah sangat sengsara dengan harga kebutuhan pokok,
apalagi setelah kenaikan harga BBM, semakin membuat mereka harus makan dengan
seadanya. Untuk mendapatkan uang Rp.1000 pun sangat susah, lain halnya dengan
orang-orang kota, dengan keringat yang lebih sedikit, namun dapat menghasilkan
uang lebih banyak.
Tidak semua masyarakat
kita saat ini yang mempunyai tanah sendiri. Orang-orang kota bahkan lebih
banyak yang menjadi pemilik tanah di desa-desa, karena mereka mampu untuk
membeli tanah. Dengan keadaan seperti itu, dari mana masyarakat akan
mendapatkan penghasilan. Kebayakan mereka saat ini menjadi hamba di kampong sendiri,
dan paling tinggi menjadi buruh tani dari majikan-majikan mereka di kota.
Yang lebih parah lagi
dari kenaikan BBM adalah tidak diambanginya dengan kegutuhan-kebutuhan yang
lain pada saat BBM turun. Kita sangat tahu betul bagaimana harga kebutuhan naik
dari waktu ke waktu. Dulu harga Beras hanya Rp. 500 sekarang sudah mencapai Rp.
6000. Kenaikan BBM yang direncanakan pemerintah pada dasarnya kan membunuh
secara perlahan masyarkat di negeri ini. Pemerintah tidak akan pernah bias memantau
hal yang lebih kecil dari persoalan besar BBM.
Janjinya, kenaikan BBM
hanya untuk sementara menyelamatkan keoknya APBN. Tapi dengan kenaikan BBM yang
sementara itu, membuat hal-hal yang lain tidak menajdi sementara. BBM bias turun,
dan bahkan mungkin bias di bawah harga sekarang, tapi siapa yang bias menjamin
dengan turunnya harga BBM akan membuat harga yang lain juga akan turun. Makanan
yang dengan kenaikan sementara BBM, menjadikannya ikut naik, tapi pada saat
turun tidak akan mungkin bias turun lagi. Begitu juga dengan barang-barang
lainnya, inilah yang akan lebih menyusahkan rakyat, sehingga kemampuan mereka
untuk bertahan semakin menipis.
Seyogyanya dan sangat
arif jika kenaikan BBM memang tidak dilakukan pemerintah, karena pemerintah
tidak dapat mengontrol harga-harga yang lain. Karena pasar tidak ditentukan
oleh pemerintah, tapi pasar sangat ditentukan oleh pelakunya yang ada di dalam.
Saya kira banyak opsi lain yang bias dilakukan oleh pemerintah untuk bias bertahan
dan mengolah APBN dengan sebaik mungkin. Sebagaimana tawaran dari pihak-pihak
lain, dengan rasionalisai keuangan Negara yang sudah mereka pikirkan dengan
matang. Semoga pemerintah dapat bersikap dengan bijak dan arif.
Tags
RENUNGAN QAILULAH